Onetime.id – 1 Juni 2025 Langit di atas tanah Khagom Mufakat tampak teduh, seolah menyambut diam-diam sebuah perayaan kecil yang tak tercatat dalam kalender nasional.
Angin melintasi rerumputan liar di pinggir jalan desa, menggoyang pelan dahan kenangan dan harapan.
Tak ada barisan drum band. Tak ada panggung megah.
Tapi di satu sudut bumi Kalianda, seorang anak muda menapak pelan, membawa seratus hari dalam sepasang sepatu yang mulai aus oleh jalanan.
Namanya Herman Bangkit.
Ia bukan anak pendeta politik, bukan cucu dari pujangga republik.
Ia lahir bukan dari teriakan demonstrasi, tapi dari kesunyian ruang redaksi yang pengap, dari aroma tinta yang murah, dari layar ponsel yang retak.
Ia menyebut dirinya sebagai “anak pertama” dari rahim media kecil bernama Bongkar Post bukan media besar, tapi cukup untuk menampung idealisme yang kadang tak muat di koran arus utama.
“Aku lahir dari tulisan, bukan dari panggung,” bisik Herman, lirih, seolah takut suaranya mengganggu damai laut Kalianda.
Seratus hari. Bukan waktu yang panjang di dunia yang gaduh.
Tapi dalam hidup seorang jurnalis muda seperti Herman, waktu itu sudah cukup untuk menyaksikan banyak hal bagaimana kebenaran bisa disewa, bagaimana suara bisa dikunci dengan setebal amplop, dan bagaimana pena bisa tumpul sebelum menyentuh nurani.
Ia menuliskannya. Dengan tangan yang gemetar. Dengan mata yang letih tapi jujur. Ia tahu: kadang kebenaran bukan tentang siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang tetap menulis meski dunia menyuruhnya diam.
“Prihatin,” ujarnya, menatap laut yang tenang namun dalam. “Karena banyak suara dibungkam dengan cara paling halus: disuap agar diam.”
Tapi Herman memilih tinggal. Di jalan yang sunyi. Di jalur yang tak menjanjikan nama atau kekayaan.
Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah sumpah diam yang lahir dari ketidakmampuan untuk berpaling.
“Kami bukan takut lelah karena menulis,” katanya lagi. “Kami takut kalau tulisan kami sudah tak berpihak lagi karena lebih dulu dibeli.”
Di balik layar, Herman jadi saksi.
Ia mendengar suara-suara yang tak sempat keluar dari mulut rakyat petani yang gagal panen, nelayan yang kehilangan laut, siswa yang putus sekolah, janda tua yang tinggal dengan angin. Ia merekam mereka.
Satu per satu. Dengan tinta hati, bukan sekadar berita.
Seratus hari tanpa gaji tetap. Tapi kaya cerita. Dan tiap cerita bukan untuk viral, tapi untuk mengingatkan bahwa jurnalisme sejati bukan tambang emas, melainkan ladang nurani.
“Hari Lahir Pancasila ini, bukan seremoni buat kami,” ujar Herman. “Ini pengingat, bahwa kami punya janji kepada nilai-nilai: keadilan, kemanusiaan, keberanian.”
Sore itu, ia mengeluarkan kartu pers dari dompetnya yang usang.
Ia menatapnya lama, seperti seorang petani yang memandangi cangkul tuanya sebelum kembali ke ladang.
“ID card ini bukan tiket ke pesta elite,” katanya pelan. “Ini mandat dari rakyat. Agar kami tetap bersuara.
Herman Bangkit. Namanya belum tercetak di buku sejarah.
Tapi hari ini, pada hari ke-100, ia telah menulis sejarahnya sendiri sejarah sunyi, dari seorang jurnalis muda yang memilih setia pada suara yang tak pernah terdengar.
Selama pena masih menari di ujung jarinya, selama itu pula ia akan terus lahir berulang kali dari rahim yang sama nurani.






