Baduy Menolak Lupa, Adat Dijaga Alam Dipelihara

Ketua IJP Lampung Abung Mamasa sedang menikmati keindahan alam disuku Badui luar. Foto: Wildan hanafi/onetime.id.

Onetime.id, Bandar Lampung – Di tengah derasnya modernisasi dan ekspansi pembangunan, masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, tetap teguh memegang pikukuh karuhun amanat leluhur yang menjadi fondasi hidup mereka.

Komitmen itu ditegaskan tokoh adat Baduy Luar, Kang Udil.

Menurutnya, menjaga adat bukan sekadar merawat tradisi, melainkan memastikan keseimbangan alam tetap terpelihara.

“Kami hidup bukan untuk mengejar banyak. Kami hidup untuk menjaga titipan. Tanah tidak boleh dijual, hutan tidak boleh ditebang sembarangan, dan kami tetap bertani tanpa bahan kimia. Itu tidak boleh berubah,” ujar Kang Udil saat berbincang dengan belasan pewarta Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung di Kanekes, Selasa (10/2/2026) dengan lembut menjelaskannya.

Kang Udil menjelaskan, masyarakat Baduy terbagi dua, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar berperan sebagai wilayah penyangga yang berinteraksi dengan dunia luar, menerima tamu, sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi seperti menjual kain tenun, madu hutan, dan gula aren.

Namun, keterbukaan itu tidak mengendurkan aturan adat.

“Kami tidak menolak tamu, tapi tamu harus menghormati adat. Kalau adat rusak, kami kehilangan jati diri,” tegasnya.

Di Baduy Dalam, aturan hidup lebih ketat. Warga tidak menggunakan listrik, kendaraan, maupun alat elektronik.

Pola hidup sederhana, bertani tradisional, dan menjaga hutan menjadi prinsip yang tak boleh dilanggar.

“Kami diajarkan untuk tidak rakus. Ambil secukupnya, tanam kembali, jaga alam seperti menjaga orang tua,” tambahnya.

Sementata itu, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lebak, Bambang SP, menegaskan perlindungan terhadap masyarakat adat Baduy telah diperkuat melalui Peraturan Daerah (Perda).

“Baduy adalah identitas Lebak, mereka bukan sekadar destinasi wisata, tetapi komunitas adat dengan sistem nilai dan hukum yang hidup. Negara wajib hadir untuk melindungi,” ujarnya.

Menurut Bambang, penguatan regulasi wilayah adat, perlindungan kawasan hutan, serta pengawasan aktivitas luar menjadi prioritas agar pembangunan tidak berbenturan dengan nilai budaya.

“Pembangunan tidak boleh memaksa perubahan budaya. Modernisasi harus menghormati batas adat. Pemerintah harus menjadi mitra dialog, bukan tekanan,” tegasnya.

Kunjungan belasan pewarta IJP Lampung ke Kanekes dijamu langsung oleh Bambang selaku legislator daerah pemilihan setempat.

Selanjutnya, Ketua IJP Lampung Abung Mamasa, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan serta konsistensi masyarakat Baduy menjaga adat dan lingkungan.

“Apa yang kami lihat di Baduy bukan sekadar tradisi, tetapi contoh nyata bagaimana alam dan budaya dijaga konsisten di tengah modernisasi,” ujarnya.

Ia berharap, kehadiran insan pers dalam kunjungan tersebut dapat menjadi jembatan informasi untuk memperluas pemahaman publik tentang pentingnya perlindungan masyarakat adat sebagai bagian dari identitas dan kekayaan bangsa.

“Baduy sudah mendunia. Semoga kita ikut menjaga kelestarian alam, adat, dan budayanya,” tutup Abung Mamasa dengan terkesimak dengan keindahan alam hingga kearifan lokal yang terus dijaga menjaga bumi Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *