Prof Hamzah Bawa Gagasan Kembalikan Marwah Unila: Integritas hingga Link and Match

Bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031, Prof. Dr. Hamzah, SH, MH. Foto: Wildanhanafi/onetime.id.

Onetime.id, Bandar Lampung – Bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031, Prof. Dr. Hamzah, SH, MH, membawa gagasan penguatan integritas, tata kelola, kebersamaan, dan keterhubungan antara perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Hamzah, pemilihan rektor Unila 2026 bukan sekadar proses pergantian kepemimpinan.

Momentum tersebut, kata dia, harus menjadi kesempatan untuk memperkuat tata kelola sekaligus membangun kembali kepercayaan terhadap Unila sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Provinsi Lampung.

Hamzah menilai kemajuan kampus tidak cukup hanya diukur dari pembangunan gedung, fasilitas maupun capaian akademik.

Menurut Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Fakultas Hukum Unila tersebut, marwah dan integritas menjadi bagian penting yang harus dijaga dalam setiap proses pengelolaan universitas.

Integritas Jadi Fondasi Tata Kelola

Hamzah mengatakan penerapan good university governance tidak boleh hanya berhenti dalam dokumen perencanaan.

Prinsip tersebut harus diterapkan dalam aktivitas dan pengambilan kebijakan di lingkungan kampus.

Ia menilai setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperkuat, yakni transparansi keuangan, transparansi pembangunan, serta transparansi arah pengelolaan universitas, khususnya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Kampus yang besar bukan hanya kampus yang memiliki banyak profesor dan gedung megah. Kampus yang besar adalah kampus yang mampu menjaga kepercayaan,” kata Hamzah pada Selasa, (22/9/2026).

Hamzah yang dipercaya sebagai Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) Unila juga mengingatkan pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan.

Ia mencontohkan sosok Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad, rektor pertama Unila periode 1973-1981.

Menurut Hamzah, Sitanala Arsyad meninggalkan teladan mengenai kesederhanaan dan integritas dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin kampus.

Hamzah menyebut Sitanala Arsyad pernah menolak tawaran rumah dan mobil dinas untuk kepentingan pribadi.

Baginya, cerita tersebut menunjukkan bahwa jabatan merupakan amanah, bukan ruang untuk mencari keuntungan pribadi.

Ada pula cerita mengenai kebiasaan Sitanala Arsyad berkeliling kampus setelah salat Subuh.

Ketika menemukan pohon tumbang atau fasilitas yang rusak, ia disebut langsung berkoordinasi dengan staf agar persoalan tersebut segera ditangani.

“Sejumlah kisah sederhana itu dapat menjadi pedoman untuk berbuat lebih baik dan lebih besar lagi sebagai civitas kampus,” ujar Hamzah.

Dorong Kebersamaan Sivitas Akademika

Hamzah menilai Unila memiliki modal sumber daya manusia yang besar untuk berkembang.

Ia menyebut terdapat sekitar 1.309 dosen aktif, dengan sekitar 171 di antaranya merupakan guru besar atau profesor.

Para dosen tersebut tersebar di delapan fakultas, yakni Fakultas Pertanian, FKIP, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, FMIPA, FISIP, serta Fakultas Kedokteran.

Menurut Hamzah, angka tersebut bukan sekadar statistik.

Di dalamnya terdapat kekuatan akademik yang dapat dikolaborasikan untuk membangun Unila.

Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antarfakultas.

Hamzah menyebut sejumlah akademisi Unila yang menurutnya memiliki rekam jejak dan dedikasi, antara lain Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Adriani, DEA, IPM, ASEAN Eng; Prof. Dr. Ayi Ahadiat, SE; Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D; Dr. Budiyono, SH, MH; Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP; Prof. Rudy, SH, LLM, LLD; dan Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si.

Menurutnya, potensi tersebut perlu disatukan dalam satu kekuatan dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Perkuat Link and Match

Hamzah juga mendorong agar hasil pendidikan dan penelitian Unila semakin terhubung dengan kebutuhan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, serta masyarakat.

Ia mencontohkan Fakultas Pertanian yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Unila.

Di tengah agenda swasembada pangan dan hilirisasi sektor pertanian serta perkebunan, menurutnya, hasil penelitian kampus harus semakin dekat dengan persoalan yang dihadapi petani dan masyarakat.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas dan laboratorium. Ia harus turun ke sawah, masuk ke perkebunan, menyentuh kehidupan petani, dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Hamzah mengingat gagasan Prof. Dr. Muhajir Utomo melalui konsep Tanpa Olah Tanah (TOT).

Menurutnya, berbagai inovasi tersebut perlu terus dikembangkan dan dihubungkan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Konsep link and match, kata Hamzah, juga membutuhkan kolaborasi lintas fakultas.

Hasil penelitian Fakultas Pertanian, misalnya, dapat dikembangkan bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari sisi bisnis, pemasaran, pembiayaan hingga hilirisasi.

Sementara Fakultas Hukum dapat berperan memberikan perspektif hukum dan kepastian regulasi.

“Ubi societas ibi ius,” kata Hamzah, mengutip adagium hukum yang berarti di mana ada masyarakat, di situ ada hukum.

Ia mencontohkan persoalan kebijakan pemerintah terkait larangan gabah keluar daerah.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyangkut petani, pedagang, penggilingan, tengkulak, pemerintah, hingga kepentingan masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, perguruan tinggi dapat memberikan kajian dan rekomendasi agar kebijakan yang dibuat dapat menjawab persoalan tanpa menimbulkan persoalan baru.

Teknologi Harus Menjawab Kebutuhan Masyarakat

Hamzah juga melihat Fakultas Teknik memiliki ruang besar untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi digital, inovasi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di sektor pertanian maupun bidang lainnya.

Ia mencontohkan penggunaan drone untuk pemupukan, mesin pengering skala pedesaan, hingga teknologi pengolahan hasil pertanian.

Menurut Hamzah, berbagai fakultas dan program studi di Unila memiliki potensi serupa yang dapat dihubungkan dengan kebutuhan pemerintah, dunia usaha, dunia industri dan masyarakat.

“Link and match bukan sekadar jargon pendidikan. Perguruan tinggi harus mampu membaca denyut zaman,” ujarnya.

Menurutnya, dunia industri membutuhkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan.

Pemerintah membutuhkan hasil riset yang dapat membantu menyelesaikan persoalan pembangunan.

Sementara masyarakat membutuhkan ilmu pengetahuan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Karena itu, ia mendorong kurikulum, penelitian dan inovasi terus diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Kembalikan Marwah Unila

Hamzah menilai Tri Dharma Perguruan Tinggi harus memiliki keterkaitan dengan cita-cita pembangunan bangsa.

Pendidikan, menurutnya, harus mencerdaskan; penelitian harus menghasilkan solusi; sedangkan pengabdian kepada masyarakat harus memberikan manfaat nyata.

Semua itu membutuhkan kolaborasi dan kebersamaan seluruh sivitas akademika.

“Unila bukan hanya milik rektor, bukan pula milik profesor, dosen, mahasiswa atau tenaga kependidikan. Unila adalah rumah besar ilmu pengetahuan di Lampung,” ujarnya.

Karena itu, Hamzah menyatakan siap mengabdikan pemikiran dan tenaganya untuk ikut memperkuat tata kelola serta mengembalikan marwah Unila.

Ia ingin Unila semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat Lampung sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Bagi Hamzah, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari masa ketika berada di kursi jabatan.

Jejak kepemimpinan, menurutnya, justru akan terlihat dari perubahan dan manfaat yang ditinggalkan setelah masa kepemimpinan berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *