Onetime.id, Bandar Lampung – Kota Bandar Lampung menghadapi tantangan serius dalam pemerataan akses pendidikan menengah atas, meskipun capaian pendidikan dasarnya tergolong sangat tinggi.
Laporan Data Strategis Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung 2022–2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung mengungkap fenomena “kebocoran” partisipasi pendidikan yang kian melebar seiring kenaikan jenjang sekolah.
Pada 2024, Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SD/MI mencapai 98,84 persen.
Namun, angka tersebut menurun pada jenjang SMP/MTs menjadi 82,16 persen, lalu anjlok di tingkat SMA/SMK/MA menjadi hanya 68,48 persen.
Artinya, hampir 31,5 persen remaja usia 16–18 tahun di Bandar Lampung tidak bersekolah sesuai jenjang usianya.
BPS mencatat, partisipasi pendidikan menengah di kota ini masih rapuh dan berfluktuasi sepanjang 2022–2024.
Selain persoalan transisi antartingkat, kesenjangan ekonomi turut memperlebar jurang akses pendidikan.
Kelompok 20 persen penduduk dengan status ekonomi teratas memiliki persentase lulusan perguruan tinggi sebesar 45,61 persen. Sebaliknya, pada kelompok 40 persen terbawah, angkanya hanya 7,78 persen.
Kondisi ini menjadi paradoks di tengah capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bandar Lampung yang sudah masuk kategori “sangat tinggi”, dengan skor 81,26 pada 2025.
Meski Harapan Lama Sekolah (HLS) terus meningkat hingga 14,74 tahun, tingginya angka remaja yang tidak melanjutkan ke SMA tetap menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Dari sisi gender, BPS mencatat persentase perempuan yang menamatkan pendidikan tinggi pada 2024 lebih tinggi dibanding laki-laki masing-masing 21,00 persen dan 19,41 persen.
Namun, pada jenjang SMA/SMK sederajat, laki-laki masih mendominasi dengan 42,33 persen, sementara perempuan 38,47 persen.
Distribusi fasilitas pendidikan turut memengaruhi akses. Pada pendidikan dasar, sekolah negeri masih dominan dengan 180 SD negeri berbanding 86 swasta.
Namun, di jenjang menengah, ketergantungan pada sektor swasta sangat besar.
Tercatat 104 SMP swasta dibanding 45 negeri, 59 SMA swasta berbanding 17 negeri, serta 39 SMK swasta berbanding 10 negeri. Di pendidikan tinggi, dari 37 perguruan tinggi yang ada, 31 di antaranya merupakan institusi swasta, dengan Kecamatan Rajabasa sebagai pusat utama.
BPS mengaitkan indikator partisipasi pendidikan dengan kelompok usia: 7–12 tahun untuk SD, 13–15 tahun untuk SMP, dan 16–18 tahun untuk SMA. Sementara itu, HLS dihitung mulai usia 7 tahun, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dari penduduk usia 25 tahun ke atas, serta pendidikan tertinggi yang ditamatkan dari penduduk berusia 15 tahun ke atas.
Tingginya “kebocoran” pada jenjang menengah atas menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan dasar di Bandar Lampung belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesinambungan pendidikan.
Tanpa intervensi serius terutama perluasan akses SMA negeri dan kebijakan afirmatif bagi kelompok rentan bonus demografi yang diharapkan berisiko berubah menjadi beban sosial di masa depan.






