Onetime.id, Bandar Lampung – Ruang Ballroom Hotel Radisson siang itu tidak riuh oleh tepuk tangan panjang. Tidak juga dipenuhi jargon-jargon ekonomi yang biasa terdengar dalam pelantikan organisasi.
Yang terasa justru sebaliknya menjadi hening.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berdiri di podium pada pelantikan DPW GAPEMBI Lampung, Selasa (20/5/2026), tanpa membuka dengan angka, tanpa bicara target produksi. Ia memilih satu ayat pendek.
Tentang lapar. Tentang rasa aman.
Tentang tanggung jawab yang paling mendasar sebagai pemimpin.
Ia mengutip Surah Al-Quraisy ayat 3 dan 4:
falya‘budû rabba hâdzal-baît
“maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah)”
alladzî ath‘amahum min jû‘iw wa âmanahum min khaûf
“yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.”
Sejenak, ruangan itu seperti ditarik ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Orang-orang tidak sekadar mendengar, mereka menyimak.
Tidak ada kalimat yang tinggi. Tidak ada nada yang meninggi. Tapi justru di situ letak tekanannya.
“Ini bukan amanah ringan,” ucapnya pelan.
“Tapi dengan kolaborasi, saya percaya GAPEMBI bisa memberi dampak nyata.”
Bagi Mirza, pangan bukan sekadar urusan perut. Ia adalah soal martabat. Soal bagaimana negara hadir melalui makanan, melalui rasa aman.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia dorong bukan hanya bicara gizi anak sekolah. Lebih jauh, ia ingin dapur-dapur itu menjadi denyut ekonomi desa.
Lebih dari seribu dapur telah berdiri. Tapi Mirza tidak melihatnya sebagai angka capaian.
Ia melihatnya sebagai simpul kehidupan.
Namun di balik itu, ia juga mengingatkan satu ironi yang kerap luput, bahan pangan dari desa justru berputar ke kota, lalu kembali dengan harga lebih mahal.
“Jangan sampai dapur desa bergantung pada kota,” tegasnya.
“Kalau begitu, efek ekonominya hilang.”
Ajakan itu sederhana. Tapi terasa seperti cermin.
Bahwa kemandirian bukan sekadar konsep, melainkan keberanian untuk memutus rantai ketergantungan.
Beberapa hari sebelumnya, suasana yang serupa juga terasa.
Di pelantikan Pengurus Wilayah ISPI Lampung, Sabtu (9/5/2026), Mirza juga tidak memilih pendekatan yang berbeda. Ia kembali bercerita.
Tentang kisah lama. Tentang Habil dan Qabil.
Ia tidak mengisahkan sekadar sejarah. Ia mengajak hadirin memahami pilihan paling mendasar dalam hidup memberi yang terbaik, atau sekadarnya.
Habil mempersembahkan yang terbaik, lalu diterima. Qabil memberikan yang terburuk, lalu ditolak.
Dari sana lahir kecemburuan. Dari kecemburuan, sejarah mencatat pembunuhan pertama manusia.
Mirza tidak menggurui. Ia hanya menaruh cermin di depan para hadirin.
Bahwa dalam setiap kerja termasuk peternakan yang diuji bukan hanya hasil, tetapi niat. Pesan itu terasa pelan. Tapi justru karena pelan, ia menetap.
Di tengah dunia yang sering terjebak pada angka dan kuantitas, Mirza seperti mengingatkan bahwa kualitas adalah soal kejujuran batin.
Dua panggung, dua forum berbeda.
Namun satu cara yang sama: menyentuh, bukan sekadar menyampaikan. Di ISPI, ia bicara tentang niat dan kualitas.
Di GAPEMBI, ia bicara tentang pangan dan kemanusiaan. Keduanya bertemu pada satu titik: tanggung jawab.
Dan mungkin, di situlah letak kepemimpinan yang jarang terlihat bukan pada seberapa keras suara menggema, melainkan pada seberapa dalam ia meresap.
Karena pada akhirnya, yang diingat bukan hanya apa yang dikatakan.
Tetapi bagaimana seseorang membuat orang lain merasa tentang lapar, tentang takut, dan tentang harapan yang ingin dijaga bersama.






