Onetime.id, Lampung Selatan – Suara dentuman itu masih teringat jelas di benak Haiyun. Warga Pulau Sebesi, Lampung Selatan, itu menjadi saksi bagaimana letusan Gunung Anak Krakatau tahun 1997 mengubah jalannya hidup, bahkan wajah pariwisata di daerahnya.
“Saat itu saya sedang membawa turis Belanda, satu keluarga dengan dua anak. Kami naik ke puncak Krakatau, pakai perahu kayu kecil, mesinnya masih dompeng engkol,” tutur Haiyun, mengenang dihadapan para peserta Fam Trip dengan menyantap makanan ala desa, ada pisang, kacang dan singkong rebus dengan seruputan kopi dengan sepoinya angkt laut pada Rabu malam, (3/9/2025).
Belum sempat menikmati pemandangan, bumi bergetar. Batu sebesar kerbau berguling dari atas.
“Turis itu panik, kami pun lari tunggang langgang. Air laut mendidih, lahar turun. Rasanya sudah pasrah, mati pun sudah siap,” ujarnya.
Namun takdir berkata lain. Perahu yang mereka tumpangi akhirnya bisa melaju, meski tanpa kompas, hanya mengikuti arah ombak.
“Di situlah saya merasa Allah masih melindungi,” katanya pelan.
Awal Wisata Krakatau
Kisah itu menjadi salah satu titik balik bagaimana Anak Krakatau mulai dikenal dunia bukan hanya karena letusannya, tapi juga sebagai destinasi wisata.
Menurut Haiyun, wisatawan asing kala itu menyebarkan cerita tentang kedahsyatan gunung api yang terus tumbuh dari laut sejak letusan besar 1883.
Tahun 2000-an, fasilitas pariwisata mulai dibangun di Pulau Sebesi.
Penginapan sederhana berdiri, sebagian bantuan dari pemerintah provinsi. Masyarakat pun perlahan dilibatkan.
“Kalau sekarang disebut wisata berbasis masyarakat, dulu sebenarnya sudah dimulai dari sini,” kata Haiyun.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Tsunami akibat runtuhnya Anak Krakatau pada 2018 membuat wisata sepi. Belum pulih benar, pandemi Covid-19 kembali memukul pariwisata Sebesi.
Warga Sebesi di Tengah Harapan
Kini, warga Pulau Sebesi hidup dari pertanian dan nelayan. Sekitar 75 persen penduduk bekerja sebagai buruh tani, sisanya sebagai nelayan.
“Dulu banyak tanam pisang, kelapa, dan cengkeh. Sekarang masih ada, tapi banyak juga yang jadi buruh harian,” jelas Haiyun.
Dusun-dusun di Pulau Sebesi Dusun 1 Bangunan, Dusun 2 Impres, Dusun 3 Argana, dan Dusun 4 Segenom menjadi basis kehidupan warga. Sebagian besar berasal dari Jawa Tengah.
“Kami di sini hidup sederhana. Wisata menjadi harapan tambahan,” ujarnya.
Masa Depan Wisata Krakatau
Cerita Haiyun menggambarkan bagaimana pariwisata Krakatau bukan sekadar atraksi alam, melainkan juga kisah perjuangan masyarakat Sebesi.
Dari perahu kayu bermesin dompeng hingga paket wisata modern, dari trauma letusan hingga mimpi menjadi garda depan wisata Lampung.
“Operatornya masyarakat Sebesi. Kalau wisata jalan, kami juga hidup,” kata Haiyun menutup ceritanya.
Pulau Sebesi kini menjadi pintu masuk utama menuju Anak Krakatau.
Bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi juga saksi hidup sejarah panjang antara manusia dan gunung api yang tak pernah tidur.





