Bandar Lampung — Ekspor pati singkong atau tapioka dari Provinsi Lampung melonjak tajam sepanjang 2025.
Lonjakan itu mencerminkan kuatnya industri pengolahan singkong di daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi singkong terbesar di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik yang diolah Kementerian Perindustrian menunjukkan, pada periode Januari–Desember 2024 ekspor pati singkong dari Lampung tercatat 5,95 juta kilogram dengan nilai sekitar US$3,09 juta.
Setahun kemudian, pada periode yang sama 2025, volumenya melonjak menjadi 36,98 juta kilogram dengan nilai mencapai US$12,91 juta.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung, Muhammad Zimmi Skil, mengatakan kenaikan tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan industri pengolahan singkong di daerah itu.
Dalam satu tahun, volume ekspor meningkat sekitar 521 persen, sementara nilai ekspornya naik lebih dari 317 persen.
“Lampung memang menjadi salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia. Dengan dukungan industri pengolahan yang cukup kuat, komoditas ini memiliki potensi ekspor yang besar,” kata Zimmi pada Senin, (16/32026).
Pemerintah daerah, kata dia, berupaya memperkuat hilirisasi singkong agar komoditas tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dalam bentuk produk olahan bernilai tambah.
Jika dibandingkan dengan kinerja nasional, pertumbuhan ekspor dari Lampung tercatat lebih tinggi.
Secara nasional, ekspor pati singkong Indonesia pada 2024 mencapai 20,6 juta kilogram dengan nilai US$11,82 juta. Pada 2025, angkanya meningkat menjadi 55,37 juta kilogram dengan nilai US$21,61 juta.
Pati singkong banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari makanan dan minuman hingga tekstil dan kertas.
Peningkatan ekspor ini sekaligus menguatkan posisi Lampung sebagai salah satu pusat industri tapioka nasional.






