Onetime.id, Bandar Lampung – Langit belum sepenuhnya reda dari riuh percakapan media sosial ketika sebuah potongan video pidato Presiden beredar cepat, memantik tafsir yang beragam.
Di tengah kegaduhan itu, Ketua DPRD Lampung, Ahmad Giri Akbar, memilih berjalan lebih pelan mengajak publik melihat utuh, bukan sekadar sepotong.
Dalam sebuah ruang podcast sederhana bersama IJP Lampung, Selasa siang itu, Giri tak sekadar menjawab isu.
Ia seperti sedang menenangkan kegelisahan yang diam-diam tumbuh di tengah masyarakat desa.
Baginya, kalimat Presiden Prabowo Subianto tentang warga desa yang “tidak pakai dolar” bukanlah pernyataan yang berdiri sendiri.
Ada konteks panjang hampir satu jam pidato yang bicara tentang arah ekonomi bangsa, tentang desa sebagai denyut nadi yang tak boleh kehilangan harapan.
“Kalau dipotong, maknanya bisa hilang,” ucap Giri, pelan namun tegas.
Ia percaya, di balik narasi besar pembangunan nasional, desa tetap menjadi halaman pertama yang harus dibaca. Dari sana, optimisme tumbuh pelan, tapi nyata.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan KDMP, menurutnya, bukan sekadar proyek, melainkan cara negara menyapa rakyatnya di akar paling bawah.
Di sela-sela ceritanya, Giri mengingat kembali kunjungan-kunjungan ke desa. Tiga kali ia turun langsung.
Menyusuri jalan tanah, berbincang dengan petani, melihat gudang pupuk yang kini tak lagi kosong seperti dulu.
“Ada rasa lega sekarang,” katanya.
Harga pupuk mulai terkendali. Stok tersedia. Sesuatu yang dulu sering menjadi keluhan, kini perlahan berubah menjadi harapan.
Namun Giri tak menutup mata. Ia tahu, ada kegelisahan lain yang tumbuh tentang ekonomi yang terasa berbeda, tentang daya beli yang diuji zaman.
Tapi di tengah itu, ia melihat tanda-tanda kecil yang bertahan motor baru di halaman rumah, mobil yang mulai terparkir di gang-gang desa.
“Artinya, masyarakat masih bergerak,” ujarnya.
Ia juga menyebut angka inflasi Lampung yang rendah, 1,89 persen.
Bukan sekadar statistik, tapi penanda bahwa dapur-dapur rumah tangga masih bisa mengepul dengan tenang.
Ada kerja bersama di sana pemerintah daerah, Satgas Pangan, hingga Bank Indonesia yang menjaga agar harga tak melonjak liar.
Bagi Giri, pembangunan memang tak selalu tentang lonjakan tinggi.
Kadang, ia tentang memastikan semua orang ikut berjalan, meski perlahan.
“Ekonomi bisa dibuat merata, tapi tidak bisa langsung tinggi sekaligus,” katanya, seperti sedang mengingatkan bahwa proses selalu punya waktunya sendiri.
Di ujung perbincangan, nada suaranya berubah lebih dalam.
Ia bicara tentang masa depan, tentang Lampung yang ingin punya kawasan industri, tentang tahun 2027 yang diharapkan bukan sekadar angka dalam dokumen RPJMD, tapi benar-benar terasa di kehidupan masyarakat.
Dan seperti menutup sebuah percakapan panjang, Giri meninggalkan satu kalimat yang sederhana, tapi menggema.
“Kita harus yakin Indonesia sedang di jalur yang benar. Kalau bukan kita yang optimistis, lalu siapa lagi?”
Di luar sana, media sosial mungkin masih riuh. Tapi di desa-desa, harapan tetap tumbuh diam-diam, seperti benih yang percaya pada musim.






