Onetime.id – Sore itu, suasana di salah satu SPBU terasa tak biasa bagi para sopir truk. Abdul bukan nama sebenarnya mengaku sampai harus mengantre hampir dua kilometer untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Antrean panjang itu bukan karena solar langka. Justru sebaliknya. Dengan nada riang, Abdul bercerita seperti orang yang baru melepas dahaga saat berbuka puasa. “Sekarang enak cari solar,” katanya.
Ia menyebut perubahan itu terasa setelah aparat menertibkan aktivitas tambang emas ilegal di Kabupaten Way Kanan.
Menurut Abdul, sebelum penertiban itu, mencari solar sering kali terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Truk-truk logistik harus berbagi nasib dengan kendaraan lain yang entah mengangkut apa dan untuk siapa.
Solar bersubsidi, yang sejatinya diperuntukkan bagi transportasi dan usaha kecil, kerap seperti punya jalur distribusi sendiri jalur yang tak selalu terlihat di permukaan.
Kini, kata Abdul, suasana sedikit berbeda. Solar lebih mudah didapat. Para sopir truk dari berbagai daerah di Lampung pun merasakan hal serupa.
Mereka tak perlu lagi menebak-nebak apakah hari itu solar tersedia atau sudah “dipesan” oleh pihak-pihak yang lebih dulu datang dengan jerigen besar dan senyum penuh rahasia.
Tentu saja, perubahan kecil ini membuat Abdul optimistis. Ia berharap kondisi seperti ini bisa bertahan lama.
“Kalau begini terus, sopir-sopir truk bisa kerja lebih tenang,” ujarnya.
Di sudut antrean, beberapa sopir lain mengangguk.
Mereka tampak sepakat, seolah-olah baru menyadari bahwa solar sebenarnya memang ada hanya saja sebelumnya sering kali lebih rajin bersembunyi daripada menampakkan diri.






