Abung Mamasa dan Anggota IJP Lampung: Mengawal Kekuasaan, Menjaga Daya Kritis

Keluarga Besar IJP Lampung Foto bersama Pangdam Raden Inten, Gubernur Lampung, Ketua DPRD Lampung, Sekertaris Daerah Lampung dan Kadis Kominfotik Lampung Dok: IJP Lampung.

Onetime.id, Bandar Lampung – Di lanskap pers Lampung, nama Abung Mamasa bukan sekadar terdengar ia diperhitungkan.

Ia hadir dengan karakter tegas, arah pikir yang terang, dan tutur yang lugas tanpa selimut basa-basi.

Dalam membina wartawan, ia tak gemar memanjakan. Baginya, jurnalisme bukan panggung tepuk tangan, melainkan ruang tempaan.

“Siapa yang ingin kokoh, harus siap ditempa,” begitu prinsip yang kerap ia tanamkan.

Abung percaya, wartawan tak dibentuk oleh pujian instan, melainkan oleh proses panjang yang kadang sunyi dan keras.

Lapangan tak selalu ramah, narasumber tak selalu terbuka, situasi tak selalu ideal. Karena itu, integritas dan daya tahan menjadi fondasi.

Wartawan, menurutnya, harus kritis dan berani bukan sekadar mencari kenyamanan.

Sejak dipercaya memimpin Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung pada 19 Juni 2025, Abung membawa energi yang tak ingin berjalan biasa-biasa saja.

Organisasi yang menaungi ratusan jurnalis itu digerakkannya dengan irama baru: lebih dinamis, lebih kolektif, lebih bertumbuh.

Gebyar IJP Lampung 2025 melalui lomba video pendek menjadi langkah awal. Itu bukan sekadar kompetisi, melainkan ajakan beradaptasi dengan zaman visual yang kian dominan.

Wartawan ditantang tak hanya piawai merangkai kata, tetapi juga terampil memproduksi konten multimedia.

Langkah berikutnya lebih jauh. Pada November 2025, sekitar 70 anggota mengikuti safari jurnalistik ke Jawa Barat.

Mereka belajar ke Media Group Pikiran Rakyat dan berdialog dengan Dinas Komunikasi dan Informatika setempat.

Bagi Abung, peningkatan kapasitas bukan pilihan, melainkan kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Festival Foto Bersama Lampung Maju kemudian digelar dengan melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Lampung.

Momentum itu menjadi pengingat bahwa publikasi adalah bagian dari akuntabilitas.

Di era layar ponsel yang tak pernah padam, foto dan video menjelma jembatan antara kerja birokrasi dan pemahaman publik menarik, namun tetap beretika.

Di luar forum resmi, Abung memilih cara lain merawat solidaritas olahraga. Mini soccer dijadikan agenda rutin mingguan.

Dari sana lahir kebersamaan yang cair, tanpa sekat jabatan dan formalitas.

Puncaknya, IJP FC resmi diluncurkan pada 14 Februari 2026 oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan.

Dukungan datang dari Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, Wakil Gubernur Jihan Nurlela, hingga Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar.

Pertandingan persahabatan antara IJP FC dan jajaran pejabat Pemprov menjadi simbol yang kuat di atas rumput hijau, tak ada meja rapat dan tak ada podium. Yang ada hanya sportivitas dan tawa.

“Biasanya kita bertemu dalam suasana formal. Hari ini kita bertemu dengan seragam yang sama, di lapangan yang sama,” ujar Marindo kala itu.

Abung sempat berseloroh agar pertandingan berlangsung santai. Candaan sederhana, namun cukup mencairkan suasana.

Lapangan hijau menjadi ruang yang menghapus jarak struktural.

Dari kepemimpinannya, terlihat satu benang merah organisasi jurnalis bukan hanya soal produksi berita.

Ia adalah ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang kebersamaan.

Wartawan memang mengawal informasi, tetapi mereka juga manusia yang membutuhkan solidaritas dan kebugaran.

Belum genap setahun, gagasan demi gagasan terus lahir. Sore itu, halaman Gedung Pusiban Pemprov Lampung tak sekadar menjadi ruang seremonial. Ia menjelma panggung ingatan.

IJP Lampung menggelar refleksi satu tahun kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Senin, 2 Maret 2026.

Perpaduan yang elok, Korannya bertajuk “Langkah cerdas Menuju Indonesia emas”. Sedangkan bukunya bertajuk “Arah Baru Lampung Maju”.

Ketua Pelaksana Deni Kurniawan menyebut refleksi itu sebagai langkah rasional sekaligus inspiratif.

Rasional karena publik berhak mengetahui arah langkah para pemimpinnya. Inspiratif karena setiap zaman membutuhkan catatan agar tak hilang dalam riuh politik harian.

Buku tersebut, kata Deni, masih dalam proses cetak. Sejumlah tulisan belum rampung. Hingga sore itu, 150 eksemplar telah dipesan 100 oleh Badan Pendapatan Daerah dan 50 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.

Abung berdiri dengan nada yang tenang, namun tegas. Ia menegaskan koran dan buku itu bukan kitab puja-puji.

“Ini bukan glorifikasi. Ini komitmen merawat ingatan publik. Lebih dari 80 persen pemilih memberi mandat. Mereka berhak tahu,” ujarnya.

Bagi Abung, tahun pertama pemerintahan adalah fase meletakkan batu pertama sunyi, berat, dan sering tak kasatmata hasilnya.

Ia melihat upaya memperkuat desa, membangun konektivitas jalan dan jembatan, mendorong reformasi birokrasi, serta menanam investasi pada sumber daya manusia. Belum sempurna, tetapi arah mulai terbaca.

Ia juga menyentil anggapan bahwa jurnalis IJP kehilangan daya kritis.

“Kritik harus tajam, tapi profesional dan proporsional,” katanya. Koran itu terbit setahun sekali, tanpa iklan, tanpa ambisi komersial sekadar catatan.

Di hadapan jurnalis dan tokoh masyarakat, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyebut dukungan besar pada Pilkada 2024 sebagai amanah yang berat.

Harapan masyarakat, katanya, sederhana hidup lebih baik dari sebelumnya. Dan itu adalah tanggung jawab yang tak hanya administratif, tetapi juga etis.

Refleksi sore itu bukan sekadar perayaan capaian.

Ia adalah jeda untuk menimbang sejauh mana janji menjelma kebijakan, dan kebijakan menghadirkan manfaat.

Di antara lembar buku yang belum sepenuhnya kering dari tinta, terselip pesan yang tak perlu diteriakkan kekuasaan boleh berganti, tetapi ingatan publik harus tetap dirawat.

Dan di sanalah Abung Mamasa memilih berdiri di antara idealisme dan realitas, menjaga agar api jurnalisme tetap menyala, dari ruang redaksi hingga lapangan hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *