KAWIL  

Ramadan di Kampung dan Politik Keheningan

Khutbah Jumat pertama di bulan suci ramadan 1447 H.

Onetime.id, Pesawaran – Suasananya berbeda, tidak riuh seperti kota yang selalu tergesa oleh bunyi klakson dan ambisi.

Siang itu, angin berembus pelan, seolah ikut berpuasa dari kegaduhan. Saya bergegas pulang ke kampung halaman menjemput Ramadan dengan cara yang lebih hening.

Langkah membawa saya ke Masjid An-Nur, Desa Gunung Sugih, Kedondong, Pesawaran, Lampung.

Sebuah masjid yang tak megah dalam ukuran kota, tetapi kokoh dalam ingatan warganya.

Dindingnya mungkin telah beberapa kali berganti cat, memudar oleh panas dan musim, namun fondasinya tetap teguh seperti iman yang dirawat dari generasi ke generasi.

Di mimbar Jumat, seorang khatib muda berdiri tegap. Suaranya jernih, tidak berlebihan, namun mengandung keyakinan.

Tema khutbahnya: enam keistimewaan bulan suci Ramadan.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang datangnya Ramadan sebagai bulan penuh berkah bulan ketika pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan Lailatul Qadar. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia terhalang dari banyak kebaikan.

Khatib itu menuturkan bahwa Ramadan adalah bulan keberkahan barakah yang berarti bertambahnya kebaikan.

Amal dilipatgandakan, doa dilapangkan, dan kesalahan diberi ruang untuk diampuni. Salat tarawih, sedekah, dan ibadah pada malam Lailatul Qadar menjadi jalan sunyi menuju rahmat-Nya.

Ia mengingatkan kewajiban puasa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa, katanya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Ia adalah latihan politik jiwa mengendalikan diri di tengah godaan, menjaga lisan di tengah perbedaan, dan menahan amarah di tengah provokasi.

Di kampung, khutbah seperti ini bukan sekadar ritual.

Ia menjadi pengingat kolektif. Bahwa Ramadan bukan hanya agenda tahunan, melainkan momentum membangun kembali kesadaran tentang disiplin, tentang empati, tentang keadilan sosial yang dimulai dari diri sendiri.

Ketika khatib menyebut Lailatul Qadar malam yang lebih baik dari seribu bulan ia seperti sedang mengajarkan harapan.

Bahwa dalam hidup yang terasa panjang dan kadang melelahkan, selalu ada satu malam, satu kesempatan, yang nilainya melampaui hitungan waktu.

Masjid itu tetap berdiri, sederhana namun bermartabat. Di serambinya, anak-anak berlarian.

Di dalamnya, orang-orang tua menunduk khusyuk. Ramadan mempertemukan semuanya dalam satu saf tanpa jabatan, tanpa gelar.

Di kota, kita sering berbicara tentang pembangunan fisik. Di kampung, Ramadan mengingatkan pembangunan batin.

Dan mungkin, di situlah fondasi masyarakat sesungguhnya ditegakkan pelan, teduh, namun kokoh seperti Masjid An-Nur yang tak lelah menunggu azan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *