Budiyono: Keteladanan dan Tanggung Jawab Peradaban

Onetime.id, Bandar Lampung – Peradaban tidak pernah dibangun hanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau kekayaan.

Peradaban tumbuh melalui orang-orang yang bersedia menanamkan pengetahuan, menjaga nilai-nilai, dan memberikan teladan bagi generasi setelahnya.

Dalam dunia pendidikan, dosen memiliki posisi yang sangat penting dalam proses tersebut.

Ia bukan hanya seseorang yang berdiri di depan ruang kelas untuk menyampaikan teori, melainkan figur intelektual yang memikul tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan orientasi kehidupan mahasiswa.

Dalam kerangka itulah sosok Budiyono yang pada saat penulis selesai menuliskan opini ini beliau telah memijakan perjalanan hidupnya yang ke-52 tahun yang menjadi titik berangkat untuk merefleksikan kembali makna keteladanan dan tanggung jawab seorang pendidik terhadap peradaban.

Menjadi dosen bukanlah perjalanan yang semata-mata ditentukan oleh pencapaian akademik.

Di balik profesi tersebut, ia menghentak langkah panjang yang menuntut ketekunan, kedisiplinan, pengorbanan, dan kesediaan untuk terus belajar serta berdampak bagi banyak orang.

Gelar akademik mungkin menjadi penanda capaian intelektual, tetapi ia bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang Budiyono.

Ada dimensi yang jauh lebih mendasar, yakni bagaimana pengetahuan yang dimiliki diterjemahkan menjadi kebijaksanaan, bagaimana kewenangan dijalankan dengan tanggung jawab, dan bagaimana kehadirannya memberikan pengaruh positif bagi orang-orang yang belajar darinya.

Pada titik inilah perjalanan seorang dosen menemukan makna yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian karier.

Keteladanan yang tidak lahir dari panggung pidato yang panjang atau nasihat yang disampaikan berulang kali.

Sering kali, keteladanan justru tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Cara seseorang memperlakukan orang lain, kesediaannya mendengarkan perbedaan pendapat, keteguhannya memegang prinsip, serta kerendahan hatinya dalam menghadapi kritik merupakan bagian dari pendidikan yang tidak tertulis dalam kurikulum perkuliahan.

Penulis seringkali berbeda pandangan, pendapat bahkan perspektif melihat suatu hal dengan beliau.

Akan tetapi, cara beliau menghargai pandangan, pendapat dan perspektif yang tidak ditemukan disebagian besar Akademisi Fakultas Hukum menjadi sesuatu hal yang istimewa, bahkan ia tak pernah sekalipun menanggapi perbedaan pendapat dan perspektif dengan penulis sebagai hal yang sukar dipahami karena penulis yang masih menempuh studi pendidikan sarja.

Mahasiswanya mungkin dapat melupakan sebagian materi yang disampaikan di ruang kelas, tetapi pengalaman berhadapan dengan seorang pendidik yang terbuka dalam berbagai hal dapat meninggalkan kesan yang bertahan jauh lebih lama.

Sebab, manusia tidak hanya belajar dari apa yang didengarnya, tetapi juga dari apa yang disaksikannya.

Dalam konteks tersebut, Budiyono menjadi nama yang dapat direnungkan melalui pertanyaan mendasar apa yang sesungguhnya membuat seorang dosen layak diteladani?

Apakah kedalaman pengetahuannya, pencapaian kariernya, atau justru kesanggupannya menjaga nilai-nilai yang diyakininya ketika berhadapan dengan berbagai keadaan? Pertanyaan ini penting karena dunia akademik tidak boleh terjebak dalam pemujaan terhadap gelar, jabatan, dan prestise kelembagaan.

Keunggulan akademik semestinya berjalan beriringan dengan integritas personal.

Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah, sementara kewenangan tanpa keteladanan berisiko melahirkan jarak antara apa yang diajarkan dan apa yang dipraktikkan.

Budiyono merasa tidak cukup hanya menghendaki mahasiswanya menjadi pintar.

Ia juga perlu mendorong mereka menjadi manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Kecerdasan yang tidak disertai kepekaan sosial dapat melahirkan individu yang pandai membenarkan kepentingannya sendiri, tetapi gagal memahami penderitaan orang lain.

Cara pandang Budiyono yang melihat Universitas Lampung tidak semata-mata menghasilkan lulusan yang terampil bersaing di pasar kerja.

Unila di matanya juga harus melahirkan manusia yang memiliki keberanian moral, menghargai martabat sesama, serta sanggup membedakan antara sesuatu yang menguntungkan dan sesuatu yang benar.

Ia mengilhami betul bahwa tugas seorang pendidik menjadi penting karena ia turut menentukan nilai-nilai yang dibawa mahasiswa ketika kelak memasuki ruang-ruang pengambilan keputusan dalam masyarakat.

Tanggung jawab tersebut semakin relevan di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Masyarakat menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan sosial, krisis integritas, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kecenderungan menempatkan keberhasilan material sebagai ukuran utama kehidupan.

Dalam situasi seperti ini, perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas sosial.

Beliau harus tetap memandang Universitas Lampung menjadi ruang tempat akal sehat dipelihara, kebenaran diuji, ketidakadilan dipersoalkan, dan gagasan tentang kehidupan yang lebih baik diperjuangkan.

