Onetime.id, Bandar Lampung – Penampilan Gubernur Lampung mengenakan busana adat lengkap dengan Hanuang Bani menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian Festival Krakatau XXV di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung pada Minggu, (30/8/2026).
Di tengah ribuan masyarakat yang menyaksikan perhelatan budaya tersebut, Gubernur tampil mengenakan busana adat Lampung dan Hanuang Bani di kepala.
Penampilan itu bukan sekadar pilihan busana, tetapi membawa simbol tentang keberanian, keteguhan, sekaligus kebanggaan terhadap identitas budaya Lampung.
Dalam tradisi Lampung Saibatin, Hanuang Bani memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan keberanian, keteguhan dan tanggung jawab.
Karena itu, ketika simbol tersebut dikenakan seorang pemimpin daerah dalam sebuah perhelatan kebudayaan, pesan yang muncul menjadi lebih luas.
Budaya tidak sekadar ditampilkan di atas panggung, tetapi dibawa ke ruang publik sebagai bagian dari identitas masyarakat Lampung.
Budaya sebagai Kekuatan Daerah
Festival Krakatau XXV menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi budaya Lampung.
Tapis, busana adat, seni pertunjukan dan tradisi dari berbagai kabupaten dan kota dihadirkan dalam satu rangkaian kegiatan.
Masyarakat, pelajar, seniman hingga para pemangku adat turut mengambil bagian.
Festival tersebut kemudian tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Lampung kepada generasi muda.
Dalam konteks itu, pilihan Gubernur mengenakan Hanuang Bani menjadi simbol kebanggaan terhadap akar budaya daerah.
Pembangunan Lampung pun tidak hanya dapat diukur melalui jalan, gedung, pertumbuhan ekonomi atau berbagai indikator pembangunan lainnya. Di balik kemajuan tersebut terdapat identitas yang menjadi pembeda sebuah daerah.
Identitas itulah yang salah satunya bersumber dari budaya.
Pengibaran Bendera dan Simbol Kepemimpinan
Pesan budaya semakin terasa ketika Gubernur Lampung mengibarkan bendera sebagai tanda dimulainya rangkaian Festival Krakatau XXV.
Prosesi tersebut menghadirkan gambaran yang sederhana tetapi kuat. Seorang pemimpin daerah membuka festival kebudayaan dengan mengenakan simbol budaya daerahnya sendiri.
Bagi masyarakat Lampung, momentum itu bukan semata seremoni pembukaan.
Ada pesan bahwa budaya dapat ditempatkan di tengah kehidupan masyarakat, diperkenalkan kepada generasi muda dan dirawat tanpa harus kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Festival menjadi titik temu antara pemerintah, masyarakat, seniman dan pemangku adat.
Jejak Sekala Brak dalam Identitas Lampung
Dimensi adat dalam perhelatan tersebut semakin kuat dengan kehadiran Paduka Yang Mulia (PYM) SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Gelar Sultan Sekala Brak yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong.
Sekala Brak memiliki posisi penting dalam narasi sejarah dan identitas budaya Lampung, khususnya dalam tradisi Saibatin.
Paksi Pak Sekala Brak terdiri atas Kepaksian Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Bejalan Diway dan Kepaksian Nyerupa.
Keempat kepaksian tersebut masing-masing dipimpin oleh Saibatin yang bergelar Sultan.
Kehadiran unsur adat Sekala Brak dalam Festival Krakatau memperlihatkan bahwa kebudayaan Lampung memiliki akar sejarah yang panjang sekaligus masih hidup dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Gubernur Lampung juga memiliki kedekatan dengan lingkungan keluarga adat Sekala Brak. Ia merupakan bagian dari keluarga tersebut dan adik dari Sultan Sekala Brak yang Dipertuan ke-23.
Kedekatan itu memberikan warna tersendiri ketika simbol-simbol adat hadir dalam sebuah panggung kebudayaan daerah.
Dari Sekala Brak untuk Lampung
Sekala Brak yang berada di kawasan dataran tinggi Pesagi, Lampung Barat, dikenal sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah dan perkembangan masyarakat Lampung, terutama dalam tradisi Saibatin.
Karena itu, ketika simbol-simbol Sekala Brak hadir dalam Festival Krakatau, yang tampil bukan sekadar pakaian adat.
Ada sejarah, identitas, nilai kepemimpinan dan warisan budaya yang hendak terus diperkenalkan.
Penampilan Gubernur dengan Hanuang Bani, kehadiran Sultan Sekala Brak dan prosesi pengibaran bendera menjadi rangkaian visual yang menyampaikan pesan yang sama kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Budaya justru dapat menjadi kekuatan.
Di tengah modernisasi, Lampung membutuhkan cara untuk tetap bergerak maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Festival Krakatau menjadi salah satu panggung untuk menunjukkan bahwa budaya Lampung bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Ia adalah identitas yang masih hidup, dapat dirawat, dikembangkan dan diperkenalkan lebih luas dari Lampung untuk Indonesia, bahkan dunia.
Gagah dalam penampilan, berani dalam simbol, dan berakar pada budaya.






