Onetime.id, Bandar Lampung – Perjalanan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes., menuju dunia akademik tidak dimulai dari ruang kuliah megah atau jabatan struktural universitas.
Kariernya justru berawal dari pelayanan kesehatan paling dekat dengan masyarakat puskesmas.
Pada 1996, setahun setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Tarumanagara, Jakarta.
Prof Asep mengawali pengabdiannya sebagai dokter di Puskesmas Rantau Tijang, Lampung.
Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Puskesmas Gadingrejo. Pengalaman itu berlanjut ketika ia menjadi Kepala Puskesmas Linau, Manna, Bengkulu Selatan, pada 2001–2002.
Di tempat-tempat itulah profesi dokter bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat.
Pelayanan kesehatan tidak berhenti pada diagnosis dan resep, tetapi juga menuntut pemahaman terhadap kondisi sosial, keterbatasan fasilitas, serta kebutuhan warga.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Asep sebelum menekuni dunia pendidikan tinggi.
Pada 2002, ia bergabung sebagai dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila).
Sejak itu, ruang pengabdiannya meluas. Dari pelayanan pasien, ia bergerak ke ruang pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu kedokteran.
Menempuh pendidikan hingga meraih predikat cum laude
Asep tidak berhenti pada gelar dokter. Ia melanjutkan pendidikan magister kesehatan dengan peminatan Farmakologi di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, dan menyelesaikannya pada 2009 dengan predikat cum laude serta IPK 3,86.
Empat tahun kemudian, ia meraih gelar doktor Farmako-Onkologi dari kampus yang sama.
Ia menyelesaikan pendidikan doktoral pada 2013 dengan IPK 4,00 dan predikat cum laude.
Dalam riwayat akademiknya, pendidikan doktor tersebut juga tercatat sebagai salah satu masa studi tercepat.
Bidang farmako-onkologi mempertemukan ilmu farmakologi dengan kajian kanker.
Pilihan bidang ini kemudian tercermin dalam sejumlah penelitian yang dikerjakannya, terutama mengenai potensi senyawa alami sebagai antioksidan dan agen antikanker.
Salah satu fokus penelitiannya adalah kopi robusta Lampung.
Bersama tim peneliti, Asep mengkaji peran asam klorogenatdari kopi robusta terhadap sel kanker hati.
Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi potensi komoditas lokal melalui pendekatan ilmu kedokteran.
Ia juga meneliti senyawa dari tanaman jarak pagar, temu kunci, dan berbagai bahan alam lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, biji melinjo menjadi salah satu fokus penelitiannya.
Pada 2024, bersama tim, ia memublikasikan penelitian mengenai aktivitas antioksidan dan efek sitotoksik biji melinjo terhadap sel kanker payudara MCF-7 melalui penelusuran senyawa resveratrol.
Penelitian itu diterbitkan dalam Journal of Pharmacy and Bioallied Sciences. Kajian serupa juga dilakukan untuk mengeksplorasi aktivitas antikanker melinjo terhadap sejumlah lini sel kanker.
Riset tersebut memperlihatkan perhatian Asep terhadap potensi bahan alam Indonesia.
Meski demikian, hasil penelitian laboratorium tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai bukti bahwa bahan tersebut sudah menjadi obat kanker.
Masih diperlukan tahapan penelitian dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan dalam pelayanan klinis.
Dari laboratorium menuju ruang pengabdian
Bagi Asep, aktivitas akademik tidak hanya berkaitan dengan publikasi ilmiah. Riwayat pengabdiannya juga mencatat keterlibatan dalam berbagai program kesehatan masyarakat.
Pada 2020, ia terlibat dalam penguatan posyandu melalui pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan stunting.
Ketika pandemi Covid-19 berlangsung, ia turut mengambil bagian dalam sosialisasi dan penanggulangan pandemi di lingkungan Unila.
Pada 2022, ia terlibat dalam program edukasi mengenai kewaspadaan terhadap bahan kimia obat dalam produk obat tradisional di masyarakat.
