Onetime.id, Bandar Lampung – Kala itu, keindahan menyambut malam tiba Sutrisno biasa duduk di beranda rumahnya di Kelurahan Tanjung Gading.
Dari sana, dulu ia bisa melihat Bukit Camang berdiri hijau, kokoh angin sepoi dan tenang, seperti dinding alam yang menahan hujan agar tak turun sekaligus ke rumah-rumah warga setempat, kini sirna hingga nyaris pemandangan itu akan hilang.
Yang tampak adalah tanah merah terkelupas, lereng terbelah, dan suara besi yang terus menggigit bumi dengan alat berat.
Alat berat bekerja siang hingga larut malam, bukit itu tidak lagi menyimpan air ia hanya menyisakan debu, debunya pun menembus rumah warga, ketika musim panas digayuh oleh angin yang kencang.
“Dulu ketika gemercik hujan datang, air pelan turun. Lantas hari ini, hujan sebentar saja, got langsung penuh,” kata Sutrisno, 56 tahun, suaranya tertahan lirih merintih-merintah dengan air mata jatuh dengan sendirinya.
Ia menunjuk bekas garis air di dinding rumahnya setinggi betis orang dewasa.
Di rumah sebelah, Siti Aminah masih menyimpan karung pasir di sudut dapur yang kini tak lagi mempunyai harapan kedepan.
Bukan untuk bangunan rumah, tetapi guna menahan air jika hujan datang tak diundang.
Sejak pengerukan dimulai, ia tak lagi berani meninggalkan rumah saat gemerlap awan mendung menyapa dengan hati gelisah.
“Bukit itu seperti penyangga hidup kami. Sekarang rasanya kami ditinggal dengan kilat, seperti petir menyambar aliran yang memancing kemarahan” katanya dengan nada lembut, tetapi menyimpan pilu yang dalam.
Sekarang Air itu Kehilangan Tempat Pulang
Seraya warga Tanjung Gading, Bukit Camang bukan sekadar tanah kosong.
Ia adalah ruang diam tempat air singgah, sebelum turun perlahan ke tanah.
Anak-anak dulu bermain di lerengnya. Para warga menguntungkan sumur mereka pada cadangan air bukit itu
Hari ini dan kedepan, setiap hujan adalah ancaman bagi warga Tanjung Gading.
Air tak lagi meresap. Ia berlari.
Menghantam jalan, masuk ke rumah, membawa lumpur bekas sampah yang dibuang sembarang, tanpa memikirkan dampak akibatnya.
Kedepan warga akan menghitung hari bukan dengan kalender, tapi dengan cuaca.
“Kalau hujan besar, kami sudah siap mengungsi,” kata Rohani, ibu dua anak. “Padahal dulu, hujan itu berkah.
Negara Yang Amat Lambatv Datang
Tak ada penjelasan soal izin. Tak ada sosialisasi yang utuh kepada masyarakat, yaang ada hanya bunyi mesin dan janji bahwa semua sudah sesuai aturan, sesuai rancangan dan hanya peredam amarah warga.
Warga mendengar kabar tentang AMDAL, izin lingkungan, dan kewenangan antarinstansi. Tapi istilah-istilah itu terasa jauh dari genangan air di ruang tamu mereka.
“Kami tidak menolak pembangunan,” kata Sutrisno. “Kami cuma ingin tetap aman tinggal di rumah sendiri.”
Namun bukit sudah terlanjur berubah. Tanah sudah terbuka. Air sudah kehilangan jalannya untuk kembali ke bumi.
Menunggu Hujan Berikutnya
Saat senja turun, bayangan Bukit Camang tampak lebih pendek dari dulu. Bukan karena matahari, tapi karena tubuhnya telah terpotong.
Di bawahnya, warga bersiap menghadapi musim hujan dengan ember, karung pasir, dan doa yang sama setiap malam, semoga air menemukan tempatnya lagi.
Karena ketika bukit tak lagi menyimpan air, yang tersisa hanyalah rumah-rumah yang bersiap tenggelam dalam diam.






