PTPN I Dorong Petani Kelapa Desa Bulok Olah Nira Jadi Gula Semut

Onetime.id, Lampung Selatan – Ribuan pohon kelapa di Desa Bulok, Lampung Selatan, melambai diterpa angin pesisir.

Bagi warga setempat, hamparan pohon itu bukan sekadar penanda kawasan pesisir Kalianda, melainkan sumber penghidupan yang selama bertahun-tahun belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi.

Sebagian warga sebelumnya hanya menjual buah kelapa setelah dipanen.

Kini, mereka mulai mengubah cara memanfaatkan kebun. Nira dari pohon kelapa disadap dan diolah menjadi gula semut.

Perubahan itu berlangsung setelah masyarakat mendapat pendampingan dari PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 7 Kebun Bergen melalui UMKM Nira Sari.

Pendampingan mencakup sosialisasi, kajian ekonomi, pemetaan prospek pasar, pelatihan teknis pengolahan dan pengemasan, penyediaan bibit unggul, hingga penguatan usaha.

Puluhan petani kelapa di Desa Bulok, yang menjadi salah satu desa penyangga Kebun Bergen, kini memiliki aktivitas produksi yang lebih rutin.

Mereka tak lagi sepenuhnya bergantung pada masa panen buah kelapa.

 

Suprayitno, Ketua UMKM gula semut Nila Sari, mengatakan pendampingan tersebut mengubah cara warga melihat kebun kelapa. Jika sebelumnya kelapa dijual dalam bentuk buah, kini sebagian hasil kebun diolah terlebih dahulu untuk memperoleh nilai tambah.

“Alhamdulillah, berkat pendampingan dari PTPN I, kami para petani kelapa yang sebelumnya hanya menjual kelapa dalam bentuk butiran, kini sudah lebih maju dan produktif. Awalnya kami ragu memproduksi gula semut, tetapi setelah berjalan, kami merasakan perbedaannya dibandingkan sebelumnya,” kata Suprayitno saat ditemui di rumah produksinya, Ahad, 6 September 2026.

Tak Lagi Menunggu Musim Panen

Bagi Suprayitno, perubahan paling terasa bukan hanya pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada ritme kerja petani.

Dulu, pemilik kebun cenderung menunggu kelapa tua untuk dipanen. Di luar masa panen, sebagian warga mencari pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengolahan nira membuat aktivitas di kebun berlangsung hampir setiap hari. Petani harus menderes pohon, mengumpulkan nira, mengolahnya, hingga mengemas gula semut.

“Tidak seperti dulu, kami hanya menunggu kelapa tua untuk dipanen. Kalau sekarang, kami seperti pegawai juga. Setiap hari harus bekerja, mulai dari menderes, mengolah, hingga mengemas. Tetapi alhamdulillah, hasilnya juga jauh lebih besar,” ujarnya sambil tertawa.

Menurut Suprayitno, kondisi itu sekaligus mengubah pola ekonomi rumah tangga petani.

Pohon kelapa yang sebelumnya hanya menghasilkan pendapatan ketika buah dipanen kini dapat memberikan aktivitas ekonomi secara lebih rutin.

“Kalau dulu kami bingung mau bekerja apa ketika tidak sedang panen kelapa. Pohon kelapa juga tidak membutuhkan perawatan khusus, sehingga kami hanya menunggu waktu panen. Belum lagi, harga kelapa per butir juga relatif murah,” katanya.

Dari Bahan Mentah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Kedekatan Desa Bulok dengan wilayah kerja PTPN I membuka ruang bagi perusahaan dan masyarakat untuk membangun program pemberdayaan.

Suprayitno mengatakan proses pengembangan gula semut bermula dari sejumlah diskusi antara masyarakat dan PTPN I.

Perusahaan kemudian memfasilitasi pelatihan pengolahan nira menjadi gula semut.

Tenaga ahli didatangkan untuk memberikan pengetahuan mengenai penanganan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pengenalan pasar.

PTPN I juga memberikan bantuan mesin pengolahan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Selain peralatan, masyarakat memperoleh hampir 1.000 bibit kelapa unggul.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan ilmu baru dari PTPN I mengenai cara membuat gula semut. Jadi, hasil perkebunan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau kata orang, ini bentuk hilirisasi. Kami juga mendapatkan bantuan bibit kelapa unggul dari PTPN I, hampir seribu bibit,” ujar Suprayitno.

Nilai tambah dari pengolahan nira menjadi gula semut tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi.

Produktivitas nira, harga jual, biaya pengolahan, kualitas produk, kemasan, hingga kemampuan UMKM menjangkau pasar turut menentukan besarnya manfaat ekonomi yang diterima petani.

Dengan demikian, hilirisasi bukan sekadar mengubah bentuk komoditas. Proses itu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengambil peran lebih panjang dalam rantai nilai, dari produksi bahan baku hingga pengolahan dan pemasaran.

PTPN I Dorong Kemandirian Ekonomi

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Menurut dia, program pemberdayaan tidak seharusnya berhenti pada pemberian bantuan.

Potensi lokal perlu dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Prinsip kami, pemberdayaan masyarakat harus mampu mengubah potensi menjadi nilai. Komoditas yang selama ini dijual dalam bentuk mentah perlu didorong agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, penguatan merek, dan akses pasar. Saya sangat senang mendengar progres produksi gula semut ini,” kata Abdul Rivai.

Ia mengatakan hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi masyarakat.

Petani tidak hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku, tetapi didorong terlibat dalam proses produksi hingga pemasaran.

“Ketika potensi kelapa tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk seperti gula semut yang berkualitas dan memiliki kemasan yang baik, peluang nilai ekonomi yang tercipta menjadi lebih besar. Di sinilah UMKM memiliki peran strategis,” ujarnya.

PTPN I, kata Abdul Rivai, akan melanjutkan pendampingan secara terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, bantuan teknologi dan peralatan, penyediaan bibit, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.

“Kami berharap Nila Sari tidak berhenti sebagai produk lokal. Dengan pendampingan yang konsisten, kami ingin UMKM mampu menghasilkan produk berkualitas, memiliki daya saing, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *