KAWIL  

Yang Nikmat Bukan Ikannya, Melainkan Kebersamaan

Santap malam terlaksana, usai memancing bersama-sama.

Onetime.id, Bandar Lampung – Kerambah ikan belum sepenuhnya turun ketika kami memutuskan mengakhiri sesi memancing.

Ikan mulai ditimbang, tenaga mulai terkuras, dan perut diam-diam menuntut perhatian.

Sepakat tanpa banyak debat, kami pulang bukan sekadar membawa ikan, tetapi rencana kecil untuk merayakannya bersama.

Di dapur dan halaman rumah, peran langsung terbagi seperti sudah diatur sejak lama. Virgon dan Pakde Larno meluncur membeli sayuran serta perlengkapan bakar.

Saya dan Mas Sugino kebagian membersihkan ikan. Sisik beterbangan, air mengalir, pisau beradu dengan talenan. Tak ada komando, tak ada atasan. Semua bekerja sewajarnya.

Api menyala cepat. Arang memerah, asap tipis membubung pelan. Ikan-ikan itu dibaringkan di atas panggangan, satu per satu. Bau gurih mulai menguar, bercampur suara kipas yang digerakkan tak sabar.

Dari dalam rumah, sang istri muncul membawa rujak puan suri dan kudapan sederhana. Geraknya cekatan, wajahnya tenang. Tak banyak kata, tapi kehadirannya melengkapi suasana.

Di sudut meja, sambal khas Lampung sudah siap rampai, cabai, dan terasi berpadu dalam ulekan kasar. Aromanya tajam, menggoda, membuat mata sedikit berair sebelum suapan pertama.

Ikan matang hampir bersamaan. Tak ada yang paling dulu, tak ada yang merasa paling berjasa. Semua tersaji dengan sederhana, di atas piring yang mungkin tak seragam, tetapi cukup untuk berbagi.

Percakapan mengalir sejak ikan masih bersisik hingga berubah menjadi santapan. Dari cerita ringan, kenangan lama, sampai candaan yang memancing tawa panjang. Sesekali suara meledak, lalu mereda oleh senyum.

Di tengah makan, Pakde Larno berujar pelan, nyaris seperti gumaman, “Yang nikmat itu bukan ikannya.” Ia berhenti sejenak, menatap kami satu per satu. “Yang nikmat itu kebersamaannya. Prosesnya. Bukan cuma makannya.”

Kalimat itu menggantung sebentar di udara, sebelum akhirnya disambut anggukan dan tawa kecil.

Santap malam berakhir tanpa seremoni. Piring-piring kosong menjadi saksi bahwa rasa lapar telah dituntaskan. Namun yang tersisa bukan hanya kenyang.

Mungkin benar, manusia diciptakan bukan sekadar untuk bekerja atau mengejar hasil. Kita ada untuk merawat kebersamaan. Karena tanpa itu, bahkan hidangan terbaik pun terasa hambar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *