Onetime.id, Bandar Lampung – Pagi itu, suasana di salah satu sudut Kota Bandar Lampung terasa berbeda.
Bukan hanya karena gema takbir Iduladha yang masih terasa, tetapi juga karena keramaian warga yang mulai berdatangan sejak matahari belum sepenuhnya meninggi.
Di halaman sederhana tempat penyembelihan, aktivitas sudah dimulai. Sejumlah pria tampak sibuk menyiapkan peralatan, sementara yang lain saling berbagi tugas.
Di sisi lain, ibu-ibu berdiri berkelompok, berbincang pelan, sesekali melirik ke arah proses penyembelihan. Anak-anak berlarian, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
Di tengah suasana itulah, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bandar Lampung melaksanakan pemotongan hewan kurban.
Tahun ini, sebanyak 12 ekor kambing disembelih dan disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Namun, bagi warga yang hadir, peristiwa ini bukan sekadar tentang angka bukan sekadar 12 ekor kambing.
Ini tentang momen yang jarang datang dua kali dalam setahun. Tentang rasa kebersamaan yang perlahan tumbuh dari hal-hal sederhana menunggu bersama, bekerja bersama, hingga menerima dengan penuh syukur.
“Setiap tahun kami berupaya untuk bisa berbagi. Tidak hanya sebagai bentuk ibadah, tapi juga untuk mendekatkan diri dengan masyarakat,” ujar Ketua DPD PSI Bandar Lampung Randy Adytia Gumay Gumanti di sela-sela ia menyampaikan dengan terharu Qurban tahun ini bisa meningkat.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi di lapangan, maknanya terasa nyata.
Para kader partai tidak hanya hadir sebagai penyelenggara, melainkan ikut terlibat langsung mulai dari proses penyembelihan, pemotongan daging, hingga pembagian kepada warga.Gotong royong menjadi pemandangan utama hari itu. Tanpa sekat antara kader partai dan masyarakat, semua bekerja dalam ritme yang sama.
Daging kurban kemudian dibungkus dalam kantong-kantong plastik dan didistribusikan secara merata.
Warga yang menerima tampak sumringah. Bagi sebagian dari mereka, daging kurban mungkin bukan sesuatu yang mudah didapat setiap hari.
Seorang ibu paruh baya tampak menggenggam erat kantong daging yang baru diterimanya.
Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum senyum yang mungkin sulit diterjemahkan dengan kata-kata, tetapi cukup untuk menggambarkan rasa syukur.
Di sisi lain, anak-anak masih berlarian, seolah menjadikan momen itu sebagai perayaan kecil mereka sendiri.
Ketua atau pengurus PSI setempat menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam konteks politik, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, Iduladha adalah momentum yang tepat untuk menguatkan nilai keikhlasan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama nilai yang seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata.
“Kami ingin memastikan bahwa keberadaan kami benar-benar dirasakan, terutama oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa seluruh hewan kurban yang disembelih telah melalui pemeriksaan dan dalam kondisi sehat serta layak konsumsi, sehingga aman untuk dibagikan kepada masyarakat.
Lebih jauh, kegiatan ini bukan hanya tentang distribusi daging, tetapi juga tentang membangun kedekatan emosional.
Tentang bagaimana sebuah partai politik mencoba hadir dalam wajah yang lebih manusiawi.
Di tengah persepsi publik yang sering kali memandang politik sebagai sesuatu yang jauh, kaku, dan penuh kepentingan, momen seperti ini justru menghadirkan sisi lain politik yang menyapa, yang menyentuh, dan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Hari itu, mungkin tidak semua warga mengingat siapa yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Namun, mereka akan mengingat bagaimana rasanya berkumpul, berbagi, dan merasa tidak sendirian.
Dan di antara hiruk-pikuk pembagian daging kurban, terselip satu hal yang sulit diukur rasa percaya yang perlahan dibangun, dari hal kecil yang dilakukan dengan tulus.
Karena pada akhirnya, bagi sebagian orang, makna kurban bukan hanya pada apa yang disembelih, tetapi pada siapa yang disentuh.






