Onetime.id – Orang Biasa Bernama Mirza. Mirza, anak muda pencinta kopi, asap tembakau menari di jemari.
Rambut gondrong, langkah tak henti, Menatap negeri yang penuh ironi.
Kongkalikong di meja kekuasaan, Drama usang, lakon murahan.
Suaranya bising, tapi gaduh sendiri, Sementara raja duduk sunyi.
Kata-kata lebih tajam dari peluru, Tapi ditembak tanpa tentu. Mereka tertawa, bersepakat diam, Rakyat menunggu, perut tenggelam.
Bicara efisiensi, melaju dengan fancy, Bicara anggaran, pengangguran ditambah lagi.
Bantuan sosial jadi tali kendali, Agar tunduk, agar tetap sunyi.
Selamat datang, Orde Baru, Duri mawar serakahmu kan menusukmu.
Biarkan luka yang kau buat membusuk, Hingga keadilan datang menikammu.
Mirza tahu, rumput tetap tumbuh, Meski kau coba cabut dan tumpas. Perlawanan tak akan luruh,
Sebab kekuasaan tak pernah abadi.






