Mikdar Ilyas Nilai MBG Sukses, Gizi Terpenuhi Lapangan Kerja Terbuka

Anggota DPRD Lampung, Mikdar Ilyas bersama komedian handal Azis Gagap saat diwawancarai awak media. Foto: Wildanhanafi/onetime.id.

Onetime.id, Bandar Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja dan melibatkan banyak relawan di berbagai daerah.

Sejumlah pihak mulai dari anggota DPRD Lampung, pelaku seni, hingga organisasi relawan menyoroti manfaat sekaligus pentingnya edukasi publik dalam pelaksanaan program tersebut.

Anggota DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menilai program MBG menjadi bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan yang membutuhkan akses makanan bergizi secara rutin.

Menurut Mikdar, manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, baik sebagai penerima manfaat maupun tenaga yang bekerja di dapur umum MBG.

“Inilah saatnya masyarakat merasakan perhatian besar dari pemerintah pusat dan Presiden. Kalau pun ada yang belum puas, itu hal biasa dan bisa menjadi masukan untuk perbaikan,” kata Mikdar pada Sabtu, malam (24/5/2026).

Ia menjelaskan, satu dapur MBG dapat melayani sekitar 2.000 hingga 2.500 penerima manfaat.

Jumlah tersebut dinilai cukup besar karena menyasar pelajar, santri, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.

Menurut dia, program tersebut membantu masyarakat memperoleh makanan bergizi yang sebelumnya belum tentu bisa dinikmati secara rutin setiap hari.

“Sekarang anak-anak bisa rutin mendapatkan telur, ayam, ikan, daging sapi, tahu, tempe, dan sayuran. Ini terobosan yang sangat baik,” ujarnya.

Selain pemenuhan gizi, Mikdar juga menilai program MBG turut membuka lapangan pekerjaan baru melalui perekrutan pekerja dan relawan dapur umum.

Ia menegaskan, DPRD memiliki fungsi pengawasan terhadap seluruh program yang menggunakan anggaran pemerintah, termasuk pelaksanaan MBG di setiap dapur umum.

“Kalau ada keluhan dari masyarakat tentu akan kami lihat dan kami cek apakah benar atau tidak. Kalau memang ditemukan kekurangan, tentu akan diberikan masukan kepada pengelola dapur agar pelayanan kepada penerima manfaat lebih baik,” katanya.

Terkait kritik masyarakat mengenai menu makanan yang dinilai kurang variatif dan masih didominasi telur, Mikdar menyebut tujuan utama program tersebut adalah memastikan kebutuhan gizi harian penerima manfaat tetap terpenuhi.

“Yang penting kebutuhan gizinya terpenuhi setiap hari. Namun tentu ke depan diharapkan menu bisa semakin baik dan lebih bervariasi,” ujarnya.

Sementara itu, aktor dan komedian senior Azis Gagap menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait mekanisme dan manfaat program MBG agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menurut Azis, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh mengenai pelaksanaan program, termasuk tantangan yang dihadapi di lapangan.

“Jangan sampai informasi yang diterima masyarakat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Program ini juga menjadi bagian dari edukasi sosial, sehingga masyarakat perlu memahami bagaimana mekanisme dan manfaatnya,” kata Azis.

Ia menilai para pemangku kepentingan, termasuk wakil rakyat, perlu aktif menyampaikan perkembangan program melalui berbagai media agar informasi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Azis juga menyoroti keterlibatan relawan yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar dapur MBG.

Menurutnya, para relawan tidak langsung bekerja begitu saja, tetapi mendapatkan pembekalan terlebih dahulu mengenai cara kerja, penggunaan alat, hingga kebersihan saat bekerja.

“Tidak semua relawan langsung memahami tugasnya. Mereka diberikan teori dan praktik, bagaimana bekerja dengan baik, memahami alat, sampai menjaga kebersihan fisik maupun mental saat bekerja,” ujarnya.

Ia mengaku melihat antusiasme tinggi dari masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, yang ikut terlibat dalam program tersebut.

“Banyak ibu-ibu yang antusias. Ini menjadi peluang bagi mereka yang sebelumnya mungkin sulit mendapatkan pekerjaan di tempat lain,” katanya.

Azis menilai keberadaan dapur MBG juga berpotensi membantu mengurangi angka pengangguran karena satu dapur dapat melibatkan puluhan pekerja.

“Kalau satu dapur saja bisa melibatkan puluhan orang, bayangkan jika jumlah dapur semakin banyak. Ini tentu bisa membantu membuka lapangan pekerjaan,” sambungnya.

Di sisi lain, Ketua Umum REL MBG, Roy Marjuk, menekankan pentingnya perlindungan dan penghargaan terhadap relawan yang terlibat dalam program tersebut.

Menurut Roy, meskipun relawan dan karyawan memiliki perbedaan status dalam aturan ketenagakerjaan, relawan tetap memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan saat bekerja.

“Relawan ini juga manusia. Mereka punya hak untuk mendapatkan perlindungan dan apresiasi yang sama,” tegas Roy.

Ia mengatakan para relawan saat ini telah mendapatkan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan guna mengantisipasi risiko kerja di lapangan, termasuk saat bertugas di dapur umum maupun proses distribusi.

“Kalau terjadi insiden saat bertugas, sudah ada jaminan dari BPJS. Ini bentuk perlindungan yang harus kita pahami bersama,” ujarnya.

Roy juga menyoroti dedikasi relawan yang kerap bekerja tanpa mengenal batas waktu demi menyelesaikan tugas.

“Relawan ini pantang pulang sebelum pekerjaan selesai. Mereka bekerja dengan hati, bukan sekadar kewajiban,” katanya.

Ia berharap program MBG terus diperbaiki agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat, baik dalam pemenuhan gizi maupun penyerapan tenaga kerja.

“Mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk kemanusiaan dan masa depan Indonesia,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *