Prof. Nairobi: Rp17.590 per Dolar, yang Dikurangi Rakyat adalah Makan

Guru Besar Ekonomi Publik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lampung, Prof. Dr. Nairobi. Ilustrasi: Wildanhanafi/onetime.id.

Onetime.id, Bandar Lampung – Angka itu mungkin hanya terlihat di layar Rp17.590 per dolar Amerika. Tapi bagi banyak keluarga, pelemahan rupiah bukan sekadar grafik ekonomi.

Ia pelan-pelan masuk ke dapur, ke meja makan, bahkan ke keputusan kecil sehari-hari.

Guru Besar Ekonomi Publik Universitas Lampung, Prof. Dr. Nairobi, mengingatkan bahwa gejolak nilai tukar selalu punya jalan untuk sampai ke kehidupan paling sederhana.

Di pasar tradisional, orang tetap bertransaksi dengan rupiah.

Petani menjual hasil panen, ibu rumah tangga menawar harga sayur, pedagang kecil menghitung laba tipis.

Namun, ketika rupiah melemah, uang yang sama tak lagi membawa pulang barang dalam jumlah yang sama.

Dampaknya terasa diam-diam, tapi pasti.

Harga tepung, minyak goreng, tahu-tempe, hingga mie instan perlahan merangkak naik. Banyak bahan baku berasal dari impor atau mengikuti harga global.

Ketika dolar menguat, biaya produksi ikut terdorong, dan harga jual tak terhindarkan ikut naik. Sementara itu, pendapatan tidak selalu bergerak secepat harga.

Di banyak rumah, penyesuaian pun terjadi. Porsi dikurangi, kualitas diturunkan, bahkan beberapa menu bergizi perlahan menghilang dari meja makan.

Bagi petani dan pelaku usaha kecil, tekanan datang dari arah yang berbeda. Harga pupuk, pestisida, hingga alat produksi ikut naik karena bergantung pada bahan impor. Namun, harga jual hasil panen tak selalu bisa mengikuti.

Keuntungan menipis. Pilihan pun menjadi sulit tetap produksi dengan biaya tinggi, atau mengurangi perawatan dan mengambil risiko penurunan hasil.

Di sisi lain, ongkos distribusi juga ikut terdorong. Harga energi yang berkaitan dengan dolar membuat biaya transportasi meningkat.

Dari truk pengangkut hingga pedagang di pasar, semua menanggung beban tambahan yang pada akhirnya sampai ke pembeli terakhir.

Rantai panjang itu berujung di satu tempat: rumah tangga.

“Nilai tukar itu seperti harga induk. Pelan, tapi pasti memengaruhi banyak hal,” kata Prof. Nairobi dengan komprehensif dengan lembut tetapi menjadi alarm bagi kita semua atas kenaikan dolar pada Minggu, (16/5/2026).

Tekanan rupiah juga menjalar ke sektor lain. Suku bunga bisa naik, kredit menjadi lebih mahal, dan pelaku usaha menunda ekspansi.

Lapangan kerja baru melambat, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Di tingkat negara, beban anggaran ikut terdampak. Pembayaran utang luar negeri dan belanja impor menjadi lebih mahal dalam rupiah.

Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit menjaga stabilitas, sambil tetap melindungi masyarakat.

Di tengah situasi ini, harapan tetap bertumpu pada kebijakan yang berpihak.

Intervensi bank sentral, pengelolaan cadangan devisa, hingga pengendalian inflasi menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan.

Sementara itu, bantuan sosial, subsidi pangan, dan dukungan bagi petani serta UMKM menjadi penopang agar masyarakat tidak terjatuh lebih dalam.

Namun di luar semua kebijakan itu, ada realitas yang lebih dekat keluarga yang harus menghitung ulang pengeluaran, menahan keinginan, dan bertahan dengan apa yang ada.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan hanya soal ekonomi makro.

Ia adalah cerita tentang dapur yang harus tetap menyala, tentang orang tua yang berusaha menjaga gizi anaknya, dan tentang harapan agar hari esok tidak lebih berat dari hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *