Berita  

Garda Ulama Serukan Muktamar NU Dijaga dari Fitnah dan Saling Serang

Onetime.id, Jakarta —  Gerakan Advokasi untuk Kebenaran, Keadilan dan Kemanusiaan (GARDA ULAMA) menyerukan seluruh pihak menjaga marwah dan kredibilitas Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).

Dinamika menjelang forum tersebut dinilai tidak semestinya berubah menjadi arena saling serang, fitnah, penghinaan, atau penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Seruan itu disampaikan GARDA ULAMA menyikapi sejumlah pemberitaan dan konten media sosial yang belakangan viral dan memicu reaksi di masyarakat.

Menurut organisasi tersebut, kebebasan berpendapat tetap harus berada dalam koridor kebenaran, keadaban, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap martabat manusia dan hukum.

GARDA ULAMA meminta materi pemberitaan maupun konten yang beredar diklarifikasi dan diuji secara objektif, terutama jika memuat dugaan pencemaran nama baik, penghinaan, informasi tidak benar atau menyesatkan, perendahan martabat, perusakan reputasi, provokasi, permusuhan, maupun kebencian.

Namun, GARDA ULAMA menegaskan berbagai hal tersebut masih sebatas indikasi atau dugaan.

Karena itu, penilaiannya harus didasarkan pada fakta, konteks, bukti digital, dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi dan demokrasi. Namun, perbedaan tidak boleh berubah menjadi penghinaan, fitnah, permusuhan atau upaya merusak kehormatan seseorang maupun lembaga,” demikian pernyataan GARDA ULAMA dalam siaran pers, Senin, 24 Agustus 2026.

GARDA ULAMA mendorong seluruh pihak mengedepankan tabayyun atau klarifikasi secara langsung, terbuka, objektif, dan berimbang sebelum mengambil kesimpulan atau menyebarluaskan tuduhan.

Pihak yang merasa dirugikan juga diminta menempuh penyelesaian secara bermartabat dengan terlebih dahulu meminta klarifikasi secara persuasif.

Sebaliknya, pihak yang terbukti menyampaikan informasi yang tidak sesuai fakta diharapkan memberikan koreksi, mencabut pernyataan, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

GARDA ULAMA juga meminta pihak-pihak yang terlibat menghentikan aksi saling serang serta tidak memperluas narasi yang berpotensi memicu fitnah dan permusuhan.

Media sosial, menurut mereka, tidak seharusnya berubah menjadi ruang penghakiman.

“Jangan jadikan Muktamar NU sebagai arena fitnah dan permusuhan. Perbedaan pilihan dan pandangan harus tetap diletakkan dalam bingkai ukhuwah, adab dan tanggung jawab,” ujar GARDA ULAMA.

Menurut organisasi tersebut, Muktamar NU merupakan forum strategis yang memiliki arti penting bagi perjalanan organisasi.

Karena itu, seluruh tahapan menuju dan selama Muktamar perlu dijaga dari narasi maupun tindakan yang dapat merusak persatuan, kehormatan organisasi, dan kredibilitas forum tertinggi NU tersebut.

GARDA ULAMA menyatakan tidak berkepentingan memperbesar konflik.

Organisasi itu mengklaim hadir untuk mendorong kebenaran, keadilan, kemanusiaan, tabayyun, dan penyelesaian persoalan secara bermartabat.

Jika proses klarifikasi menemukan dugaan pelanggaran hukum, GARDA ULAMA menyatakan menghormati dan mendorong penyelesaian melalui mekanisme hukum yang objektif, profesional, dan berkeadilan.

Proses tersebut, kata mereka, harus berlangsung tanpa tekanan, intimidasi, maupun penghakiman massa.

Seruan itu merujuk pada prinsip al-bayyinatu ‘alal mudda’i, yakni pihak yang mendalilkan wajib mengemukakan bukti.

GARDA ULAMA juga mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam QS Al-Hujurat ayat 6 tentang pentingnya meneliti dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya.

“Karena itu, mari kita jaga bersama marwah ulama, kehormatan Nahdlatul Ulama dan kredibilitas Muktamar NU. Kebenaran harus ditegakkan, keadilan harus dijaga, kemanusiaan harus diutamakan dan ukhuwah harus dipelihara,” kata GARDA ULAMA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *