Onetime.id, Bandar Lampung – Malam itu udara turun hingga sekitar 23 derajat Celsius. Di sebuah sudut UGM Garage, Cempaka Putih, Lampung, obrolan mengalir pelan ditemani secangkir kopi Warta Kopi milik Gus Lee.
Agenda yang dibahas terdengar sederhana membersihkan pantai di Lampung Selatan pada keesokan harinya Jumat, (24/7/2026).
Di meja itu duduk beberapa orang. Ada Ajo Fidla, Awalun Bikers Subuhan MD Rizani, Ahi Kohar, dan burung murai, kacer dan bonsai.
Sesekali tawa memecah suasana, tetapi pembicaraan kembali mengerucut pada satu hal bagaimana mengajak lebih banyak orang peduli terhadap laut dan lingkungan.
Tak lama kemudian, telepon video dari Ketua DPC Partai Demokrat Lampung Selatan, Muhammad Junaidi, masuk melalui WhatsApp. Sapaan singkatnya terdengar akrab.
“Sudah siap ya, Dan?”
Jawabannya pun ringan.
“Iya dong, Bung. Besok kita bersih-bersih pantai.”
Percakapan malam itu lalu berubah menjadi lebih cair ketika Bung Adi melontarkan gurauan.
Dengan nada khasnya, ia mengaku sejak lama belum juga mendapatkan rompi Bikers Subuhan. Candaan itu disambut tawa.
“Member dulu, Bung. Ikut Subuhan bareng dulu,” sahut seseorang. MD Rizani hanya tersenyum mendengar percakapan itu, seolah menikmati keakraban yang tumbuh tanpa sekat.
Di balik candaan tersebut, tersimpan kisah yang lebih dalam.
Muhammad Junaidi dan MD Rizani berasal dari jalan perjuangan yang sama. Keduanya pernah ditempa dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang identik dengan warna hijau dan hitam.
Bedanya, yang satu kini memimpin partai politik di tingkat kabupaten, sementara yang lain tetap dikenal sebagai aktivis yang konsisten menggerakkan kepedulian sosial.
Bagi MD Rizani, kegiatan membersihkan pantai bukan sekadar aksi memungut sampah.
Itu adalah cara sederhana merawat hubungan manusia dengan alam sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Menariknya, kegiatan itu memperlihatkan hubungan yang jarang menjadi sorotan seorang murid mengundang gurunya untuk bersama-sama menyukseskan sebuah gerakan sosial.
Tidak ada jarak yang diciptakan oleh jabatan ataupun usia. Yang tampak justru penghormatan kepada sosok yang pernah memberi arah dalam perjalanan berorganisasi.
Di tengah obrolan malam itu, satu pesan MD Rizani kembali terngiang. Menurutnya, politik tidak hanya soal memenangkan kekuasaan.
Politik harus dijalankan dengan cara yang baik, menjunjung etika, dan berpijak pada rasa cinta kepada sesama manusia.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa relevan di tengah iklim politik yang kerap dipenuhi pertentangan.
Kisah seorang murid yang mengundang gurunya untuk membersihkan pantai mungkin bukan peristiwa besar.
Namun, dari peristiwa kecil itulah terlihat bahwa hubungan antargenerasi dapat tetap terawat melalui rasa hormat, kepedulian sosial, dan kesediaan bekerja bersama.
Barangkali, di situlah politik menemukan makna yang paling manusiawi ketika pengabdian kepada masyarakat lebih penting daripada sekadar perebutan panggung, dan ketika seorang murid tetap memuliakan gurunya, meski keduanya kini berjalan di medan perjuangan yang berbeda.






