Kepergian Fathullah, Lampung Kehilangan Penjaga Nada “Tanoh Lado”

Ilustrasi

Onetime.id, Bandar Lampung –  Sebuah kabar duka datang dari Jakarta pada Rabu, 22 Juli 2026. Fathullah bin Syahbudin, pencipta lagu legendaris “Tanoh Lado” yang telah puluhan tahun menjadi identitas musikal masyarakat Lampung, meninggal dunia pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Harapan Bunda pukul 14.47 WIB.

Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di kediamannya di Jalan Kampung Baru Nomor 16, RT 10/02, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur.

Namun, kepergian Fathullah tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Lampung kehilangan satu lagi penjaga ingatan kolektifnya.

Bagi Awalun Bikers Subuhan, MD. Rizani, wafatnya Fathullah merupakan kehilangan besar bagi dunia kebudayaan Lampung.

Menurutnya, sosok Fathullah tidak sekadar dikenal sebagai pencipta lagu daerah, melainkan seorang yang memilih merawat identitas Lampung melalui nada dan lirik.

“Innalillahi wa innailaihi raji’un. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Lampung kehilangan seorang yang selama hidupnya menjaga kebudayaan melalui karya yang akan terus dikenang,” ujar Rizani sambil mengunggah video kesederhanaannya sehari-hari via status Whatsapp pada Rabu, (22/7/2026).

Di mata Rizani, “Tanoh Lado” bukan sekadar lagu. Karya itu telah menjelma menjadi ruang pertemuan antara masyarakat Lampung dengan kampung halamannya.

Lagu tersebut menggambarkan bentang alam, keberagaman suku, adat istiadat, bahasa, hingga aksara Kaganga yang menjadi warisan budaya masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai.

Tak mengherankan jika lagu itu terus berkumandang dalam acara adat, kegiatan pemerintahan, hingga berbagai momentum penting di Lampung.

Bagi banyak orang, “Tanoh Lado” adalah suara yang membangkitkan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.

Rizani menilai, Fathullah memahami bahwa kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui pidato atau buku sejarah.

Ada kalanya budaya hidup melalui lagu yang dinyanyikan berulang-ulang, hingga liriknya melekat dalam ingatan lintas generasi.

“Beliau membuktikan bahwa sebuah karya mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Selama lagu-lagunya tetap dinyanyikan, selama itu pula kecintaan terhadap Lampung akan terus diwariskan,” katanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, karya-karya Fathullah menjadi pengingat bahwa identitas daerah bukan sesuatu yang usang.

Justru di situlah akar sebuah masyarakat tumbuh dan menemukan jati dirinya.

Kini, Fathullah memang telah berpulang. Namun nada yang ia ciptakan tak ikut berhenti.

Setiap kali “Tanoh Lado” dinyanyikan, masyarakat Lampung akan kembali diingatkan pada tanah yang kaya akan adat, bahasa, dan kebudayaan.

Sebab, bagi seorang seniman, keabadian bukan terletak pada usianya, melainkan pada karya yang terus hidup di hati masyarakat.

Selamat jalan om Fath, karyamu akan dikenang sepanjang masa. Terimakasih om Fath.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *