Onetime.id, Bandar Lampung – Kenaikan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Bandar Lampung.
Lonjakan biaya kemasan itu memaksa produsen menghitung ulang ongkos produksi, di tengah upaya menahan harga jual.
Dampak tersebut dirasakan salah satunya oleh pabrik tahu milik H. Tikno di kawasan Way Halim. Manajer pabrik, Silvi, mengatakan harga plastik naik signifikan dalam waktu singkat.
“Biasanya satu karung Rp720 ribu, sekarang bisa sampai Rp1 juta. Ada kenaikan sekitar Rp300 ribu,” kata Silvi pada Rabu, (8/4/2026).
Menurut dia, selama kenaikan masih terbatas, harga tahu dan tempe belum disesuaikan. Namun, jika tren berlanjut, penyesuaian dinilai sulit dihindari.
“Kalau terus naik, kemungkinan harga ikut naik,” ujarnya.
Dalam operasionalnya, pabrik tersebut mengolah sekitar 2 hingga 3 ton kedelai per hari.
Produk yang dihasilkan dipasarkan ke sejumlah wilayah di Lampung, seperti Gisting, Kotagajah, hingga Hanura.
Kenaikan harga plastik juga berdampak pada anggaran rutin. Jika sebelumnya biaya pembelian plastik sekitar Rp2 juta per pekan, kini meningkat menjadi sekitar Rp4 juta.
“Kenaikannya sudah beberapa minggu. Anggaran jadi dua kali lipat,” kata Silvi.
Sebagai langkah antisipasi, manajemen mulai mempertimbangkan alternatif kemasan non-plastik, seperti daun.
Namun, opsi tersebut masih dalam tahap uji coba.
“Penggunaan daun masih kami evaluasi. Belum diterapkan,” ujarnya.
Di sisi lain, upaya penggunaan kedelai lokal juga belum membuahkan hasil. Silvi menilai kualitas bahan baku belum memenuhi standar produksi.
“Sudah pernah dicoba, tapi hasilnya tidak sesuai. Tidak mengembang, tidak maksimal,” kata dia.
Kenaikan harga plastik menjadi tekanan tambahan bagi industri tahu dan tempe, yang selama ini bergantung pada stabilitas bahan baku dan kemasan untuk menjaga harga tetap terjangkau.






