Onetime.id, Bandar Lampung – Seleksi Direktur Utama Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Lampung kembali memantik tanda tanya.
Bukan sekadar soal siapa yang lolos, tapi bagaimana proses itu bekerja dan untuk siapa ia dilenturkan.
Nama dr. M. Indrawan Yachya muncul di pusaran sorotan. Ia masuk tiga besar kandidat, meski sebelumnya dipertanyakan dari sisi kelengkapan syarat.
Publik tak hanya melihat rekam jejak, tapi juga relasi Indrawan diketahui merupakan adik ipar Rektor Unila.
Masalahnya sederhana, tapi krusial syarat pengalaman manajerial.
Dalam pengumuman resmi, kandidat diwajibkan pernah menduduki jabatan strategis seperti wakil direktur, manajer rumah sakit, atau memiliki pengalaman manajemen rumah sakit minimal lima tahun.
Di titik ini, keraguan mulai tumbuh.
Namun kampus punya jawaban. Melalui Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat (BPKHM), Unila membantah adanya pelanggaran.
Seleksi, kata mereka, berjalan sesuai aturan tanpa intervensi pribadi.
Penilaian, lanjut BPKHM, tak sempit. Ia tak hanya membaca jabatan struktural, tapi juga pengalaman lain yang dianggap relevan.
Dalam kerangka ini, posisi Indrawan seperti Kepala Instalasi Rawat Inap, Ketua Sub Komite Mutu Profesi Komite Medik, hingga tim asesor internal akreditasi disebut masuk kategori manajerial.
Di sinilah tafsir mulai bermain.
Frasa “pengalaman lain dalam manajemen rumah sakit” menjadi pintu yang terbuka lebar.
Tidak kaku, tapi juga tidak sepenuhnya presisi. Ia memberi ruang dan dalam ruang itulah polemik tumbuh.
BPKHM menilai kegaduhan ini lahir dari pemahaman yang tak utuh.
Tapi publik melihatnya dari sisi berbeda ketika syarat bisa ditafsirkan luas, maka standar pun terasa bisa digeser.
Proses memang belum selesai. Tiga kandidat yang lolos Indrawan, dr. Yulita Tricia, dan dr. Wahdi Siradjudin masih harus melewati verifikasi lanjutan.
Secara administratif, peluang gugur masih terbuka. Namun secara etik, pertanyaan sudah terlanjur mengemuka.
Di tengah kontestasi jabatan strategis, transparansi bukan lagi pilihan ia kebutuhan.
Apalagi ketika relasi personal ikut terseret ke permukaan, sekecil apa pun celah akan terlihat besar.
Seleksi ini kini bukan hanya soal siapa yang paling layak, tapi apakah prosesnya cukup terang untuk dipercaya dilansir dari kanal web Helloindonesia.com pada Kamis, (9/4/2026).





