Onetime.id, Bandar Lampung – Warga Desa Purwotani, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Desa Sindanganom, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, hanya bisa menaruh harap sederhana: jalan yang layak dilalui.
Ruas jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer yang menghubungkan dua desa itu kini dalam kondisi rusak parah.
Permukaannya tak lagi rata, dipenuhi gelombang, lubang, serta kubangan lumpur yang berubah menjadi lintasan licin saat hujan.
Pengendara yang melintas seolah dipaksa “bergoyang” mengikuti kontur jalan yang tak beraturan.
Aspal yang pernah menutup badan jalan itu kini nyaris tak berbekas. Yang tersisa hanyalah gundukan tanah keras yang kerap merusak kendaraan.
Motor dan mobil tak jarang mengalami kerusakan usai melintas, bahkan kecelakaan kecil menjadi hal yang kerap terjadi.
Jalur ini berada di wilayah timur Kotabaru, Lampung Selatan, namun juga menjadi penghubung langsung dengan wilayah Lampung Timur.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kerap terjebak dalam ketidakjelasan kewenangan penanganan.
“Jangan kami dibuat bingung ini wewenang siapa. Kami cuma ingin tahu, kemana pejabat yang punya kewenangan itu? Apa mereka tidak tahu kalau di sini ada jalan rusak parah?” kata seorang warga yang melintas pada Rabu, (1/4/ 2026).
Heriyanto, warga Purwotani, mengatakan kerusakan jalan itu bukan persoalan baru.
Ia menyebut jalan tersebut sudah bertahun-tahun tak tersentuh perbaikan berarti.
“Ini sudah sangat lama. Dulu pernah diaspal sekali, tapi tidak bertahan lama. Setelah itu kembali rusak seperti ini,” ujarnya.
Ia bahkan mengaitkan kondisi jalan dengan pengalaman keluarganya.
“Dulu anak pertama saya sekolah lewat sini sudah rusak. Sekarang anak kedua saya sudah lulus, malah makin parah. Dulu sering saya jemput karena motornya rusak di jalan,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Nico, warga Sindanganom.
Ia menyebut kondisi jalan memaksa pengendara ekstra berhati-hati, bahkan harus bergantian saat berpapasan.
“Kalau ada mobil dari arah berlawanan, harus berhenti dulu. Jalannya sempit dan licin. Mobil bisa miring, kadang selip. Jalur yang bisa dilewati cuma itu-itu saja,” ucapnya.
Padahal, jalan tersebut merupakan urat nadi aktivitas ekonomi warga. Setiap hari, puluhan kendaraan melintas membawa hasil panen dari lahan pertanian di sekitar wilayah itu.
“Katanya jalan di wilayah pertanian diprioritaskan. Di sini tiap hari banyak mobil angkut hasil panen, tapi belum juga ada perbaikan. Kami tidak minta muluk-muluk, kalau belum bisa jalan mantap, yang penting layak dulu,” kata Nico.
Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada para legislator dan pihak terkait.
Namun hingga kini, belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan.
Bagi mereka, persoalan kewenangan apakah jalan desa, kabupaten, atau lintas wilayah bukan lagi hal yang ingin diperdebatkan.
Yang mereka butuhkan hanyalah kehadiran negara di ruas jalan yang setiap hari mereka lalui.






