Prof Asep Sukohar: Dari Pelayanan Kesehatan, Riset, hingga Membangun Masa Depan Unila

Ilustrasi Prof Asep Sukohar.

BANDAR LAMPUNG – Perjalanan akademik tidak selalu dimulai dari ruang kuliah atau laboratorium. Bagi Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP, perjalanan panjangnya justru berawal dari ruang-ruang pelayanan kesehatan, ketika ia mengabdikan diri sebagai dokter di sejumlah fasilitas kesehatan sebelum menapaki dunia pendidikan tinggi.

Kini, setelah lebih dari dua dekade mengabdi di Universitas Lampung (Unila), Asep menjadi salah satu figur yang memiliki rekam jejak dalam pengembangan pendidikan kedokteran, tata kelola perguruan tinggi, penelitian, hingga pembangunan infrastruktur kesehatan kampus.

Namanya kembali menjadi perhatian dalam kontestasi pemilihan Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031.

Mengusung tagline EXCELLENT, Asep menawarkan pengalaman panjang yang tidak hanya bertumpu pada jabatan struktural, tetapi juga kontribusi dalam membangun sejumlah fondasi kelembagaan Unila.

Berawal dari pelayanan kesehatan

Sebelum dikenal sebagai akademisi, Asep menjalani profesi dokter pada 1995. Ia pernah bertugas sebagai dokter ICU RSPAD dan dokter di Paviliun Kartika pada 1995–1996.

Pengabdiannya berlanjut sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) pada 1996–1999.

Dalam periode tersebut, ia dipercaya memimpin sejumlah puskesmas di Lampung dan wilayah yang kini menjadi Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Ia pernah menjabat Kepala Puskesmas Rantau Tijang, Kabupaten Tanggamus, pada 1996–1997, kemudian Kepala Puskesmas Gadingrejo pada 1997–1999.

Pada 2000–2001, ia bertugas sebagai Kepala Puskesmas Linau Bintuhan, Kecamatan Linau, Kabupaten Kaur.

Pengalaman di pelayanan kesehatan primer itu menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum bergabung sebagai dosen Universitas Lampung pada 2002 hingga sekarang.

Ikut meletakkan fondasi pendidikan kedokteran Unila

Salah satu catatan penting dalam perjalanan Asep adalah keterlibatannya dalam persiapan pendirian Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unila.

Pada 2001, ia masuk dalam Tim Teknis Persiapan Penyelenggaraan Pendidikan Fakultas Kedokteran Unila.

Setahun kemudian, ia kembali terlibat dalam Panitia Persiapan Pembukaan Fakultas Kedokteran.

Program Pendidikan Dokter tersebut mulai beroperasi pada 2002.

Kontribusinya dalam pengembangan pendidikan kesehatan berlanjut melalui pengembangan Program Studi Farmasi Unila pada 2018, yang menerima mahasiswa angkatan pertama pada 2019.

Ia juga terlibat dalam gagasan awal pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi pada 2017, yang kemudian memasuki tahap soft opening pada 28 Juni 2021.

Tidak berhenti di situ, Asep turut berkontribusi dalam perencanaan, pendampingan, dan penguatan kurikulum Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker yang berdiri pada 2 April 2024. Program tersebut menerima angkatan pertamanya pada Agustus 2026.

Rangkaian pengalaman itu memperlihatkan keterlibatannya dalam pengembangan ekosistem pendidikan kesehatan di Unila, dari pendidikan dokter hingga pendidikan profesi dan spesialis.

Dari ruang birokrasi menuju transformasi digital

Pengalaman manajerial Asep semakin teruji ketika dipercaya menjadi Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila periode 2020–2023.

Dalam posisi tersebut, salah satu agenda yang didorong adalah penguatan digitalisasi tata kelola universitas.

Cakupannya meliputi integrasi sistem informasi keuangan, kepegawaian, pengukuran kinerja, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Pada 2022, ia secara eksplisit mendorong integrasi berbagai data Unila ke dalam satu sistem dashboard pimpinan atau Executive Dashboard.

Sistem tersebut diarahkan menjadi instrumen monitoring sekaligus pendukung pengambilan keputusan pimpinan universitas.

Penguatan layanan digital juga tercermin dalam peluncuran SIKEBAS (Sistem Keringanan dan Bebas UKT) pada 11 Januari 2022, yang mempermudah mahasiswa mengajukan keringanan biaya pendidikan.

Sebelumnya, pada September 2021, Unila juga mengembangkan transformasi digital pelayanan vaksinasi COVID-19.

Di bidang pengembangan sumber daya manusia, Asep turut mendorong percepatan kenaikan jabatan akademik melalui sistem Penilaian Angka Kredit (PAK).

Dalam rekam jejak yang disampaikan, jumlah guru besar Unila meningkat dari 67 orang pada awal 2019 menjadi 118 orang pada November 2023, dan mencapai 173 orang pada 2026.

