Onetime.id, Bandar Lampung – Di setiap pergantian Tahun Baru Imlek, kita menyaksikan bukan sekadar perayaan pergantian kalender lunar, melainkan denyut panjang sebuah peradaban.
Lampion-lampion merah digantung, barongsai menari di antara riuh anak-anak, dan doa-doa mengalir dari altar keluarga menuju langit yang sama.
Namun, Imlek bukan hanya tentang warna dan bunyi. Ia adalah peristiwa kebudayaan dan pada saat yang sama, peristiwa politik dalam makna yang paling luhur.
Sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Imlek menandai babak penting dalam sejarah kebinekaan Indonesia.
Keputusan itu bukan semata kebijakan administratif, melainkan penegasan bahwa negara hadir untuk memulihkan martabat warganya.
Di sana, politik menemukan wajah kebudayaannya mengakui, merawat, dan merangkul.
Kita tak bisa memisahkan Imlek dari sejarah panjang komunitas Tionghoa di negeri ini.
Dari pasar-pasar tua hingga gang-gang kota pelabuhan, mereka telah menanamkan jejak dalam denyut ekonomi dan kebudayaan Nusantara.
Namun sejarah juga mencatat luka prasangka yang dipelihara, diskriminasi yang dilembagakan, dan kecurigaan yang diwariskan.
Dalam konteks itu, Imlek menjadi lebih dari ritual ia adalah pengingat bahwa kebudayaan selalu lebih kuat daripada politik identitas yang sempit.
Sebagai perayaan, Imlek mengajarkan etika keluarga, bakti kepada orang tua, hormat kepada leluhur, dan harapan akan rezeki yang baik.
Namun sebagai simbol kebangsaan, ia mengajarkan etika publik bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah.
Di tengah riuh politik elektoral yang sering memecah belah, Imlek hadir dengan pesan sederhana harmoni lebih berharga daripada dominasi.
Menariknya, Imlek juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan bisa menjadi jembatan diplomasi.
Indonesia dan Tiongkok memiliki hubungan panjang yang melampaui hitung-hitungan dagang. Di meja perundingan, angka-angka mungkin berbicara.
Tetapi di ruang kebudayaan, rasa saling percaya tumbuh dari pengakuan atas akar sejarah yang sama-sama tua. Dalam konteks global yang kerap tegang, perayaan seperti Imlek menjadi bahasa sunyi yang menyatukan.
Namun kita perlu waspada. Jangan sampai Imlek direduksi menjadi komoditas pariwisata semata sekadar festival lampion untuk konsumsi media sosial. Ketika makna diringkus oleh pasar, kebudayaan kehilangan rohnya.
Negara dan masyarakat punya tanggung jawab menjaga agar perayaan ini tetap menjadi ruang refleksi tentang keadilan, kesetaraan, dan solidaritas.
Di meja makan keluarga Tionghoa, hidangan disajikan dengan simbol harapan ikan untuk kelimpahan, kue keranjang untuk kelekatan, jeruk untuk keberuntungan. Simbol-simbol itu sesungguhnya universal.
Bukankah setiap keluarga Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, juga berharap akan kelimpahan dan keharmonisan? Di titik itulah Imlek menemukan makna kebangsaannya, ia adalah perayaan yang khusus sekaligus milik bersama.
Politik yang matang adalah politik yang memberi ruang pada kebudayaan untuk tumbuh tanpa rasa takut.
Dan kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang tak alergi pada dialog kebangsaan. Imlek mengajarkan keduanya.
Ia adalah lentera kecil yang mengingatkan kita bahwa Indonesia berdiri bukan di atas keseragaman, melainkan di atas kesediaan untuk hidup berdampingan.
Maka, ketika kembang api menyala dan doa dipanjatkan, sesungguhnya yang kita rayakan adalah keberanian untuk tetap percaya pada harmoni.
Di tengah dunia yang mudah terbelah, Imlek menegaskan satu hal bahwa cahaya kebudayaan selalu menemukan jalannya, bahkan setelah malam yang paling gelap.
Selamat Hari Imlek bagi saudara-saudara yang merayakan.
Salam Hormat, Salam Toleransi dari Jurnalis Junior, Wildan Hanafi.






