Optimisme Pendidikan di Tengah Seremonial

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana dihadapan siswa SMPN 31 Bandar Lampung. Ilustrasi: onetime.id.

Onetime.id, Bandar Lampung – Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana kembali menegaskan keyakinan lama pemerintah masa depan sumber daya manusia bisa dimulai dari pembagian perlengkapan sekolah.

Pada Senin, 26 Januari 2026, di SMP Negeri 31 Bandar Lampung, Eva menyerahkan bantuan tas, sepatu, dan alat tulis kepada siswa SD dan SMP penerima program Bina Lingkungan (Biling).

Angkanya terbilang impresif. Sebanyak 11.420 siswa SD dan 6.822 siswa SMP tercatat menerima bantuan.

Jumlah yang cukup untuk menunjukkan dua hal sekaligus keseriusan pemerintah kota pada pendidikan dasar, dan fakta bahwa ribuan keluarga masih membutuhkan dukungan agar anaknya tetap bersekolah.

Dalam sambutannya, Eva kembali mengulang narasi klasik pembangunan manusia.

Sekolah, kata dia, adalah sarana membentuk generasi cerdas, terampil, dan berdaya saing bukan hanya di tingkat lokal, tapi juga internasional.

Dari halaman sekolah negeri di Bandar Lampung, visi itu melompat jauh melampaui pagar kelas.

“Melalui pendidikan yang berkualitas, anak-anak kita diharapkan mampu bersaing dan berprestasi,” ujar Eva, sembari menyinggung capaian sejumlah siswa Bandar Lampung di kompetisi nasional.

Soal mayoritas yang masih berjuang sekadar bertahan di bangku sekolah, pembahasan itu tak ikut naik ke podium.

Eva menegaskan pemerintah kota konsisten menjalankan program pendidikan gratis bagi siswa kurang mampu, termasuk rutinitas tahunan pembagian perlengkapan sekolah.

Program ini, menurutnya, dirancang untuk memastikan faktor ekonomi tak lagi menjadi alasan putus sekolah meski alasan lain tampaknya masih memerlukan perhatian lintas sektor.

“Ini wujud kepedulian dan kepekaan pemerintah,” kata Eva, kalimat yang hampir selalu hadir dalam setiap laporan seremonial pendidikan.

Bantuan perlengkapan sekolah itu kemudian ditautkan dengan kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandar Lampung.

Wajib belajar sembilan tahun, perbaikan sarana-prasarana, dan penurunan angka putus sekolah disebut sebagai fondasi keberhasilan sebuah rangkaian indikator yang rapi dalam dokumen perencanaan.

Eva juga menyebut keberhasilan pembangunan di sektor kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Semua, menurut dia, berjalan berkat partisipasi seluruh pihak sebuah frasa yang cukup lentur untuk memuat semua keberhasilan, dan cukup longgar untuk menghindari perincian kegagalan.

Di akhir acara, Eva berpesan agar siswa memanfaatkan perlengkapan sekolah dengan sebaik-baiknya dan belajar lebih giat.

Tas dan buku diharapkan menjadi lebih dari sekadar alat belajar simbol harapan bahwa pendidikan masih dipercaya sebagai jalan mobilitas sosial.

Apakah perlengkapan sekolah cukup untuk memastikan masa depan itu? Pemerintah memilih optimistis. Selebihnya, waktu dan rapor pendidikan yang akan memberi nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *