Onetime.id, Bandar Lampung – Lorong itu tak banyak berubah dari hari ke hari. Pada siang hari, beberapa mahasiswa duduk di ujung koridor.
Sebagian lainnya berjalan menuju ruang kuliah, berbincang dengan teman, atau sekadar berteduh dari terik matahari.
Di salah satu sudut lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung, pemandangan berbeda terlihat pada dinding bangunan berwarna kuning.
Cat yang mulai kusam berpadu dengan coretan dan grafiti yang memenuhi sebagian permukaannya.
Di bawah atap yang memanjang, deretan jendela terbuka menghadap koridor. Sejumlah bagian bangunan memperlihatkan jejak usia.
Rangka penyangga atap tampak terekspos, sedangkan beberapa bagian dinding menunjukkan bekas tambalan dan perubahan warna.
Lorong itu sejatinya bukan sekadar jalur penghubung antar-ruang. Bagi mahasiswa, tempat tersebut menjadi bagian dari keseharian.
Di sana mereka menunggu dosen, bertemu teman, berbincang, hingga menghabiskan waktu di sela-sela perkuliahan.
Rutinitas berlangsung seperti biasa.
Namun, jika diperhatikan lebih lama, terdapat kontras antara aktivitas akademik yang terus bergerak dengan sebagian wajah fisik kampus yang menyisakan kesan lama.
Gedung-gedung di lingkungan FISIP menjadi tempat mahasiswa mempelajari masyarakat, politik, pemerintahan dan perubahan sosial.
Tetapi pada saat yang sama, ruang tempat proses belajar itu berlangsung juga menghadirkan pertanyaan sederhana: bagaimana lingkungan tersebut dirawat?
Coretan di dinding menjadi salah satu penandanya.
Sebagian grafiti tampak dibuat dengan sengaja. Sebagian lainnya berupa tulisan dan tanda yang menumpuk dari waktu ke waktu. Ketika satu lapisan cat menutupi coretan lama, tulisan baru kembali muncul.
Dinding itu akhirnya seperti menjadi arsip informal. Ia merekam jejak orang-orang yang pernah melewati lorong tersebut, meski tanpa pernah dimaksudkan sebagai tempat untuk menyimpan cerita.
Bagi mahasiswa, kondisi semacam itu lama-kelamaan dapat menjadi pemandangan biasa.
Pratama, salah seorang mahasiswa FISIP Unila, mengatakan kondisi tersebut memang sudah sering dilihat dalam keseharian. Namun, menurut dia, hal itu tetap menyisakan rasa prihatin.
“Kalau dilihat setiap hari, kondisi seperti ini memang sudah menjadi pemandangan biasa. Tapi sebenarnya cukup disayangkan. Kita belajar di kampus yang membawa nama besar Unila, sementara di beberapa sudut masih ada dinding penuh coretan dan bangunan yang terlihat kurang terawat,” ujar Pratama dengan raut majah yang kesal tetapi kerap dibungkam, pada Rabu, (23/9/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan tampilan fisik atau estetika kampus. Perawatan ruang juga berkaitan dengan bagaimana fasilitas yang digunakan mahasiswa setiap hari diperlakukan.
“Kami tidak berharap semuanya harus mewah. Yang penting bersih, rapi dan terawat. Kalau ada fasilitas atau bangunan yang mulai rusak, seharusnya segera ditangani. Kampus kan bukan hanya tempat kuliah, tetapi juga lingkungan yang kami tempati setiap hari,” katanya.
Pratama juga tidak menempatkan persoalan tersebut hanya sebagai tanggung jawab pengelola kampus.
Menurut dia, mahasiswa memiliki peran yang sama dalam menjaga ruang bersama.
“Mahasiswa juga harus punya kesadaran. Jangan mencoret dinding atau merusak fasilitas. Tapi setelah itu, pengelola kampus juga perlu rutin melakukan perawatan. Jadi tanggung jawabnya bukan hanya satu pihak,” tandasnya.
Kampus memang tidak harus selalu tampil sempurna. Dinding yang penuh coretan pun tidak serta-merta menjadi ukuran buruknya pengelolaan sebuah perguruan tinggi.
Coretan bisa saja muncul karena perilaku sebagian kecil pengguna ruang.
Namun, ketika jejak itu dibiarkan bertahun-tahun, ia menjadi bagian dari wajah kampus yang dilihat berulang kali oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan dan siapa pun yang datang.
Di kejauhan, aktivitas mahasiswa tetap berjalan. Ada yang duduk dengan teman, berjalan membawa buku, atau menunduk menatap layar telepon genggam.
Tak ada yang istimewa dari rutinitas tersebut.
Justru karena berlangsung setiap hari, kondisi lorong dan dinding di sekitarnya mudah luput dari perhatian.
Padahal, pengalaman belajar tidak hanya berlangsung di dalam ruang kuliah. Koridor, halaman, toilet, kantin, tangga hingga dinding yang dilewati setiap hari merupakan bagian dari ekosistem kehidupan kampus.
Ruang yang bersih dan terawat memang tidak otomatis membuat seseorang menjadi mahasiswa yang lebih baik.
Tetapi lingkungan fisik tetap menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang tidak tertulis dalam silabus. Karena itu, persoalannya bukan semata siapa yang mencoret dinding.
Ada tanggung jawab mahasiswa untuk menjaga fasilitas bersama. Ada pula tanggung jawab pengelola untuk memastikan ruang yang digunakan setiap hari tetap layak, bersih dan terawat.
Pada akhirnya, kampus bukan hanya kumpulan gedung, ruang kuliah dan papan nama fakultas.
Ia juga terdiri dari lorong-lorong yang dilalui mahasiswa setiap hari, dinding yang mereka lihat berulang kali, serta ruang sederhana yang menjadi saksi perjumpaan selama bertahun-tahun.
Dan pada sebuah dinding yang dipenuhi coretan itu, sebuah kampus seperti sedang bercermin.
Bukan semata tentang seberapa megah bangunannya, melainkan tentang bagaimana ruang tempat generasi muda belajar diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan akademik.