RSPTN dan gagasan integrasi pendidikan-kesehatan

Salah satu pengalaman strategis Asep lainnya adalah keterlibatannya dalam pembangunan dan pengembangan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Lampung.

Keterlibatan tersebut telah berlangsung sejak tahap persiapan pembangunan rumah sakit pendidikan pada 2015.

Pada 2020, ketika menjabat Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, ia terlibat langsung dalam finalisasi desain RSPTN.

Konsep yang didorong adalah rumah sakit pendidikan yang terintegrasi dengan riset, pembelajaran, teknologi informasi, serta prinsip smart and green building.

Keterlibatannya berlanjut melalui koordinasi Tim RSPTN pada 2021 dan akselerasi Project Implementation Unit (PIU) RSPTN pada 2022.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal manajerial yang relevan dalam mengembangkan hubungan antara pendidikan tinggi, penelitian, dan pelayanan kesehatan.

Peneliti yang menekuni kanker dan mikroRNA

Di luar aktivitas birokrasi kampus, Asep juga menekuni bidang penelitian farmakologi onkologi dan farmasi klinis.

Salah satu fokus penelitiannya adalah pengembangan potensi bahan alam sebagai antikanker.

Sejumlah bahan yang diteliti meliputi kopi dengan kandungan asam klorogenat dan kafein, tanaman jarak dengan senyawa jatrophone dan curcose B, melinjo dengan kandungan resveratrol, serta sirsak yang mengandung acetogenin.

Ia juga tercatat sebagai salah satu pionir penelitian mikroRNA di lingkungan Unila, khususnya miRNA-146A yang dikaji sebagai biomarker dan pemetaan gen pada karsinoma hepatoseluler atau kanker hati.

Penelitian yang dimulai sejak awal 2010-an itu mencakup penggunaan miR-423-3p sebagai gen referensi untuk normalisasi ekspresi miRNA-146A, pemetaan ekspresi mikroRNA pada sel Hep-G2 dan PLC5, hingga pengembangan kandidat perangkat diagnostik berbasis miRNA-146A.

Pada 2014, penelitiannya melaporkan penggunaan miR-423-3p sebagai reference gene dalam normalisasi ekspresi miRNA-146A pada sel Hep-G2.

Membangun jejaring akademik internasional

Pengalaman Asep juga mencakup pengembangan kerja sama internasional di bidang kedokteran.

Sejumlah institusi yang tercatat dalam rekam jejaknya antara lain University of Ostrava, Republik Ceko, pada 2018; Bradford University dan Newton Foundation, Inggris, pada 2016; Boonshoft School of Medicine at Wright State University serta University of Kentucky College of Medicine, Amerika Serikat, pada 2016.

Pada 2025 dan 2026, kerja sama penelitian internasional juga dijalin antara Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Sirindhorn College of Public Health, Provinsi Yala, Thailand.

Pengalaman organisasi dan kepemimpinan profesi

Di luar kampus, Asep memiliki perjalanan panjang dalam organisasi profesi kedokteran.

Ia pernah menjabat Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI Wilayah Lampung periode 2011–2014, kemudian Ketua IDI Wilayah Lampung selama dua periode, yakni 2015–2018 dan 2018–2023.

Ia juga tercatat sebagai anggota MKEK Pusat periode 2022–2025 dan kembali dipercaya untuk periode 2025–2028.

Selain itu, ia pernah menjadi Ketua Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (KMKB) BPJS Kesehatan Provinsi Lampung periode 2016–2017, serta Ketua Dewan Pengawas RSUD Abdul Moeloek dan anggota Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Lampung periode 2015–2018.

Pada 7 Juni 2026, Asep juga tercatat sebagai Ketua Dewan Jamu Indonesia Lampung. Ia turut memimpin PDNU Lampung sejak 2020 hingga sekarang.

EXCELLENT dan tantangan kepemimpinan Unila

Dengan perjalanan dari dokter pelayanan kesehatan, dosen, peneliti, pengelola fakultas, hingga Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Asep membawa pengalaman lintas bidang dalam pencalonannya sebagai Rektor Unila periode 2027–2031.

Rekam jejak tersebut menunjukkan keterlibatan dalam tiga ranah penting perguruan tinggi penguatan akademik, tata kelola kelembagaan, serta pengembangan riset dan layanan kesehatan.

Namun, pengalaman dan capaian masa lalu bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang calon pemimpin perguruan tinggi.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi kebijakan yang terukur, transparan, dan berdampak bagi sivitas akademika.

Tagline EXCELLENT yang diusung Asep pada akhirnya akan diuji melalui kemampuannya menjawab kebutuhan Unila ke depan memperkuat mutu pendidikan, meningkatkan produktivitas riset, membangun tata kelola yang akuntabel, serta memperluas daya saing universitas di tingkat nasional maupun internasional.

Sebab, membangun universitas bukan sekadar mengelola institusi, melainkan memastikan ilmu pengetahuan, integritas, dan pelayanan publik tumbuh bersama. Di situlah rekam jejak seorang akademisi menemukan makna sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *