Di Lapangan Hijau, Sekda dan Jurnalis Menemukan Bahasa Lain

Pemain Handal IJP yang merumput di lapangan Minni Soccer.

Onetime.id, Bandar Lampung – Di sebuah sore yang tak lagi berjarak dengan protokol, rumput sintetis lapangan Minni Soccer Bandar Lampung menjadi saksi perjumpaan yang berbeda.

Bukan di ruang rapat berpendingin udara, bukan pula di meja konferensi pers yang kerap menegangkan.

Kali ini, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, berdiri di tengah lapangan, membuka Turnamen Mini Soccer Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung sekaligus meresmikan IJP Football Club, Sabtu (14/2/2026).

Ia hadir mewakili Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Namun yang lebih terasa bukan sekadar mandat jabatan, melainkan pesan tentang kebersamaan yang mencoba diterjemahkan dalam bahasa tubuh: berlari, mengoper, dan sesekali tertawa ketika bola melenceng dari sasaran.

Mini soccer sore itu bukan semata pertandingan.

Ia menjelma ruang silaturahmi sebuah istilah yang dalam tradisi kita kerap dimaknai lebih dalam dari sekadar temu sapa.

Pemerintah daerah dan jurnalis, dua entitas yang kerap berdiri dalam relasi kritis sekaligus strategis, dipertemukan dalam suasana yang lebih cair.

“Biasanya kita bertemu dalam rapat atau konferensi pers. Hari ini kita bertemu dalam suasana santai, seragamnya sama, di lapangan yang sama,” ujar Marindo membacakan sambutan gubernur.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyiratkan upaya meruntuhkan sekat formalitas.

Di luar lapangan, pemerintah dan pers berdialog dalam bahasa kebijakan dan kontrol sosial.

Di atas lapangan hijau, keduanya berbagi semangat sportivitas.

Ada semacam kesadaran bahwa pembangunan tak hanya dirumuskan lewat dokumen dan berita, tetapi juga dipelihara oleh relasi yang sehat.

Peluncuran IJP Football Club menjadi simbol kecil dari kebutuhan besar menjaga kebugaran di tengah ritme kerja jurnalistik yang serba cepat.

Dalam dunia yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan, tubuh yang prima menjadi penyangga akal yang jernih.

Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menyebut turnamen ini sebagai ruang mempererat soliditas internal sekaligus menjalin keakraban dengan jajaran Pemprov.

Ia bahkan membuka peluang pembinaan atlet mini soccer dari kalangan jurnalis, termasuk yang berhimpun di bawah payung Persatuan Wartawan Indonesia.

“Mainnya jangan terlalu keras, santai saja. Ini pemain lama semua,” ujarnya berseloroh sebuah humor yang menegaskan bahwa sore itu, rivalitas hanya sebatas permainan.

Hasil akhir pertandingan mencatat Tim IJP A sebagai juara. Namun skor tampaknya bukan perkara utama.

Seperti disampaikan dalam pesan gubernur, menang dan kalah adalah bagian dari pertandingan; persahabatan dan kemitraanlah yang menjadi nilai pokok.

Di tengah lanskap hubungan pemerintah dan pers yang kerap diwarnai ketegangan antara kritik dan klarifikasi lapangan mini soccer itu menghadirkan metafora lain bahwa komunikasi tak selalu harus berlangsung dalam nada tinggi.

Kadang ia cukup dijaga dalam ritme umpan pendek, kerja sama tim, dan kesediaan untuk berbagi ruang.

Turnamen ini direncanakan menjadi agenda rutin. Boleh jadi, di sanalah kebugaran fisik dan kesehatan relasi publik dipelihara bersamaan.

Sebab pada akhirnya, demokrasi lokal tak hanya tumbuh dari kata-kata, tetapi juga dari kepercayaan yang dirawat bahkan lewat sepetak lapangan hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *