Onetime.id, Bandar Lampung – Gelombang penolakan terhadap wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto mengalir dari kampus. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandar Lampung melalui Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (PTKP) secara tegas menolak usulan itu.
Dalam pernyataan resminya, HMI menilai penetapan gelar tersebut berpotensi menyelewengkan makna kepahlawanan dan menutupi luka sejarah panjang bangsa.
“Penilaian terhadap seorang tokoh tidak boleh didasarkan pada keberhasilan ekonomi semata, tetapi juga harus mempertimbangkan penghormatan terhadap martabat manusia, demokrasi, dan keadilan sosial,” tulis HMI Cabang Bandar Lampung pada Senin, (10/11/2025) melalui laman resminya di Instagram @hmi_cabangbandarlampung.
HMI menegaskan, penghormatan terhadap sejarah bukan berarti memutihkan kesalahan masa lalu.
“Kami percaya bahwa menghormati sejarah bukan berarti memutihkan kesalahan, melainkan menegakkan kebenaran agar bangsa ini dapat melangkah ke depan dengan kepala tegak,” tegas pernyataan yang ditandatangani Ketua Bidang PTKP, Eriksen Rian Saputra.
Dalam dokumen sikap resminya, HMI menilai Soeharto memang memiliki kontribusi dalam pembangunan nasional dan menjaga stabilitas politik.
Namun, sejarah juga mencatat sisi kelam kekuasaannya: represi terhadap kebebasan berpendapat, pembungkaman gerakan mahasiswa, hingga praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang mengakar hingga kini.
“Dua sisi ini tidak bisa dipisahkan jika bangsa ingin memahami Soeharto secara utuh, bukan hanya sebagai tokoh pembangunan, tetapi juga simbol kompleksitas kekuasaan dalam sejarah Indonesia modern,” tulis isi didalam surat.
Bagi organisasi mahasiswa Islam tertua itu, legitimasi moral seorang pahlawan harus lahir dari keberanian menegakkan kebenaran dan integritas, bukan dari kompromi politik atau romantisme masa lalu.
“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang memuja sejarahnya secara buta, melainkan bangsa yang berani menguliti masa lalunya untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan,” tutup pernyataan itu dengan nada menohok.






