Onetime.id, Bandar Lampung – Semenjak dilantik sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung pada 3 September lalu, nama Mikdar Ilyas perlahan dikenal bukan hanya di ruang rapat dewan, tetapi juga di jalan-jalan desa, sudut pasar, serta ruang-ruang kecil tempat warga menyimpan cerita.
Di antara tumpukan dokumen resmi dan rapat-rapat pembahasan anggaran, Mikdar menyisihkan satu ruang yang ia sebut sebagai “jam mendengar”, waktu khusus untuk menampung keluhan warga tanpa sekat formalitas.
Bagi politisi dari Fraksi Gerindra itu, menjadi wakil rakyat bukan sekadar hadir saat sidang, melainkan menjemput suara sebelum menjadi aspirasi, dan mengawal aspirasi hingga menjelma kebijakan.
Ia percaya, keputusan besar sering kali lahir dari percakapan kecil yang tulus.
“Ada warga yang datang hanya untuk memastikan jalan dusunnya masuk pembahasan, ada yang curhat soal sekolah anaknya, dan ada ibu yang takut keluhannya dianggap remeh. Di situ saya merasa, tanggung jawab ini bukan tentang jabatan. Ini tentang kepercayaan,” ujar Mikdar suatu sore, seusai menghadiri musyawarah di sebuah balai desa.
Kerap kali, selepas rapat, Mikdar tak langsung pulang. Ia mampir ke warung kopi, berbincang dengan petani tentang musim panen, mendengar nelayan pesisir bercerita tentang cuaca dan gelombang, atau sekadar menenangkan warga yang risau kehilangan lahan.
Dari situ ia belajar satu hal: warga tidak meminta sesuatu yang besar, mereka hanya ingin suaranya tidak hilang.
Di ruang rapat DPRD, ia membawa cerita-cerita itu sebagai amunisi.
“Anggaran bukan sekadar angka. Di baliknya ada wajah-wajah yang saya temui,” katanya.
Mikdar sadar, jalan pengabdian masih panjang. Warga yang ia wakili datang dari latar belakang berbeda, dengan kebutuhan dan keresahan yang tak sama.
Namun ia memilih langkah yang sederhana: mendengar lebih banyak, bekerja lebih keras, dan berjarak lebih sedikit.
Sebab bagi Mikdar, dedikasi bukan diukur dari seberapa sering tampil di panggung, melainkan seberapa sering hadir dalam kegelisahan masyarakat yang diwakili.
Dan di situlah ia ingin berdiri di antara suara rakyat dan keputusan dewan menjahit harapan sedikit demi sedikit.
Kerap kali, selepas rapat, Mikdar tak langsung pulang. Ia mampir ke warung kopi, berbincang dengan petani tentang musim panen, mendengar nelayan pesisir bercerita tentang cuaca dan gelombang, atau sekadar menenangkan warga yang risau kehilangan lahan.
Dari kedekatan itulah lahir kerja-kerja nyata, Mikdar Ilyas mampu membuat petani singkong di Lampung tersenyum, bukan lewat janji.
Melainkan melalui keberpihakan yang diperjuangkan di ruang kebijakan mulai dari dorongan perlindungan harga, penguatan tata niaga, hingga keberanian membawa suara petani ke meja pembahasan dewan.
Dari situ ia belajar satu hal: warga tidak meminta sesuatu yang besar, mereka hanya ingin suaranya tidak hilang.
Apresiasi & Harapan Jajaran Redaksi Ontime.id
Atas dedikasi dan komitmen tersebut, jajaran Redaksi Ontime.id menyampaikan apresiasi sekaligus harapan agar semangat pengabdian Mikdar Ilyas terus terjaga.
Langkah yang telah dimulai sejak pelantikan pada September lalu menjadi penanda bahwa tugas seorang wakil rakyat tidak berhenti pada sumpah jabatan, tetapi terus bergerak bersama denyut kehidupan masyarakat yang diwakili.
Semoga tahun yang baru membawa ruang pengabdian yang lebih luas, menjahit lebih banyak harapan, serta menjaga suara rakyat tetap terdengar.
“Selamat Tahun Baru 2026.”
Semoga perjalanan baru menghadirkan kebaikan, kesempatan, dan keberanian untuk terus bekerja untuk masyarakat.
Hormat kami, jajaran Redaksi Ontime.id
Pemimpin Redaksi: Wildan Hanafi






