Onetime.id, Bandar Lampung – Di sudut belakang rumah sederhana di Jalan Pajajaran, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim Kota Bandar Lampung suara plastik berdesir bersahut dengan aroma kedelai yang menghangat. Di ruang sempit itu, Atika (35) menakar hidup bukan lagi sekadar tempe.
Tangannya cekatan. Kedelai yang telah diberi ragi dimasukkan ke plastik-plastik kecil. Sebagian sudah padat berwarna putih, sebagian lain masih menunggu waktu.
Rak-rak kayu menjadi saksi di sinilah dapur ekonomi bekerja diam-diam, jauh dari sorot kebijakan.
Kawasan Gunung Sulah sejak lama dikenal sebagai sentra tempe rumahan di Bandar Lampung. Puluhan keluarga menggantungkan hidup dari fermentasi kedelai. Tapi belakangan, yang mengembang bukan hanya tempe melainkan juga kecemasan.
Harga kedelai merangkak naik. Dari Rp 9.000, kini menyentuh Rp 11.000 per kilogram. Lonjakan itu mulai terasa bahkan sebelum Lebaran 2026.
Bagi perajin kecil seperti Atika, selisih dua ribu rupiah bukan angka melainkan selisih antara bertahan atau tumbang.
“Kedelai lagi naik, dari harga 9.000 sekarang hampir 11.000 per kilo,” ujar Atika, Selasa siang (7/4/2026), tanpa menghentikan pekerjaannya.
Pilihan menjadi sempit. Menaikkan harga jual berarti berjudi dengan pelanggan. Maka jalan sunyi ditempuh ukuran diperkecil, isi dikurangi tanpa banyak suara.
“Kalau harga dinaikin, orang-orang gak mau beli. Jadi paling isinya dikurangin sedikit,” katanya.
Fenomena ini dikenal diam-diam di dapur rakyat inflasi yang tak diumumkan. Harga tetap, tapi isi menyusut.
Tekanan tak berhenti di kedelai. Plastik pembungkus ikut melonjak, dari Rp 38.000 menjadi Rp 52.000 per pak.
Kenaikan yang bagi Atika terasa “tidak wajar” kata yang sering muncul dari mereka yang tak punya ruang tawar.
Dampaknya langsung terasa di kantong. Dengan produksi 45–50 kilogram per hari, laba yang dulu bisa mencapai Rp 200 ribu kini tergerus menjadi sekitar Rp 150 ribu.
Selisih itu bukan sekadar angka melainkan biaya sekolah anak, listrik, atau sekadar bertahan sampai esok.
Bagi Atika, tempe bukan komoditas. Ia adalah warisan. Ia ingat ketika tempe dijual Rp 500.
Kini, harga termurah menyentuh Rp 1.000 dan bahkan itu pun datang dengan ukuran yang tak lagi sama.
Di tengah fluktuasi pasar dan absennya intervensi yang terasa, harapan diarahkan ke satu alamat pemerintah.
“Pengennya harga kedelai stabil lagi. Kalau bahan stabil, kami kerjanya juga tenang,” ujarnya.
Sore mulai turun di Gunung Sulah. Atika masih bekerja, memasukkan kedelai ke plastik-plastik kecil. Di tangannya, tempe-tempe itu akan sampai ke meja makan warga.
Namun diam-diam, ada yang berubah: bukan hanya ukurannya tetapi juga daya tahan hidup para pembuatnya.






