Gubernur Mirza Dorong Jalan Tol dan Pelabuhan Jadi Penggerak Ekonomi Petani Sumbagsel

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Onetime.id, Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti tantangan ekonomi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) di tengah pembangunan infrastruktur jalan tol.

Menurut Mirza, keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah, khususnya petani dan pelaku usaha lokal.

Hal itu disampaikan Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri FGD Nasional “Jalan Tol untuk Apa dan Siapa?” sekaligus pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Hotel Grand Mercure, Bandar Lampung, Sabtu (3/10/2026).

Mirza mengatakan, Sumbagsel yang meliputi Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi memiliki posisi geoekonomi strategis.

Wilayah tersebut berada di jalur Selat Sunda yang terhubung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.

Potensi tersebut, kata dia, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat perekonomian daerah, termasuk melalui pengembangan konektivitas jalan tol dan pelabuhan.

“Bagaimana kita memanfaatkan posisi strategis ini untuk kesejahteraan masyarakat kita, terutama petani,” kata Mirza dalam paparannya.

Menurutnya, keberadaan jalan tol memang telah memberikan efisiensi dalam distribusi barang dan mobilitas masyarakat.

Namun, pembangunan infrastruktur juga perlu diikuti dengan penataan rantai pasok agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pelaku usaha berskala besar.

Mirza mencontohkan sektor pertanian, khususnya komoditas beras di Lampung.

Ia menyinggung laporan Persatuan Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) yang menyebut banyak penggilingan padi lokal mengalami tekanan sejak beroperasinya jalan tol.

Kemudahan akses dari Pulau Jawa membuat industri berskala besar lebih mudah masuk ke sentra produksi dan menyerap gabah langsung dari tingkat petani.

Kondisi tersebut dinilai dapat membuat pelaku usaha penggilingan lokal semakin sulit bersaing.

“Jangan sampai infrastruktur yang kita bangun justru membuat nilai tambah komoditas daerah keluar dari daerah,” ujarnya.

Potensi Pelabuhan Panjang

Selain jalan tol, Mirza menyoroti posisi Pelabuhan Panjang sebagai salah satu pintu keluar komoditas dari Sumbagsel.

Menurutnya, pelabuhan tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat logistik dan mendukung ekspor berbagai komoditas unggulan.

Ia menyebut sekitar 30 persen produksi sawit Indonesia berasal dari kawasan Sumbagsel.

Karena itu, optimalisasi Pelabuhan Panjang dinilai penting agar komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan produk olahannya dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah asal.

“Pelabuhan Panjang ini punya potensi yang sangat besar. Tinggal bagaimana kita meningkatkan utilitasnya dan menghubungkannya dengan pusat-pusat produksi,” kata Mirza.

Ia juga menyinggung peluang yang muncul dari meningkatnya aktivitas perdagangan melalui ALKI I.

Selat Sunda, kata dia, memiliki posisi strategis sebagai jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia dengan perairan Indonesia bagian barat.

Potensi tersebut perlu diikuti kesiapan infrastruktur, kawasan industri, pelabuhan dan jaringan logistik.

Dorong Ekonomi Berbasis Desa

Lebih jauh, Mirza mengatakan pembangunan ekonomi Lampung tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan trickle down economics atau berharap pertumbuhan ekonomi secara otomatis mengalir ke masyarakat.

Menurutnya, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat bawah, terutama desa yang menjadi basis produksi komoditas pertanian.

“Kalau kita ingin meningkatkan kesejahteraan, maka ekonomi harus dibangun dari desa. Petani jangan hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi harus mendapatkan nilai tambah dari rantai ekonomi tersebut,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan harus dibarengi dengan kebijakan yang menjaga keberlangsungan usaha masyarakat lokal.

Dengan demikian, konektivitas tidak hanya mempercepat perpindahan barang, tetapi juga memperkuat pusat-pusat ekonomi baru di daerah.

“Jalan tol bukan hanya bagaimana barang cepat sampai. Yang lebih penting, bagaimana nilai ekonomi dari barang itu tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah,” kata Mirza.

Pandangan Mirza mengenai pemanfaatan konektivitas dan potensi pesisir juga sejalan dengan pernyataan sebelumnya bahwa posisi Lampung di jalur ALKI I perlu dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *