Hujan Halalbihalal, Absensi Birokrasi Berbicara

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sambutan diacara halal Bihalal. Foto: Ist.

Onetime.id, Bandar Lampung – Di bawah rintik hujan yang tak kunjung reda sejak dinihari, halaman Kantor Gubernur di Telukbetung tetap bersolek.

Pada Senin pagi, 30 Maret 2026, Pemerintah Provinsi Lampung menggelar Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah sebuah ritus tahunan yang biasanya menghadirkan kehangatan, juga simbol rekonsiliasi setelah sebulan menahan diri.

Namun pagi itu terasa sedikit ganjil. Sejumlah kursi pejabat tinggi pratama tampak tak berpenghuni.

Wakil Gubernur Jihan Nurlela dipastikan absen. Ia memilih atau lebih tepatnya dijadwalkan membuka Musrenbang Penyusunan RKPD 2027 di Kabupaten Lampung Timur, di Sukadana.

Di sana, agenda pembangunan masa depan mengambil panggung, menggeser seremoni silaturahmi.

Jihan tidak sendiri. Beberapa kepala dinas turut menyertainya dari urusan ketahanan pangan hingga pemberdayaan perempuan.

Sementara itu, di belahan barat provinsi, Kepala Bappeda Anang Risgiyanto bersama sejumlah pejabat lain membagi waktu di dua Musrenbang sekaligus Lampung Barat dan Pesisir Barat.

Seolah hendak menegaskan bahwa kalender birokrasi tak mengenal jeda, bahkan di hari yang mestinya teduh oleh maaf.

Di sisi lain, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang akrab disapa Mirza menapaki jalur yang lebih formal.

Siang harinya, ia dijadwalkan menghadiri penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 2025 di kantor BPK.

Angka-angka, seperti biasa, menuntut ketelitian, bukan sekadar kehadiran.

Adapun Jihan, selepas dari Lampung Timur, akan bergegas menuju gedung DPRD.

Di sana, ia dijadwalkan memberi sambutan dalam rapat paripurna yang membahas hasil kerja panitia khusus atas Laporan Hasil Pemeriksaan BPK.

Sebuah forum yang tak kalah penting membedah ketahanan pangan, menilai kepatuhan BUMD seperti PT Lampung Jasa Utama, hingga menelisik belanja daerah.

Menariknya, forum legislatif itu justru akan dihadiri lebih lengkap para pejabat tinggi pratama hingga unsur Forkopimda.

Sebuah kontras yang halus ketika Halal Bihalal kehilangan sebagian wajah birokrasi, ruang rapat justru dipenuhi kepentingan yang lebih teknokratis.

Barangkali di situlah cermin birokrasi hari ini antara tradisi yang menghangatkan dan agenda yang mendesak.

Di bawah hujan yang turun tanpa jeda, pilihan-pilihan itu berlangsung nyaris tanpa suara namun cukup untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *