Onetime.id, Bandar Lampung – Asap mengepul dari tungku penjerang nira kelapa di Desa Bulok, Kabupaten Lampung Selatan.
Aroma manis khas gula semut menyeruak dari dapur produksi UMKM Nira Sari.
Dari tempat sederhana itu, terselip cerita tentang perubahan ekonomi warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari hasil kebun kelapa.
Ratusan hektare kebun kelapa di desa tersebut sebelumnya lebih banyak menghasilkan buah yang dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah yang diperoleh petani pun masih terbatas.
Kini, sebagian warga mulai mengubah cara memanfaatkan pohon kelapa.
Nira yang disadap tidak lagi sekadar menjadi bahan baku tradisional, tetapi diolah menjadi gula semut bernilai ekonomi lebih tinggi dan mulai menembus pasar modern.
Perubahan itu tidak datang begitu saja. Pendampingan PTPN I (Persero) Regional 7 menjadi salah satu titik awal tumbuhnya gagasan hilirisasi komoditas kelapa di Desa Bulok.
Desa Bulok sendiri merupakan salah satu desa penyangga Unit Kerja PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Bergen.
Selama ini, sebagian masyarakat mengandalkan hasil tanaman kelapa secara tradisional.
Namun, keterbatasan akses pengolahan dan pemasaran membuat petani bergantung pada rantai perdagangan konvensional.
Dari Kelapa Mentah ke Produk Bernilai Tambah
Kisah perubahan tersebut kemudian mendapat perhatian Kompas TV.
Dalam perayaan ulang tahun ke-15 Kompas TV bertajuk “Indonesia B15A” di Jakarta, Rabu (9/9/2026), Ketua UMKM Nira Sari Suprayitno menjadi salah satu bintang tamu.
Suprayitno bahkan dinobatkan sebagai salah satu Local Heroes oleh stasiun televisi swasta nasional tersebut.
Penghargaan itu menjadi pengakuan atas perjuangan masyarakat Desa Bulok dalam mengembangkan potensi lokal melalui pengolahan gula semut.
Suprayitno menyampaikan apresiasi kepada PTPN I (Persero) Regional 7 yang selama ini memberikan pembinaan dan pendampingan terhadap UMKM Nira Sari.
Ia mengatakan, sebelum mendapatkan pendampingan, petani masih mengandalkan pola budidaya dan pemasaran secara tradisional.
“Sebelumnya, kegiatan kami sebatas budidaya kelapa secara tradisional. Begitu dipetik, langsung dilepas ke penadah untuk dikirim ke Jakarta dengan harga yang seadanya,” ujar Suprayitno.
Menurut dia, kondisi tersebut mendorong warga untuk mencari cara agar hasil perkebunan kelapa tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah.
“Kami terus berikhtiar mencari jalan keluar agar hasil panen kelapa di desa ini punya nilai tambah yang nyata bagi kesejahteraan warga,” katanya.
Titik perubahan kemudian terjadi ketika PTPN I (Persero) Regional 7 masuk memberikan pendampingan terhadap rantai nilai komoditas kelapa di Desa Bulok.
Pendampingan tidak hanya berupa bantuan, tetapi mencakup peningkatan kemampuan teknis pengolahan, penerapan higienitas, perbaikan kemasan, hingga membuka akses pasar.
Suprayitno mengatakan, pendampingan tersebut membuat para petani mulai memahami pentingnya hilirisasi.
“Alhamdulillah, dari pendampingan PTPN I, kami melek hilirisasi. Kami dibekali ilmu pengolahan gula semut, dibantu alat dan mesin modern, serta disalurkan 810 bibit kelapa unggul,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan bibit kelapa unggul tersebut menjadi investasi penting bagi keberlangsungan usaha Nira Sari.
“Bantuan bibit ini menjadi investasi paling berharga untuk menjamin pasokan bahan baku usaha kami tetap aman dan berkelanjutan di masa depan,” imbuhnya.
PTPN I Dorong Kemandirian Ekonomi Warga
Region Head PTPN I (Persero) Regional 7 Iyan Heryanto mengatakan penghargaan Local Heroes yang diterima Suprayitno menjadi bukti bahwa kolaborasi antara BUMN dan masyarakat desa dapat menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Iyan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari keuletan para petani dalam mengembangkan potensi desa.
“Penghargaan ini kami dedikasikan seutuhnya bagi keuletan para petani di Desa Bulok,” kata Iyan.
Ia menegaskan, program tanggung jawab sosial dan pembinaan UMKM yang dilakukan PTPN I Regional 7 tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan atau kegiatan seremonial.
“Di PTPN I (Persero) Regional 7, kami memegang prinsip bahwa program tanggung jawab sosial dan pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada aksi karitatif atau seremonial semata,” ujarnya.
Arah program, kata Iyan, harus mampu membangun kemandirian ekonomi masyarakat, meningkatkan kapasitas usaha warga, serta menciptakan efek berganda bagi lingkungan sekitar wilayah operasional perusahaan.
Hilirisasi Jadi Kunci
Iyan menilai strategi hilirisasi komoditas berbasis masyarakat menjadi salah satu kunci memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan di tengah dinamika pasar.
Menurut dia, masyarakat di sekitar perkebunan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan.
“Kemandirian warga di sekitar kebun adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi keberlanjutan perseroan,” kata Iyan.
Melalui hilirisasi, komoditas yang sebelumnya dijual dalam bentuk bahan mentah dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal Nira Sari dan UMKM lainnya agar semakin tangguh, memenuhi standar mutu industri modern, dan mampu menjadi pilar ekonomi yang berdaya saing tinggi di pasar nasional,” pungkas Iyan.
Dari tungku sederhana di Desa Bulok, nira kelapa kini tidak sekadar menghasilkan gula semut.
Di balik butiran gula berwarna cokelat itu, tumbuh cerita tentang petani yang mulai meninggalkan ketergantungan pada penjualan bahan mentah dan berani masuk ke proses hilirisasi.
Bagi warga Bulok, perubahan itu bukan hanya soal mengolah nira menjadi gula.
Lebih jauh, hilirisasi menjadi jalan untuk memberi nilai lebih pada hasil kebun sekaligus membuka harapan baru bagi perekonomian desa.