Di sinilah makna tanggung jawab peradaban menemukan relevansinya. Peradaban bukan hanya tentang kemajuan teknologi, pembangunan gedung-gedung megah, atau meningkatnya jumlah orang yang memperoleh gelar akademik.

Peradaban juga menyangkut kualitas hubungan antarmanusia, penghormatan terhadap keadilan, kemampuan menerima perbedaan, serta kesediaan menggunakan pengetahuan demi kepentingan yang lebih luas.

Seorang Budiyono berkontribusi terhadap peradaban ketika ia membantu mahasiswanya memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan alat untuk meninggikan diri di hadapan orang lain, melainkan sarana untuk memperluas pemahaman dan menyelesaikan persoalan kehidupan.

Dengan demikian, ruang kelas sesungguhnya merupakan salah satu tempat penting bagi masa depan masyarakat dipersiapkan.

Namun, penulis tentu menyadari bahwa keteladanan tidak boleh dipahami sebagai tuntutan agar Budiyono selalu tampak sempurna.

Pendidik sepertinya juga manusia yang dapat menghadapi keterbatasan, melakukan kekeliruan, dan mengalami proses pembelajaran.

Justru di situlah integritas memperoleh maknanya, keberanian untuk mengakui kekurangan, kesediaan memperbaiki diri, dan keteguhan untuk tidak mengorbankan prinsip demi kenyamanan sesaat.

Keteladanan yang autentik bukanlah pencitraan tentang sosok tanpa cela, melainkan konsistensi dalam mempertanggungjawabkan tindakan dan kesediaan untuk terus bertumbuh.

Sikap semacam ini mengajarkan penulis bahwa menjadi manusia berintegritas bukan berarti tidak pernah salah, tetapi tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Bagi penulis, kehadiran Budiyono yang memberikan teladan juga menghadirkan pelajaran penting tentang makna keberhasilan.

Jabatan yang baik tidak semestinya membuat seseorang kehilangan kerendahan hati. Pencapaian intelektual tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari realitas masyarakat.

Begitu pula kewenangan akademik tidak seharusnya mengurangi kesediaan untuk berdialog dengan penulis yang memiliki pandangan berbeda.

Keberhasilan seorang Budiyono sebagai seorang pendidik akhirnya tidak hanya dapat dibaca dari perjalanan profesionalnya, tetapi juga dari nilai-nilai yang tumbuh dalam diri mahasiswa setelah mereka berinteraksi dengannya.

Pengaruh semacam itu mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dapat menemukan bentuknya bertahun-tahun kemudian, ketika seorang mahasiswa mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, atau memilih berdiri di pihak keadilan.

Karena itu, membicarakan Budiyono melalui tema keteladanan dan tanggung jawab peradaban seharusnya membawa kita pada refleksi yang lebih luas daripada penilaian terhadap seorang individu.

Kita perlu bertanya tentang model pendidikan yang sedang kita bangun, karakter akademisi yang hendak kita hadirkan, dan nilai-nilai yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Apakah perguruan tinggi hanya akan menjadi tempat mengejar gelar dan mengembangkan karier, atau tetap menjadi ruang pembentukan manusia yang berpikir merdeka, bertindak etis, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat? Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya melalui kurikulum dan regulasi kelembagaan.

Jawabannya juga bergantung pada kualitas hubungan antara dosen dan mahasiswa serta teladan yang hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Terakhir yang dapat di refleksikan oleh penulis, keteladanan seorang pendidik memperoleh maknanya ketika nilai-nilai yang diperjuangkannya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi tumbuh dalam cara berpikir dan bertindak generasi yang dididiknya.

Nama seseorang mungkin dikenang melalui jabatan dan pencapaian, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan orang lain dapat menjadi warisan yang jauh lebih panjang.

Dalam pengertian inilah, Budiyono menjadi pintu masuk untuk merenungkan kembali bahwa menjadi dosen bukan semata-mata tentang mengajar, meneliti, atau membangun karier akademik.

Menjadi dosen juga berarti menerima tanggung jawab untuk menjaga akal sehat, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan bagi Universitas Lampung, Lampung dan Indonesia.

Sebab, peradaban tidak dibangun dalam satu malam, dan masa depan tidak lahir hanya dari gagasan-gagasan besar.

Keduanya tumbuh melalui proses pendidikan yang dijalankan dengan kesungguhan, pengetahuan yang digunakan dengan kebijaksanaan, serta keteladanan yang dipelihara dalam tindakan nyata.

Seorang pendidik mungkin tidak dapat menyaksikan seluruh dampak dari apa yang telah ditanamkannya.

Namun, selama ilmu yang diajarkannya membantu manusia berpikir lebih jernih, selama sikapnya menginspirasi orang lain untuk bertindak lebih adil, dan selama nilai-nilai yang diperjuangkannya terus hidup dalam generasi berikutnya, pengabdiannya akan tetap memiliki arti.

Di situlah keteladanan melampaui batas profesi, dan tanggung jawab seorang dosen menjelma menjadi bagian dari tanggung jawab membangun peradaban.

Sekali lagi, penulis mengucapkan Selamat ulang tahun yang ke 52 tahun kepada “Sang Intelektual Organik” baca di https://onetime.id/2025/10/22/menjadi-intelektual-organik-jejak-antonio-gramsci-dalam-sosok-budiyono/

Oleh: Ghraito Arip Hartono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *