Onetime.id, Bandar Lampung – Di Aula Abung, Kantor Gubernur Lampung, Senin siang itu, deret foto-foto terpajang bukan sekadar sebagai hiasan akhir tahun.
Ia menjadi cermin tentang kerja yang telah dilakukan, tentang cerita yang kerap luput disampaikan.
Festival Foto Akhir Tahun Ikatan Jurnalis Provinsi (IJP) Lampung 2025 hadir sebagai ruang apresiasi, sekaligus pengingat sunyi kerja pemerintah tak cukup hanya selesai, ia perlu sampai ke mata dan hati publik.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menyebut foto sebagai bahasa paling jujur dalam menyampaikan kerja.
Bukan sekadar dokumentasi, melainkan jembatan yang memungkinkan masyarakat mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah cepat, terang, dan apa adanya.
“Masyarakat berhak tahu apa yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Lampung,” ujarnya.
Menurut Abung, di tengah kemajuan teknologi, tak ada lagi alasan untuk abai pada dokumentasi.
Gawai telah menjadi kantor kedua, dan kamera berada di genggaman siapa saja.
“Prosesnya tidak payah. Semua sudah ada di tangan kita. Sayang sekali jika kerja keras tidak meninggalkan jejak,” katanya.
Pesan serupa disampaikan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, yang membuka kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa publikasi visual bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan zaman bahkan instruksi langsung dari pimpinan daerah.
“Masyarakat hari ini hidup dengan gawainya. Informasi mereka cari setiap saat,” ujarnya, sembari mengapresiasi OPD yang aktif mendokumentasikan kinerja. Namun ia juga tak menutup kegelisahannya.
“Saya gemas juga dengan OPD yang tidak aktif,” katanya, disambut tawa peserta.
Jihan mengingatkan, publikasi tak seharusnya dipahami sebagai pencitraan. Ia adalah bukti kerja, penanda bahwa pelayanan benar-benar hadir.
“Banyak kerja yang dilakukan, tapi tidak sampai ke masyarakat karena tidak terpublikasi,” tuturnya.
Dari sisi penilaian, akademisi Simon Abdurrahman salah satu dewan juri melihat perkembangan yang menggembirakan.
Foto-foto yang masuk tak lagi semata menampilkan seremoni, tetapi mulai menangkap kehidupan, emosi, dan sudut pandang manusia di balik kegiatan.
“Foto bukan hanya soal acara. Ketika momen hidup dan sudut pandang tepat, publik ikut mendengar,” ujarnya.
Sekretaris Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menilai festival ini sejalan dengan upaya membangun budaya kerja yang terbuka dan akuntabel.
Dokumentasi visual, menurutnya, adalah bagian dari keterbukaan informasi yang harus terus diperkuat.
“Ke depan, OPD harus terus aktif menyiarkan kegiatannya agar masyarakat tahu apa yang kita jalankan,” katanya.
Festival Foto Akhir Tahun IJP Lampung 2025 menetapkan empat pemenang berdasarkan penilaian dewan juri lintas profesi diantaranya Syahroni Yusuf (PWI Lampung), Oyos Saroso (AMSI Lampung), Ardiansyah (PFI Lampung), dan Simon Abdurrahman (akademisi).
Juara pertama diraih Dinas Peternakan, disusul RSUDAM sebagai juara kedua, dan Dinas Lingkungan Hidup di posisi ketiga. Kategori foto favorit jatuh kepada Dinas Pemuda dan Olahraga.
Menutup kegiatan, Abung Mamasa kembali menggarisbawahi makna di balik festival ini. Publikasi visual, katanya, bukan tentang lomba semata, melainkan tentang rekam jejak kerja dan kepercayaan publik.
“Foto bukan hanya gambar. Ia adalah jejak yang membuat publik percaya bahwa kerja pemerintah benar-benar terjadi,” pungkasnya.






