Onetime.id – Di tengah dinamika sosial-politik Provinsi Lampung, nama Rosim Nyerupa muncul sebagai representasi generasi muda yang berpikir kritis, bersikap progresif, dan berpijak pada akar budaya lokal.
Lahir dan besar di Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah, Rosim tumbuh dalam lingkungan desa yang kaya akan nilai-nilai kolektivitas, sekaligus menghadapi tantangan struktural khas daerah pinggiran, ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga dominasi kekuatan ekonomi-politik besar.
Sejak masa sekolah, Rosim telah menunjukkan ketertarikannya pada kepemimpinan dan dunia organisasi.
Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua OSIS di SMPN 2 Gunungsugih (2007/2008) dan SMA Negeri Gunungsugih (2010/2011) dinobatkan sebagai siswa berpretasi oleh sekolahnya.
Saat masih duduk dibangku sekolah, Rosim tercatat sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII).
Saat itu, Rosim terpilih secara aklamasi jadi Ketua PII Kabupaten Lampung Tengah (2011/2012) pada Konferensi Daerah (Konda) PII Lapung Tengah tahun 2011.
Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah organisasi pelajar Islam tertua di Indonesia, didirikan pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta.
Kecintaannya pada ilmu sosial-politik membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung.
Di kampus ini, ia mendalami teori-teori politik, demokrasi, dan pembangunan lokal yang membentuk karakter intelektual dan aktivismenya.
Namun, bagi Rosim, ruang kelas bukan satu-satunya laboratorium belajar.
Ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), hingga Lembaga Penerbitan Mahasiswa Republica.
Ia juga aktif dikegiatan kajian Lingkar Studi Sosial Politik (LSSP) Cendekia, yang banyak membahas teori sosial-kritis dan isu kontemporer.
Di luar kampus, ia mengasah kepemimpinannya melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KNPI, dan HIPMI, membentangkan pengaruhnya dari ranah intelektual, kepemudaan hingga kewirausahaan.
Menulis untuk Melawan Lupa
Tidak puas hanya dengan aksi dan advokasi, Sejak kuliah Rosim juga menjadikan tulisan sebagai senjata perubahan.
Ia secara konsisten menyalurkan pikirannya melalui artikel dan opini yang dimuat di berbagai media massa, baik cetak maupun daring.
Isu-isu yang ia angkat mencakup spektrum yang luas: dari dinamika pemerintahan lokal, permasalahan agraria, krisis ekologi, hingga keretakan sosial di tingkat kampung.
Kritik terhadap Kekuasaan dan Oligarki Ekonomi
Sebagai aktivis yang tumbuh dalam tradisi berpikir kritis, Rosim dikenal berani menyuarakan ketimpangan struktural, termasuk yang bersumber dari dominasi korporasi besar.
Salah satu kritik paling lantangnya ditujukan kepada PT Sugar Group Companies (SGC), perusahaan raksasa perkebunan tebu di Lampung.
Ia menyoroti dampak lingkungan dari pembakaran lahan, praktik ekspansi lahan yang mengabaikan hak-hak rakyat, hingga dugaan keterlibatan perusahaan dalam kontestasi politik lokal.
Rosim melihat bahwa oligarki ekonomi yang masuk ke dalam struktur kekuasaan politik daerah menjadi ancaman serius bagi demokrasi lokal.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk aksi-aksi mahasiswa yang ia pimpin, Rosim mendesak DPRD dan BPN untuk mengevaluasi ulang izin HGU PT SGC dan meninjau kembali keberpihakan negara terhadap rakyat kecil.
Sorotan terhadap Konflik Sosial dan Kejahatan Terorganisasi
Rosim juga menunjukkan kepeduliannya terhadap konflik horizontal yang mengancam kohesi sosial masyarakat desa.
Ia dengan lantang menyoroti insiden pembakaran rumah Kepala Kampung Gunung Agung, Terusan Nunyai, yang ia nilai sebagai cerminan krisis kepercayaan publik terhadap institusi-institusi penyelesaian konflik.
Dalam pandangannya, negara tak boleh abai terhadap gejala sosial semacam ini, karena hal tersebut dapat berkembang menjadi kekerasan struktural yang lebih luas.
Selain itu, ia juga menaruh perhatian serius terhadap merebaknya kejahatan narkotika di Lampung.
Bagi Rosim, peredaran narkoba bukan hanya persoalan kriminalitas, tapi juga problem sosial-ekonomi yang merentangkan kemiskinan, keterasingan, dan kegagalan sistem pendidikan serta perlindungan sosial.
Ia mendukung langkah-langkah strategis kepolisian dalam membongkar jaringan narkotika lintas provinsi, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam membangun ketahanan sosial.
Kritik terhadap Proses Seleksi Sekda Lampung Tengah
Dalam konteks pemerintahan daerah, Rosim secara kritis menyoroti proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Tengah.
Ia menilai bahwa proses tersebut sarat dengan praktik nepotisme, terutama dengan lolosnya adik ipar Bupati Ardito Wijaya ke dalam tiga besar calon Sekda.
Rosim secara sarkastik menyarankan agar Bupati langsung melantik adik iparnya tanpa melalui proses seleksi, mengingat indikasi kuat adanya konflik kepentingan dalam proses tersebut.
Ia menekankan bahwa praktik semacam ini tidak hanya melukai etika pemerintahan, tetapi juga membuka pintu bagi institusionalisasi nepotisme yang merusak prinsip-prinsip good governance.
Penjaga Tradisi, Penggerak Budaya
Di tengah kesibukannya sebagai aktivis dan penulis, Rosim tetap menjaga kedekatannya dengan akar budaya lokal.
Ia percaya bahwa pembangunan sejati harus bersandar pada identitas dan nilai-nilai budaya masyarakat.
Melalui Forum Silaturahmi Muli Mekhanai Lampung Tengah yang ia dirikan pada 2019 Rosim menghidupkan kembali peran pemuda dalam pelestarian adat, kesenian, dan kebudayaan Lampung.
Forum ini telah menjadi wadah kolektif lintas kampung yang memperkuat solidaritas antar-generasi muda Lampung Tengah.
Menjembatani Akal dan Rasa
Dalam menjalani hidup dan perjuangannya, Rosim meyakini pentingnya menjaga keseimbangan antara akal dan rasa.
Bagi Rosim, akal menjadi pedoman berpikir rasional, sementara rasa menjadi fondasi empati dan keberpihakan kepada yang lemah. Keduanya tak bisa dipisahkan.
Di titik pertemuan keduanya, Rosim menempatkan diri sebagai anak muda yang berpikir, merasa, dan bertindak untuk masyarakat.