Ia juga berkontribusi dalam pendampingan pengolahan bahan alam menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi warga.
Pengabdian itu berlanjut hingga 2024 melalui pendampingan sertifikasi penyuluhan keamanan pangan dan wawasan sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Desa Cipadang, Kabupaten Pesawaran.
Di luar kegiatan akademik, Asep juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi profesi.
Ia pernah menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung selama dua periode, yakni 2015–2018 dan 2018–2022.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan persoalan etik, profesionalisme, dan tata kelola pelayanan kedokteran.
Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI Wilayah Lampung periode 2011–2014.
Ia turut berkecimpung dalam bidang hukum kesehatan dan kedokteran. Sejak 2007, Asep tercatat menjadi konsultan hukum kesehatan dan kedokteran di Kantor Hukum Lakes, Lampung.
Pengalaman mengelola universitas
Pengalaman kepemimpinan Asep tidak hanya berada di lingkungan organisasi profesi.
Di Unila, ia pernah menjabat Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Kedokteran pada 2015–2019.
Pada Januari 2020 hingga Januari 2023, ia dipercaya menjadi Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila.
Jabatan tersebut menempatkannya dalam lingkup pengelolaan institusi yang lebih luas.
Selain memahami persoalan akademik, ia juga bersentuhan dengan tata kelola administrasi, keuangan, serta kebutuhan operasional perguruan tinggi.
Pengalaman itu menjadi salah satu bagian penting dalam rekam jejaknya ketika namanya masuk dalam bursa calon Rektor Unila periode 2027–2031.
Dalam riwayat akademiknya, Asep juga tercatat memiliki sejumlah karya tulis, buku ajar, publikasi ilmiah, serta paten.
Salah satu patennya berkaitan dengan protein berbasis gen miRNA 146A untuk kit diagnostik kanker hepatoseluler yang telah diterapi menggunakan asam klorogenat hasil isolasi kopi robusta.
Ia juga pernah memperoleh penghargaan dosen teladan Unila pada 2013 dan 2014, serta penghargaan dosen berprestasi peringkat kedua tingkat universitas pada 2014.
Penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 tahun pada 2016 dan 20 tahun pada 2021 turut tercatat dalam perjalanan pengabdiannya.
Ujian berikutnya: memimpin kampus
Kini, perjalanan Asep memasuki babak berbeda. Setelah melewati pengalaman sebagai dokter, peneliti, dosen, pimpinan fakultas, dan wakil rektor, ia berada dalam kontestasi kepemimpinan universitas.
Rekam jejak akademik dan birokrasi menjadi modal yang dapat diperhitungkan.
Namun, memimpin perguruan tinggi bukan semata-mata persoalan panjangnya daftar jabatan atau banyaknya publikasi ilmiah.
Perguruan tinggi membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga integritas akademik, memperkuat kualitas riset, meningkatkan pelayanan pendidikan, serta memastikan tata kelola berjalan secara transparan dan akuntabel.
Di titik inilah perjalanan Asep Sukohar mendapatkan makna baru.
Pengalaman panjangnya di bidang kesehatan dan pendidikan tinggi akan berhadapan dengan tantangan yang lebih besar bagaimana menerjemahkan pengalaman individual menjadi kemajuan institusi.
Dari puskesmas hingga ruang rektorat, lintasan karier itu menunjukkan perjalanan pengabdian dalam dua dunia yang saling berhubungan, pelayanan kepada masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun, rekam jejak masa lalu bukanlah jaminan keberhasilan masa depan.
Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan seorang akademisi bukan hanya apa yang pernah dicapai, melainkan perubahan nyata yang mampu ia hadirkan bagi kampus dan masyarakat.
Prof Asep semoga bisa menjawab semuanya dengan tenang, tidak gaduh mengambil keputusan dan menjadikan RS PTN Unila menjadi langkah baru Unila kedepan.






