Bang Sani, Pesan Pagi yang Menjaga Arah

MD. Rizani bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Dok: Ist.

Onetime.id, Bandar Lampung – Pagi itu dimulai dengan hal-hal sederhana memandikan burung, memberi makan, lalu menjemurnya di bawah cahaya yang mulai hangat.

Di tengah ancaman musim kering dan isu El Nino yang kerap dibicarakan, ada rasa ingin menjaga merawat makhluk kecil itu seperti merawat diri sendiri.

Sebab, mungkin yang membedakan kita dengan mereka hanya soal insting selebihnya, sama-sama butuh perhatian dan kasih.

Secangkir kopi hitam menemani. Telur setengah matang, diseruput perlahan bersama kopi khas Lampung Barat yang pahitnya jujur.

Dalam diam, hati berbisik lirih, mengulang ayat yang entah sejak kapan terasa begitu dekat “Fabiayyi aalaa’i Rabbikuma tukadzdzibaan.” Nikmat mana lagi yang hendak didustakan?

Lalu telepon itu berdering.

Dari seberang sana, bukan sekadar kabar tapi semangat. Datang dari kawan seprofesi, juga dari sosok-sosok yang selama ini hanya dikenal lewat ruang akademik dan gelar panjang.

Namun, satu nama terasa paling dekat seorang senior kampus, yang bagi saya bukan hanya tempat bertanya, tapi juga tempat pulang ketika pikiran mulai lelah.

Kami memanggilnya Bang Sani.

Ia bukan tipe yang banyak bicara, tapi setiap ucapannya terasa terukur. Tegas, cekatan, dan tak tergesa dalam mengambil keputusan.

Kadang ia membenarkan, kadang ia membantah. Tapi satu yang pastia selalu berdiri di pihak kebenaran, meski itu tidak populer.

Di sela kesehariannya, ia merawat bonsai bukan sekadar hobi, tapi kesabaran yang dipelihara bertahun-tahun.

Dari situ, mungkin ia belajar bahwa membentuk sesuatu termasuk manusia tak bisa instan. Harus pelan, harus telaten.

Di lingkaran Bikers Shubuhan, Bang Sani dikenal sebagai “awalun” yang lebih dulu berjalan, dan tetap istiqomah di jalannya.

Ia tidak banyak mengajak dengan kata-kata besar, tapi dengan contoh yang sederhana: hadir, konsisten, dan menebar kebaikan.

Pernah suatu waktu, saat arah terasa kabur, ia hanya mengirim satu pesan pendek.

“Robbisrohli sodri, wayassirli amri, wahlul ‘uqdatammil lisani yafqohu qouli.”

Tak panjang, tapi cukup untuk menenangkan. Seolah mengingatkan bahwa yang perlu dilapangkan bukan jalan di luar sana, tapi dada di dalam diri.

Hampir setiap pagi, pesan-pesan seperti itu datang. Ringkas, tapi menguatkan. Tentang niat yang harus diluruskan.

Tentang keyakinan bahwa Tuhan bersama mereka yang bertahan dalam ketakutan dan ketertindasan.

Dan dari sana, saya belajar bahwa dalam hidup, kadang yang kita butuhkan bukan jawaban panjang. Cukup satu orang yang mengingatkan kita untuk tetap berjalan.

Senantiasa apa yang diberikan, nasihat yang ditanam menjadi ibadah abang.

Yakin Usaha Sampai tum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *