KAWIL  

Ramadan, Hujan, dan Seorang Konseptor dari Ulok Gading

Ilustrasi Diskusi bersama Direktur Fajar Sumatera dikediamannya.

Onetime.id – Ramadan memasuki hari ketiga. Waktu melaju seperti anak panah, nyaris tanpa jeda. Namun di tengah lajunya, ada ketenangan yang tak bisa dibeli ketenangan orang-orang yang menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.

Sore itu saya memilih memancing. Bukan semata memburu ikan, melainkan menunggu dan dalam menunggu ada pelajaran tentang kesabaran yang tak diajarkan di bangku sekolah.

Matahari menggigit kulit, angin berembus pelan seperti nasihat ibu yang tak pernah memaksa.

Joran saya lemparkan dengan cermat, mencari riak kecil yang menjanjikan kehidupan di bawah permukaan.

Celetup. Umpan disambar. Seekor ikan terperangkap sesaat, lalu melesat bebas, meninggalkan kail dan sedikit tawa getir.

Tak apa. Dalam hidup, yang lepas tak selalu berarti kalah. Kadang ia hanya menguji seberapa kuat kita menggenggam dan seberapa rela kita melepas.

Azan magrib kian dekat. Saya berkemas, pulang ke rumah di Lebak Budi, Imam Bonjol, Bandar Lampung. Di meja makan, hidangan tersusun rapi seperti barisan paskibraka: tertib, khidmat, menunggu aba-aba.

Nenek menyiapkan dadar resap kue kesukaannya untuk dibuat, meski tak selalu lahap ia santap sendiri. Ada kurma, sebagaimana sunnah, dan segelas manis yang menghapus dahaga.

Makan malam pecah dalam kehangatan keluarga. Seruit Lampung terhidang dengan lalap, sayur asem, dan sambal terasi yang memecut selera.

Di antara suap dan canda, pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Nama yang muncul bukan nama sembarang Deni Kurniawan, sosok yang dikenal sebagai bos Fajar Sumatera.

“Ke rumah saja. Kita diskusi,” tulisnya singkat.

Saya pun meluncur ke Ulok Gading, Teluk Betung. Di tengah jalan, hujan turun tanpa aba-aba. Saya terabas saja. Tiba di rumahnya dalam keadaan sedikit lembap, ia menyambut dengan senyum tipis.

“Hujan ya, Dan?”

“Iya, Bang.”

“Ayo masuk. Ngopi.”

“Tanpa gula,” jawab saya cepat.

Kopi Ko Lee dari Warta Kopi menguar harum. Di ruangannya yang dingin dan lapang, saya menyeruput perlahan, ditemani sebatang kretek. Mata saya tak bisa lepas dari rak buku di dinding.

Di sana berjejer Das Kapital jilid I–III karya Karl Marx, berdampingan dengan gagasan Tan Malaka, catatan harian Soe Hok Gie, pidato-pidato Soekarno, pemikiran Agus Salim, hingga History of Java dan Sirah Nabawiyah.

Sulit menebak ia kiri atau kanan. Mungkin ia memilih berdiri di tengah arus, membaca peta sebelum melangkah.

Deni adalah mantan aktivis 1998. Di masanya, buku adalah kawan setia, jalanan adalah ruang kuliah, dan konsolidasi adalah napas perjuangan.

Ia dikenal lihai meramu strategi menghubungkan titik-titik yang tak kasatmata menjadi garis gerakan yang terukur.

Dari buruh hingga gerakan sosial, ia paham kapan harus maju dan kapan menahan diri.

Bagi saya, ia bukan sekadar pengusaha media. Ia teknisi kepercayaan, manajer konflik, sekaligus guru yang tak pelit berbagi.

Banyak jurnalis ditempanya menjadi lebih kokoh menghadapi disrupsi teknologi yang kerap menenggelamkan yang tak siap.

Saat saya menjadi Ketua Pelaksana Festival Foto Bersama Lampung Maju, ia adalah orang pertama yang saya repotkan.

Ia membedah teknis acara setenang membelah draf editorial detail, sistematis, tanpa banyak retorika. Gagasan dan terobosannya membuat acara itu berdiri dengan kaki sendiri.

Jika tak ada perubahan jadwal, pada 27 Februari mendatang ia dipercaya menjadi Ketua Pelaksana satu tahun kepemimpinan Gubernur Lampung dan Wakil Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela. Sebuah panggung baru bagi konseptor yang lebih suka bekerja di balik layar.

Di bawah komando Abung Mamasa, IJP Lampung juga bersiap mencetak koran dan buku sebagai penanda jejak kepemimpinan. Di situ pula nama Deni kembali disebut bukan sebagai tokoh yang mencari sorot, melainkan sebagai arsitek yang menyiapkan fondasi.

Bagi saya, Deni Kurniawan adalah perpaduan langka aktivis yang memahami realitas, pengusaha yang mengerti idealisme, dan konseptor yang tahu bahwa gerakan tanpa gagasan hanya akan menjadi riuh tanpa arah.

Ramadan mengajarkan sabar. Hujan mengajarkan ketabahan. Dan malam itu, di Ulok Gading, saya belajar satu hal lain bahwa di balik setiap peristiwa besar, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi, menyusun jembatan bagi mereka yang ingin menyeberang.

Salam hormat, Jurnalis Junior Wildan Hanafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *