Mikdar Ilyas Nilai Program MBG Dorong Ekonomi Lokal dan Serap Pangan Daerah

Anggota DPRD Lampung Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas. Foto: Wildanhanafi/onetime.id.

Bandar Lampung – Anggota DPRD Lampung, fraksi Gerindra Mikdar Ilyas, menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program prioritas nasional yang selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto dan berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Menurut Mikdar, kehadiran dapur MBG di daerah mendorong perputaran ekonomi lokal karena seluruh kebutuhan bahan pangan diharapkan dibeli dari warga sekitar dapur.

“Mulai dari ikan, ayam, daging, tahu, tempe, sayur-mayur hingga buah-buahan, semuanya diharapkan bersumber dari masyarakat setempat,” ujar Mikdar pada Senin, (29/12/2025).

Ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada pengelola dapur MBG dan masyarakat agar memahami tujuan program tersebut, yakni menyerap hasil pertanian dan peternakan lokal, bukan bergantung pada komoditas tertentu yang belum tentu tersedia di setiap wilayah.

“Tidak semua daerah punya pisang muli, ikan dori, atau ayam fillet. Yang terpenting kebutuhan gizi terpenuhi. Di daerah bisa ikan patin, lele, atau ayam bertulang selama sesuai standar gizi,” jelasnya.

Mikdar mengingatkan agar tidak terjadi salah persepsi di masyarakat ketika jenis bahan pangan berbeda antarwilayah.

Perbedaan itu, kata dia, wajar karena menyesuaikan potensi lokal masing-masing daerah.

“Kalau dipaksakan harus fillet, akan sulit dipenuhi. Tapi jika disesuaikan dengan kondisi daerah, petani dan peternak lokal bisa menyuplai dapur MBG,” katanya.

Dengan skema tersebut, lanjut Mikdar, manfaat MBG tidak hanya dirasakan penerima manfaat seperti anak-anak, tetapi juga masyarakat sekitar yang menanam sayuran, beternak ayam, dan membudidayakan ikan.

Terkait mekanisme distribusi hasil panen, Mikdar menyebut peran Koperasi Merah Putih di tingkat desa sangat strategis untuk mengoordinasikan hasil petani agar terserap optimal oleh dapur MBG.

“Koperasi diharapkan mengatur suplai sesuai kebutuhan dapur, sehingga tidak terjadi kelebihan stok. Ini solusi agar petani tidak kesulitan memasarkan hasil produksinya,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *