Onetime.id – Ada masanya sebuah daerah hanya disebut dalam desah, bukan dalam sorak.
Provinsi Lampung, yang beberapa waktu lalu nyaris luput dari pujian, justru kini menorehkan kisah yang layak dituturkan dengan penuh hormat dan harap.
Hanya selisih hari dari tanggal 7 hingga 10 Mei 2025, terjadi perubahan yang tidak hanya terukur oleh angka, tapi juga oleh rasa.
Sebab pada 7 Mei itu, Lampung masih tercatat sebagai provinsi dengan realisasi pendapatan terendah kedua secara nasional.
Namun, laksana tanah yang kembali menghijau setelah hujan pertama, angka-angka itu berbalik arah.
Per 10 Mei 2025, pendapatan daerah melompat ke 30,23%, sementara belanja daerah menembus 24,62% melampaui rata-rata nasional dan menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
“Dari mana datangnya lompatan itu?,” tanya publik dalam gumam keheranan.
Jawabannya bukan sulap, bukan juga fatamorgana fiskal.
Ia datang dari kehendak untuk mendengar, lalu bergerak.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal tidak membalas kritik dengan kata, tetapi dengan kerja. Tidak membangun narasi pembelaan, melainkan merancang langkah pemulihan.
Tiga simpul strategi ia kerjakan tanpa banyak hiruk:
1. Penataan kas disesuaikan bukan pada alur kertas, melainkan pada denyut pembangunan nyata.
2. Dana BOS dan BLUD tidak dibiarkan jadi cerita terpisah, melainkan dijahit masuk ke dalam pelaporan fiskal yang utuh.
3. Uang yang masuk tak semata mengendap, tapi segera mengalir menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Langkah-langkah ini bukan hanya teknokratis, tetapi juga filosofis bahwa keuangan daerah bukan sekadar neraca, tetapi napas rakyat.
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan, belanja pemerintah adalah penggerak ekonomi.
Lampung, dalam hening dan cekatannya, menjawab seruan itu bukan dengan wacana, tapi dengan hasil.
“Pemerintah yang kuat bukan yang sempurna sejak mula, tapi yang cepat belajar dan bersedia berubah,” ungkap seorang akademisi dari Universitas Lampung.
Dan dalam bingkai itu, kita melihat fiscal leadership bukan sebagai jargon, tapi sebagai kesanggupan untuk bertindak di tengah tekanan.
Maka kini, jika seseorang bertanya, “Apa kabar Lampung?” Jawabannya tidak hanya ada di angka, tapi juga di nurani bahwa sebuah provinsi bisa jatuh, bisa ditegur, namun juga bisa bangkit dengan kepala tegak dan langkah yang pasti.
Dalam wacana tata kelola yang kerap kering dari rasa, kisah ini mengajarkan bahwa keuangan daerah juga bisa menjadi puisi tentang keberanian, ketepatan, dan kerendahan hati dalam belajar dari kritik.
Lampung telah menulis babak baru, dengan tinta kebijakan dan kertas kepercayaan publik.
Kini tinggal bagaimana lembar selanjutnya dijaga, agar capaian hari ini tak hanya menjadi cerita sesaat, melainkan awal dari budaya baru dalam mengelola amanah rakyat.
Penulis: Dr. Saring Suhendro, S.E., M.Si., Ak., CA. adalah Akademisi dan Peneliti Keuangan Publik Universitas Lampung, Pengurus ISEI Lampung.






