Onetime.id, Bandar Lampung – Geopolitik global kini tidak lagi berhenti pada ruang diplomasi dan militer.
Geopolitik telah masuk ke ruang ekonomi dan memengaruhi biaya logistik, harga energi, arus modal, serta keputusan investasi.
Dalam konteks geopolitik yang penuh ketidakpastian, kepastian distribusi adalah nilai ekonomi yang sangat penting.
Platform strategis bisnis juga menuntut kemampuan membaca perubahan pasar dan arah ekonomi masa depan. Fungsi ini bukan sesuatu yang terpisah dari platform, melainkan bagian dari platform itu sendiri.
Platform yang kuat harus mampu memadukan pergerakan barang dengan informasi, investasi dengan kebutuhan pasar, serta komoditas dengan arah transformasi ekonomi. Karena itu, Lampung tidak cukup hanya membangun infrastruktur keras.
Lampung juga perlu memastikan bahwa ekosistem bisnisnya mampu mengenali perubahan harga energi, pergeseran permintaan global, peluang relokasi industri, dan kebutuhan investasi baru.
Kemampuan membaca dinamika itu merupakan ciri penting dari platform yang matang.
Peluang besar lain muncul pada sektor bioenergi. Pada 2026, proyek bioetanol di Lampung memasuki tahap baru dengan target konstruksi dimulai pada kuartal III.
Investasi proyek ini mencapai sekitar Rp2,5 triliun, dengan kapasitas komersial ditargetkan mencapai 60.000 kiloliter per tahun.
Proyek ini penting karena mempertemukan pertanian, industri, dan energi dalam satu rantai nilai.
Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap gejolak energi fosil, bioetanol memberi Lampung kesempatan untuk masuk ke ekonomi hijau.
Jika hal ini berhasil dikembangkan, maka Lampung tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai basis bioindustri nasional.
Pada akhirnya, guncangan geopolitik memang membawa ancaman, tetapi juga membuka peluang reposisi.
Lampung memiliki komoditas, lokasi, pelabuhan, jaringan jalan, dan peluang industri yang cukup untuk naik kelas.
Tantangannya bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana menyatukan seluruh potensi itu ke dalam satu arah pembangunan.
Jika Lampung tetap bertahan sebagai pemasok bahan mentah dan lintasan distribusi, manfaat ekonominya akan tetap terbatas.
Namun jika Lampung mampu membangun dirinya sebagai platform strategis bisnis nasional, maka provinsi ini tidak hanya akan mengalirkan barang, tetapi juga mengendalikan nilai tambah, menarik investasi, dan menentukan peran yang lebih besar dalam ekonomi Indonesia.
Penulis adalah Prof. Dr. Nairobi Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lampung.






