Onetime.id, Bandar Lampung – Di tengah tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab yang dihadapi seseorang di ruang publik, rumah sering kali menjadi tempat untuk kembali memulihkan tenaga.
Bagi keluarga, dukungan pasangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia bisa berupa percakapan, doa, atau sekadar suasana rumah yang membuat seseorang merasa diterima.
Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kajian dan motivasi yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, pada Rabu, (17/9/2026).
Kegiatan bertema “Peran Istri dalam Mendampingi Tugas dan Tanggung Jawab Suami sebagai Wujud Pengabdian kepada Keluarga, Masyarakat, dan Bangsa” tersebut berlangsung di Ruang Teater Lantai 2 Gedung Academic and Research Center UIN Raden Intan Lampung.
Kajian menghadirkan Herma Zusti, M.Ag., Penyuluh Agama Islam, pengisi kajian Majelis Taklim, sekaligus trainer Magnet Rezeki.
Herma mengikuti kegiatan secara daring dari lokasi berbeda, sedangkan pengurus dan anggota DWP mengikuti kajian secara terpusat di kampus UIN Raden Intan Lampung.
Ketua DWP UIN Raden Intan Lampung Maftuchah Wan Jamaluddin diwakili Rahmawati Andi Thahir dalam sambutannya mengatakan pertemuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin organisasi sekaligus ruang untuk belajar bersama.
Menurut Rahmawati, tema pendampingan istri terhadap suami penting dibicarakan karena kehidupan keluarga tidak terpisahkan dari tugas dan tanggung jawab masing-masing pasangan.
Kajian kemudian diarahkan pada gagasan bahwa keberhasilan seorang suami tidak semata-mata lahir dari kerja kerasnya di luar rumah.
Herma menilai istri memiliki posisi penting sebagai pasangan hidup sekaligus tempat suami berbagi pengalaman dan persoalan.
“Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan seorang suami murni berasal dari kerja kerasnya,” kata Herma.
Ia menyebut istri dapat menjadi tempat suami pulang, mencurahkan keluh kesah, sekaligus menjadi sistem pendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Herma kemudian mengaitkan peran tersebut dengan suasana yang dibangun di dalam rumah.
Menurut dia, rumah dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk mengembalikan energi setelah menghadapi berbagai persoalan di luar.
Ia mencontohkan bagaimana sambutan pasangan, ucapan yang baik, serta suasana rumah yang menyenangkan dapat memberikan dukungan psikologis bagi pasangan.
Dalam kerangka yang ia gunakan, Herma menyebut pentingnya menjaga “energi positif” dalam keluarga.
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep Magnet Rezeki yang menjadi bagian dari materi motivasinya.
Namun, menurut Herma, kebutuhan seorang suami dalam rumah tangga tidak selalu berupa dukungan materi.
Penghargaan, perhatian, dan dukungan dari pasangan juga dinilai memiliki arti dalam menjalani berbagai tanggung jawab.
Istri sebagai mitra
Herma juga menekankan bahwa hubungan suami dan istri semestinya ditempatkan sebagai hubungan kemitraan.
Keduanya memiliki peran untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing.
Ia menggunakan perumpamaan dalam QS Al-Baqarah ayat 187 yang menggambarkan suami dan istri sebagai pakaian bagi satu sama lain.
Dalam penjelasannya, pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup, tetapi juga memberikan kenyamanan dan perlindungan.
Dari konsep tersebut, Herma menarik pelajaran bahwa dukungan pasangan dapat menjadi bagian dari terciptanya ketenangan dalam keluarga.
“Kesuksesan seseorang sering lahir dari ketenangan yang diberikan pasangannya,” ujarnya.
Selain dukungan dalam kehidupan sehari-hari, Herma menyoroti doa sebagai bagian dari peran istri dalam keluarga.
Ia menyebut doa sebagai bentuk keyakinan kepada Allah sekaligus pengingat agar perkataan dan perilaku di dalam rumah dijaga.
Menurut dia, perkataan seorang istri kepada suami tidak hanya perlu dipertimbangkan dari sisi komunikasi, tetapi juga dari nilai dan dampaknya terhadap hubungan keluarga.
“Kalau semua ucapan yang keluar dari lisan istri menjadi doa untuk suami, maka tidak hanya ucapannya yang baik yang diberikan, tetapi juga pikiran dan perlakuannya,” kata Herma.
Menjaga emosi dari ruang domestik
Pada sesi motivasi, Herma membawa peserta pada situasi yang dekat dengan kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Ia mengambil contoh ketika seorang ibu membangunkan anak untuk menunaikan salat Subuh.
Pada awalnya, kata dia, seorang ibu mungkin melakukannya dengan suara lembut. Namun ketika harus membangunkan anak berulang kali, kesabaran dapat terkikis dan nada bicara berubah.
Situasi semacam itu, menurut Herma, menjadi contoh bagaimana seseorang perlu mengenali dan mengelola emosinya dalam kehidupan keluarga.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan “energi berlian”, istilah yang digunakan dalam materi motivasinya untuk menggambarkan suasana hati yang menyenangkan dan membahagiakan.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa kebiasaan mengeluh, marah, jengkel, dan menunjukkan ketidaksenangan terus-menerus dapat memengaruhi suasana rumah.
Kajian tersebut pada akhirnya tidak hanya membicarakan bagaimana seorang istri mendampingi suami, tetapi juga bagaimana pasangan membangun ruang keluarga yang saling memberikan dukungan.
Bagi DWP UIN Raden Intan Lampung, pertemuan itu menjadi bagian dari kegiatan organisasi sekaligus ruang refleksi mengenai kehidupan keluarga, terutama dalam menjalankan peran masing-masing di tengah tanggung jawab kepada keluarga dan lingkungan sosial.





