Onetime.id – Pagi itu, telepon berdering tanpa jeda. Seperti doa yang tak jemu dipanjatkan, mencoba menembus sekat-sekat birokrasi yang katanya sudah berbenah.
Namun harapan kerap kandas di ujung nada sambung yang dingin. Suara mesin lebih fasih daripada empati.
Kita hidup di zaman ketika pelayanan publik dipromosikan dengan bahasa manis, seolah semua urusan bisa selesai dalam satu sentuhan.
Namun di lapangan, administrasi sering hanya menjadi lorong panjang tanpa ujung. Janji tinggal janji. Sistem yang digadang-gadang modern justru terasa purba berjalan, tetapi tak bergerak.
Kekacauan tak selalu datang dengan ledakan. Ia hadir pelan-pelan, melalui penundaan, melalui sikap abai, melalui kalimat “sedang diproses” yang tak pernah jelas batasnya.
Publik dipincut dengan kepercayaan, tetapi dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Kecewa? Tentu. Namun melawan dengan amarah hanya menghabiskan tenaga dan pikiran.
Pada titik itulah saya teringat nasihat Buya Hamka.
Ia menulis dalam renungannya bahwa pekerjaan selama halal adalah jalan menuju kejayaan.
Selama kita percaya pada kerja yang kita lakoni, selama itu pula harapan tak akan padam.
Menurut Hamka, ada dua hal yang membuat pekerjaan terasa pas di hati. Pertama, kemahiran menguasai bidang dengan sungguh-sungguh.
Kedua, kemampuan menemukan bentuk baru kreatif, inovatif, tak terjebak rutinitas yang membatu.
Sayangnya, kreativitas sering absen. Yang muncul justru cacian dan saling menyalahkan.
Padahal setiap persoalan bisa menjadi ruang pendewasaan sejauh mana kita mampu bersabar, seberapa piawai kita mengatur langkah, hingga akhirnya yang menang bukan ego, melainkan kemanusiaan.
Barangkali perubahan tak selalu lahir dari gebrakan besar. Ia bisa tumbuh dari kesadaran kecil dari satu meja kerja yang memilih bekerja dengan hati.
Dari satu pegawai yang tak sekadar menjalankan sistem, tetapi memanusiakan manusia.
Terima kasih, Senior. Telah mengajarkan bahwa kesabaran bukan tanda kalah, melainkan cara paling elegan untuk bertahan. Bahwa kritik tak harus berteriak, tetapi bisa disampaikan dengan akal sehat dan nurani.
Tabik pun, tabik tabik ngalimpuro.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Salam hormat,
Wildan Hanafi Jurnalis junior






