Onetime.id, Bandar Lampung – Di antara jeda waktu berbuka, para jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung merangkai kebersamaan dalam suasana yang tak sekadar seremonial.
Di Emersia Hotel, buka bersama itu menjelma ruang samyoga pertemuan nilai profesionalisme dan kemanusiaan yang ditandai dengan santunan bagi anak-anak yatim piatu.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui Kepala Dinas Kominfotik, Ganjar Jationo, menegaskan bahwa IJP bukan sekadar wadah profesi, melainkan simpul inspirasi yang turut mengalirkan narasi pembangunan.
“IJP Lampung tidak hanya seremonial, tetapi juga menyuarakan pembangunan Lampung,” ujar Ganjar pada Selasa, (17/3/2026).
Ia menyebut kegiatan ini sebagai medium mempererat solidaritas dan memperkuat kohesi antaranggota.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menegaskan bahwa “ikatan” dalam IJP adalah ruh kolektivitas.
“Ikatan ini harus semakin erat, semakin solid, agar menghadirkan warna positif dalam dunia pemberitaan,” ujarnya.
Selain tausiah, santunan berupa uang tunai dan alat tulis menjadi penanda bahwa jurnalisme tak hanya merekam realitas, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan IJP Lampung sebelumnya juga menapaki dimensi reflektif.
Pada Senin (2/3/2026), organisasi ini menggelar refleksi satu tahun kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela di halaman Gedung Pusiban Pemprov Lampung, sekaligus meluncurkan koran dan buku edisi khusus.

Ketua pelaksana, Deni Kurniawan, menyebut refleksi itu sebagai langkah rasional sekaligus inspiratif untuk mendokumentasikan perjalanan awal pemerintahan Mirza–Jihan.
Ia mengakui kegiatan tersebut terwujud berkat dukungan berbagai pihak, termasuk Sekretaris Daerah, Biro Umum, hingga Dinas Kesehatan Hewan yang berkontribusi dalam penyediaan data.
Menurut Deni, koran dan buku bertema koran bertemakan “Langkah cerdas Menuju Indonesia emas” sedangkan bukunya bertema”Arah Baru Lampung Maju”.
Hingga sore hari, pemesanan tercatat 150 eksemplar 100 dari Badan Pendapatan Daerah dan 50 dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung meski proses pencetakan masih berlangsung.
Abung Mamasa menegaskan, penerbitan tersebut bukan glorifikasi kekuasaan, melainkan komitmen jurnalisme dalam merawat ingatan publik.

“Masyarakat punya hak untuk tahu apa saja yang dikerjakan pemimpinnya,” katanya.
Ia menilai tahun pertama pemerintahan adalah fase peletakan fondasi mulai dari penguatan desa, konektivitas infrastruktur, reformasi birokrasi, hingga investasi sumber daya manusia.
Ia juga menepis anggapan bahwa IJP kehilangan daya kritis.
“Kami tetap profesional dan proporsional. Kritik harus tajam, tapi tidak menyindir,” ujarnya.
Ia menambahkan, koran tersebut terbit setahun sekali, tanpa iklan, dan tidak bersifat komersial.
Sementara itu, Gubernur Mirza menyebut refleksi sebagai ruang dialog untuk menakar capaian dan merumuskan langkah ke depan.
“Kepercayaan itu menjadi beban moral sekaligus tanggung jawab. Harapan masyarakat sederhana: hidup lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Ia mengakui memenuhi ekspektasi publik bukan perkara mudah, namun menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menghadirkan perbaikan.
“Ruang-ruang dialog seperti ini penting,” tandasnya.
Pada akhirnya, rangkaian kegiatan ini memperlihatkan satu benang merah jurnalisme tidak hanya bekerja dalam logika informasi, tetapi juga dalam kesadaran dharma merawat ingatan, menyuarakan kebenaran, dan menjaga nurani publik.






