Onetime.id, Bandar Lampung – Sore itu, langit menggantungkan kabut tipis di atas kepala. Udara lembap seperti mengajak siapa pun untuk berdiam di rumah, menyeruput kopi hitam dan membiarkan waktu berjalan pelan.
Namun hobi tak pernah tunduk pada cuaca. Ia punya kehendaknya sendiri. Maka saya dan dua kawan memutuskan bertandang ke sebuah kolam pemancingan di Negeri Sakti, Pesawaran.
Kolam itu tenang, terlalu tenang. Airnya seperti kaca yang menyimpan rahasia.
Kami segera mencari titik terbaik, meracik umpan dengan campuran essen yang diyakini mampu menggoda selera ikan.
Kail dihentakkan, pelampung ditegakkan, mata memaku pada satu titik kecil yang terapung.
Waktu berjalan lambat. Pelampung tak bergerak. Tak ada riak. Tak ada percik.
Berjam-jam kami menunggu, berpindah posisi, mengganti racikan, mencoba segala cara. Ikan seperti bersepakat untuk berpuasa. Kesabaran diuji, bukan oleh badai, tetapi oleh diam.
Virgon kawan saya tak pandai menyembunyikan emosi. Jika kail tak kunjung ditarik, ia menggerutu. Sesekali joran dihentakkan jauh ke tengah kolam, seolah ingin menantang ikan keluar dari persembunyian.
Pernah, dalam kesalnya, joran patah menjadi saksi bahwa amarah tak pernah membantu apa-apa di hadapan air yang tenang.
Namun begitulah hidup kadang pelampung hanya perlu satu getaran kecil untuk mengubah suasana. Tiba-tiba, umpan disambar.
Tarikan demi tarikan menghadirkan debar. Wadah ikan yang semula kosong perlahan terisi.
Kami tertawa seperti menemukan bidadari di tengah kabut sore. Setiap hentakan kail berbuah hasil. Seolah kolam itu berubah pikiran.
Langit pun perlahan membuka tirainya. Cahaya senja menyentuh permukaan air, menciptakan warna yang tak bisa ditandingi kamera mana pun.
Para pemancing di tepi kolam tersenyum, bukan semata karena ikan yang didapat, tetapi karena momen yang dibagi.
Entah ikan-ikan itu memang sedang lahap, atau ada strategi marketing yang rapi menebar ikan di waktu tertentu agar konsumen merasa dimenangkan.
Tapi bagi kami, itu tak terlalu penting. Yang utama adalah “streak” menarik ikan, sensasi yang tak bisa dibeli dengan teori.
Memancing, pada akhirnya, bukan soal berapa banyak ikan yang dibawa pulang. Ia tentang kesabaran yang ditempa oleh waktu.
Tentang bagaimana kita belajar menunggu tanpa marah pada sunyi. Tentang persahabatan yang dirawat di antara canda dan umpatan kecil di tepi kolam.
Kebersamaan seperti itulah yang diam-diam membangun keluarga baru bukan oleh darah, melainkan oleh hobi dan cerita yang dibagi.
Dan seperti kail yang dilempar berulang-ulang, persahabatan pun perlu dirawat terus-menerus agar tak putus di tengah jalan.
Tabikpun tabik ngalimpuro
Wallahu a’lam bish-shawab.
Salam Hormat Wildan Hanafi Jurnalis Junior






