Onetime.id, Bandar Lampung – Selama 66 tahun, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah menorehkan perjalanan panjang sebagai organisasi kader yang tidak hanya melahirkan intelektual muda, tetapi juga pejuang sosial, pemimpin bangsa, penggerak perubahan, serta penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
PMII hadir dalam berbagai momentum sejarah bangsa mengawal demokrasi, memperjuangkan keadilan sosial, membela kaum mustadh’afin, mengadvokasi buruh, petani, nelayan, masyarakat kecil, hingga menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di tengah dinamika zaman, PMII tetap berdiri sebagai rumah kaderisasi yang melahirkan generasi kritis, progresif, dan berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
PMII tidak hanya bergerak di ruang kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai kekuatan moral, sosial, dan intelektual yang terus relevan menjawab tantangan zaman.
Momentum Harlah ke-66 menjadi refleksi penting bahwa perjuangan PMII belum selesai.
Organisasi ini harus terus bertransformasi, memperkuat basis kaderisasi, membangun kemandirian ekonomi, dan memastikan kader-kadernya hadir sebagai solusi atas persoalan bangsa.
Penyatuan Visi dan Gerak
Halal bihalal sering kali dipahami sebatas tradisi saling memaafkan pasca-Idulfitri. Padahal, bagi organisasi kader seperti PMII, momentum ini seharusnya menjadi ruang strategis yang jauh lebih besar memperkuat konsolidasi, menyatukan visi perjuangan, serta membangun kekuatan ekonomi kader dan alumni.
PMII bukan hanya organisasi pergerakan yang lahir dari semangat intelektual dan perjuangan sosial, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Hari ini, kader tidak cukup hanya kuat dalam wacana, diskusi, dan gerakan moral.
Kader juga harus memiliki kemandirian ekonomi agar perjuangan tidak mudah dilemahkan oleh ketergantungan struktural.
Halal bihalal menjadi momentum penting untuk mempertemukan kader lintas generasi mulai dari kader aktif, alumni, hingga para senior pergerakan dalam satu forum yang tidak hanya berbicara soal nostalgia organisasi, tetapi juga membahas langkah konkret masa depan.
Di sinilah pentingnya penyatuan gerak, visi, dan distribusi peran lintas sektor.
Konsolidasi Ekonomi Kader
Kader PMII tersebar di berbagai bidang: politik, pemerintahan, pendidikan, hukum, pertanian, perikanan, perdagangan, hingga dunia usaha. Potensi besar ini sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya pusat konsolidasi yang terorganisir.
Akibatnya, jaringan besar yang dimiliki PMII belum sepenuhnya menjadi kekuatan kolektif yang produktif.
Melalui halal bihalal, seharusnya lahir ruang sharing informasi yang lebih substantif, terutama yang berkaitan dengan penguatan ekonomi kader.
Misalnya, bagaimana membangun pusat-pusat produksi berbasis pertanian, peternakan, perikanan, koperasi kader, UMKM produktif, hingga bisnis kolektif yang mampu menciptakan kemandirian organisasi.
Momentum ini harus menjadi ruang pertukaran gagasan antar kader dan alumni tentang peluang investasi, akses permodalan, pengembangan usaha produktif, jaringan pemasaran, hingga kolaborasi bisnis yang berkelanjutan.
Dengan demikian, PMII tidak hanya menjadi pusat kaderisasi intelektual, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kolektif.
Lampung sebagai daerah agraris memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
PMII harus hadir bukan hanya sebagai pengkritik kebijakan, tetapi juga sebagai pelaku perubahan ekonomi masyarakat.
Kader harus masuk dalam rantai produksi, bukan hanya menjadi penonton dalam sistem distribusi yang dikuasai pihak lain.
Sudah saatnya kader PMII membangun model pemberdayaan berbasis produksi.
Sampah bisa diolah menjadi pupuk organik, maggot bisa menjadi bahan baku pakan ternak dan ikan, sektor pertanian bisa diperkuat dengan koperasi produksi, dan kader-kader muda harus diberi ruang untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Halal bihalal harus menjadi titik tolak lahirnya peta jalan ekonomi kader. Tidak cukup hanya dengan foto bersama dan seremonial sambutan.
Harus ada agenda nyata pembentukan forum ekonomi kader, pusat distribusi usaha, hingga konsolidasi alumni yang mampu menjadi mentor dan penggerak ekonomi kolektif.
Alumni Mitra Pelaksana Kebijakan
Peran alumni sangat penting dalam hal ini. Alumni bukan sekadar simbol keberhasilan masa lalu, tetapi harus menjadi mitra strategis dalam mendukung dan mengawal pelaksanaan kebijakan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, dan penguatan sektor produksi.
Dengan pengalaman, jaringan, dan posisi strategis yang dimiliki di berbagai sektor, alumni PMII dapat menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata masyarakat.
Alumni harus hadir sebagai pelaksana gagasan, penghubung aspirasi rakyat, sekaligus mentor perjuangan kader agar gerakan PMII tetap relevan dan solutif.
Selain sebagai mitra pelaksana kebijakan, alumni juga memiliki tanggung jawab moral sebagai mentor perjuangan kader hari ini.
Pengalaman organisasi, jaringan sosial, dan kapasitas kepemimpinan yang dimiliki alumni harus menjadi ruang belajar bagi kader muda untuk tumbuh lebih kuat secara intelektual maupun ekonomi.
PMII harus kembali menegaskan dirinya sebagai organisasi kader yang melahirkan pemimpin, bukan sekadar pengikut arus zaman.
Kader yang kuat adalah kader yang memiliki keberanian berpikir, kemampuan mengorganisir, dan kemandirian ekonomi.
Karena itu, hajatan akbar dan halal bihalal bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi tentang membangun kekuatan bersama.
Momentum ini harus menjadi ruang untuk saling menguatkan daya dukung antar kader dan alumni, memperluas daya tampung gagasan, peluang, dan kontribusi nyata bagi organisasi maupun masyarakat.
Daya dukung berarti kemampuan seluruh elemen PMII untuk saling menopang dalam perjuangan baik secara moral, intelektual, jaringan, maupun ekonomi.
Sedangkan daya tampung adalah kesiapan organisasi dalam menerima, mengelola, dan mengembangkan potensi besar yang dimiliki kader dan alumni di berbagai sektor.
Dengan demikian, PMII tidak hanya menjadi rumah kaderisasi, tetapi juga menjadi rumah besar perjuangan yang mampu menampung aspirasi, melahirkan solusi, dan menciptakan perubahan nyata bagi daerah dan bangsa.
Tangan terkepal dan maju ke muka, Penulis Mursaidin Albantani, ST adalah Ketua Umum PMII Bandarlampung 2008-2009.






